RADAR BLITAR - Pembalap tim Ducati Lenovo Team, Marc Marquez menunjukkan kecerdikan luar biasa saat menjuarai seri MotoGP Thailand 2025. Pembalap asal Spanyol itu menggunakan strategi unik dengan sengaja memperlambat motornya dan membiarkan sang adik, Alex Marquez, menyalip lebih dulu sebelum akhirnya merebut kembali kemenangan di lap-lap akhir.
Balapan yang berlangsung di Sirkuit Chang International Circuit tersebut sempat membuat penonton dan tim bertanya-tanya ketika Marc Marquez tiba-tiba mengurangi kecepatan di tengah dominasi yang ia tampilkan sejak awal lomba.
Padahal sejak start, Marquez tampil sangat kuat. Ia memulai balapan dari pole position dan langsung melakukan start sempurna yang membuatnya memimpin lomba sejak tikungan pertama. Dalam beberapa lap awal, ia bahkan mampu membuka jarak sekitar 1,5 detik dari para pesaingnya, termasuk Alex Marquez yang berada di posisi kedua.
Namun situasi berubah drastis pada lap ketujuh. Saat keluar dari tikungan ketiga, Marquez tiba-tiba memperlambat motornya. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Alex Marquez untuk menyalip dan mengambil alih posisi terdepan.
Peringatan Tekanan Ban Jadi Penyebab
Awalnya banyak pihak menduga motor Marquez mengalami masalah teknis. Namun setelah balapan usai, terungkap bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi cerdas.
Marquez memperlambat laju motornya karena mendapat peringatan tekanan ban depan yang muncul di dashboard motornya. Dalam regulasi terbaru MotoGP, tekanan ban menjadi faktor yang sangat penting dan harus dipatuhi oleh semua pembalap.
Aturan tersebut menetapkan tekanan ban depan minimal 1,8 bar dan tekanan ban belakang minimal 1,68 bar. Selain itu, tekanan ban minimal tersebut harus dipertahankan setidaknya selama 60 persen dari total lap dalam balapan utama.
Jika pembalap tidak memenuhi ketentuan tersebut, maka mereka akan mendapatkan penalti waktu hingga 16 detik. Hukuman ini bisa membuat pembalap yang sebenarnya finis pertama justru turun beberapa posisi di klasemen akhir.
Karena itulah Marquez memilih strategi aman dengan membiarkan Alex Marquez memimpin balapan sementara waktu.
Taktik Slipstream untuk Menaikkan Tekanan Ban
Setelah membiarkan sang adik memimpin, Marquez kemudian berada tepat di belakangnya selama beberapa lap. Posisi ini membuat suhu dan tekanan ban depannya meningkat karena mengikuti aliran udara dari motor di depannya.
Strategi ini dikenal sebagai slipstream atau mengikuti pembalap di depan untuk mendapatkan efek aerodinamis sekaligus membantu menjaga kondisi ban tetap dalam batas regulasi.
Langkah tersebut terbukti efektif. Setelah beberapa lap mengikuti Alex, tekanan ban depan Marquez kembali berada dalam batas aman sesuai regulasi.
Begitu yakin kondisinya sudah stabil, Marquez langsung meningkatkan tempo balapan.
Serangan di Lap-Lap Terakhir
Memasuki tiga lap terakhir, Marc Marquez mulai melancarkan serangan. Dengan kecepatan yang kembali maksimal, ia berhasil menyalip Alex Marquez dan merebut kembali posisi terdepan.
Setelah itu, ia langsung membuka jarak dan mempertahankan keunggulan hingga garis finis.
Marc Marquez akhirnya memenangkan balapan dengan selisih sekitar 1,7 detik dari Alex Marquez yang harus puas di posisi kedua.
Kemenangan tersebut semakin mempertegas reputasi Marquez sebagai salah satu pembalap paling cerdas di lintasan MotoGP. Ia bukan hanya cepat, tetapi juga mampu membaca situasi teknis balapan dengan sangat baik.
Strategi ini sekaligus menunjukkan bahwa balapan MotoGP tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga tentang manajemen ban, strategi, serta kemampuan mengambil keputusan dalam hitungan detik.
Bagi para penggemar MotoGP, aksi Marquez di Thailand 2025 menjadi bukti lain mengapa ia sering dijuluki sebagai salah satu pembalap paling cerdas dan berbahaya di lintasan balap dunia.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina