BLITAR - Bagi Lilik Lestari, Sambal menjadi menu wajib yang harus ada dalam menu makanan sehari-hari.
Terutama cita rasa pedas dan asin. Hal itu lantas membuatnya berkreasi untuk menciptakan aneka olahan sambal sejak 2018 lalu. Yakni, dipadukan dengan ikan pedo.
“Awalnya saya masak buat keluarga dan katanya enak. Besoknya, saya buat agak banyak dan dibagikan ke tetangga. Ternyata banyak yang suka dan usul untuk dijual,” katanya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Senin (11/12/2023)
Karena banyak perminat, warga Kelurahan Klampok, Kecamatan Sananwetan ini mulai memproduksi sambal pedo dengan jumlah yang lebih banyak.
Untuk penjualan dititipkan di tukang sayur yang selalu berkeliling di lingkungan Kelurahan Klampok. Dari situlah, peminat sambal pedo miliknya semakin bertambah.
Akhirnya, Lilik berinovasi dengan menambah varian sambal. Yakni, cumi, tuna dan teri. Olahan sambal itu diolah secara manual agar tidak menghilangkan cita rasa khas masakan rumahan. Olahan sambal itu dijual dengan harga Rp25 ribu.
Saat ini Lilik sedang mempersiapkan pengiriman sambal ke luar negeri. Yakni, Thailand dan Dubai. Berdasarkan hasil kurasi yang diadakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) sambal buatannya didominasi dengan rasa pedas dan asin.
Sehingga, cocok dengan lidah masyarakat Thailand. Namun sebelumnya, Lilik mengaku sudah pernah mengirim produk olahan sambal ke Turki, tetapi terhenti karena Pandemi Covid-19.
“Dulu pernah kirim ke Turki dan Mesir. Karena Covid, dan karyawan saya juga ada yang sakit akhirnya berhenti.
Alhamdulillah dapat fasilitas dari Disperindag lolos kurasi ke Thailand dan Dubai,” bebernya.***
Editor : Doni Setiawan