Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Berkunjung ke Makam Syekh Subakir, Tokoh Ulama yang Ajarkan Kebersamaan, Peziarah dari Berbagai Kalangan, Ramai Dikunjungi Jelang Ramadan

Mohammad Syafi'uddin • Rabu, 31 Januari 2024 | 17:58 WIB
ZIAROH MAKAM: Seorang pengunjung berziarah di makam Syekh Subakir, Selasa (30/1). Makam ulama itu sering menjadi jujukan peziarah dari berbagai daerah.
ZIAROH MAKAM: Seorang pengunjung berziarah di makam Syekh Subakir, Selasa (30/1). Makam ulama itu sering menjadi jujukan peziarah dari berbagai daerah.

 

BLITAR - Makam tokoh ulama yang dipercaya sebagai penumbal tanah Jawa tersebut masih menjadi magnet para peziarah dari berbagai daerah.

Ketika mendekati momen Ramadan, makam tersebut selalu diserbu peziarah. Jumlahnya bisa mencapai ratusan dalam sehari.

Menurut juru kunci makam yang akrab disapa Kang Din Gondrong, Syekh Subakir merupakan sosok yang menumbali tanah Jawa.

”Maksudnya, siapa pun yang datang di tanah Jawa, tidak lama akan meninggal. Maka itu, atas suruhan Raja Muhammad dari Kerajaan Persia, Syekh diutus pergi ke tanah Jawa untuk membersihkan dari pengaruh buruk makhluk halus,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Selasa, (30/1).

Kang Din tak menampik banyak versi cerita terkait Syekh Subakir yang beredar. Pasalnya, sosok tersohor ini merupakan tokoh yang ada pada ribuan tahun silam. Waktu yang terbilang cukup lama, bahkan sebelum era kerajaan ataupun era Wali Sanga.

“Nah, setelah ditumbali itu, baru tanah Jawa bisa ditempati oleh manusia. Bahkan, Wali Sanga itu ibaratnya sudah cucu, jaraknya sudah lama sekali,” katanya.

Dia menuturkan, awal mula Syekh Subakir datang, tanah Jawa belum bisa diduduki. Kala itu, tanah Jawa hanyalah berupa rimbunan hutan dan jin.

Atas dasar ini, dia pulang ke Persia untuk mengambil barang tertentu dan kembali ke Jawa. Barang itu diambil dari Arab, India, dan Cina.

Semasa hidup, Syekh Subakir tidak meninggalkan ajaran khusus kepada umatnya kala itu. Jejak warisan yang ada hanya berupa batu tempat untuk bersujud ketika menunaikan salat.

Warisan itu sebagai pengingat bahwa manusia harus selalu ingat kepada penciptanya dan tidak meninggalkan ibadah.

“Kalau ajarannya, saya yakin sama dengan ahli ulama ataupun kiai. Yang mengajarkan guyub rukun serta bagaimana cara menghadapi orang agar tetap terjalin hubunganya. Ya seperti itu, tidak ada yang lain,” ujarnya.

Dia juga menceritakan, kendati banyak informasi yang mengatakan bahwa Syekh Subakir pulang ke Persia, yang dia ketahui bahwa beliau hanya putar balik dan tetap menentap di tanah Jawa hingga akhir hayat.

Kepercayaan ini semakin kuat ketika Gus Dur sempat memberikan jawaban ketika ditanyai pertanyaan serupa.

Dalam kesempatan tersebut, presiden RI keempat itu hanya memberikan jawaban bahwa dia tidak berani cerita.

Namun, dari semakin banyaknya makam Syekh Subakir di berbagai tempat, perwujudannya tetap sama dengan yang asli.

Makam Syekh Subakir juga menjadi jujukan ziarah para tokoh ulama ternama. Khususnya dari kalangan NU seperti Gus Dur dan Gus Miek.

“Seperti Gus Dur, beliau sering ziarah ke makam ini. Biasanya datang saat malam hari,” ungkapnya.

Peziarah yang datang pun tidak sekadar dari kalangan umat Islam. Namun, kata Kang Din, juga datang dari kalangan nonmuslim atau umat agama lain.

Diantaranya dari penganut Kejawen, Katolik, Kristen, Hindu, hingga Buddha. Sebagian dari pengunjung berasal dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Amerika, dan Jepang. (*/c1/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Syekh Subakir #Kabupaten Blitar #blitar #tokoh ulama #makam