Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menikmati Olahan Sirup Jahe Warga Kelurahan Bendo Kota Blitar, Pertahankan Resep Keluarga, Faktor Hujan Pengaruhi Rasa

Mila Inka Dewi • Selasa, 20 Februari 2024 | 15:59 WIB
NIKMAT: Debby Fitri Novia Dewi menyeduh sirup jahe merah produksinya, Senin (19/2).
NIKMAT: Debby Fitri Novia Dewi menyeduh sirup jahe merah produksinya, Senin (19/2).

BLITAR - Jahe dikenal sebagai tanaman herbal yang banyak manfaat. Biasanya digunakan sebagai bumbu masakan hingga wedang jahe. Kini, juga bisa dinikmati dalam bentuk sirup.

Untuk menikmatinya, sirup jahe merah ataupun bubuk buatan warga Kota Blitar ini, bisa langsung diseduh dengan air panas. Takarannya, bisa disesuaikan dengan selera. Selain disajikan secara hangat bisa juga disajikan dengan air es. Hanya saja warna yang dihasilkan akan berbeda.

"Kalau menggunakan air es warnanya jadi kecoklatan. Sedangkan jika menggunakan air hangat atau panas berwarna kemerahan," Kata produsen olahan sirup jahe merah asal Kota Blitar, Debby Fitri Novia Dewi, Senin (19/2).

Tim Jawa Pos Radar Blitar berkesempatan untuk menikmati seduhan sirup jahe merah. Rasanya tidak jauh beda dengan wedang jahe biasa. Hanya lebih manis dan nikmat karena perpaduan dari berbagai rempah. Cocok dinikmati kala hujan karena menimbulkan sensasi hangat di tubuh.

Debby bercerita sudah mulai memproduksi olahan Jahe merah sejak 2010. Berawal dari sang nenek yang ikut kegiatan pelatihan dari pemerintah di tingkat RT/RW. Kebetulan materi waktu tentang olahan sirup jahe merah.

Kemudian hasil pelatihan itu dikembangkan. Ketika momen lebaran Idul Fitri sirup jahe merah dijadikan sebagai salah satu suguhan. Disandingkan dengan jajanan khas lebaran lainnya. Dari situlah, sirup jahe merah mulai banyak penikmat.

"Akhirnya mulai berani untuk produksi dalam jumlah banyak. Awalnya ditawarkan kepada saudara dan mulut ke mulut. Alhamdulillah sekarang jadi salah satu produk unggulan UMKM Kota Blitar, khususnya Kelurahan Bendo," beber warga Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul ini.

Awal produksi, lanjut dia, hanya berupa sirup jahe merah. Selang 5 tahun kemudian mencoba mengolah produk jahe merah versi bubuk. Dengan bahan baku yang sama tetapi berbeda bentuk, yakni serbuk jahe.

Yang membuat terasa nikmat adalah menggunakan dua jenis jahe. Yakni, jahe emprit dan jahe merah. Selanjutnya ditambah daun pandan, serai, dan kayu secang. Kemudian gula putih sebagai pengawet alami. "Itu juga yang membuat sirup menjadi kental," sambung perempuan 27 tahun ini.

Proses pembuatan dibagi menjadi dua tahap. Hari pertama pembuatan hingga perendaman sirup. Keesokan hari baru bisa dikemas. Sebab, sirup harus dibiarkan semalaman untuk memisahkan kandungan sirup dan endapan jahe.

Jahe dikupas bersih dan diparut. Kemudian, direbus selama kurang lebih 4 jam. Selanjutnya, direndam sampai ada endapan. Yang dipakai untuk membuat sirup airnya bukan endapan.

Sementara itu, limbah endapan dicampur dengan ampas jahe dan dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Menurutnya, sebenarnya endapan rebusan  jahe itu masih bisa dimanfaatkan. Justru sisa parutan dan endapan tersebut memiliki kandungan rasa jahe yang kuat.

Biasanya endapan bisa digunakan sebagai campuran pembuatan roti atau kue yang memiliki variasi rasa jahe. Misalnya, kue sempit atau opak gambir. "Sementara limbah itu kami manfaatkan untuk pakan ternak. Karena belum ada orang yang menerima atau mengolah limbah endapan itu," bebernya.

Sedangkan proses pembuatan jahe merah bubuk hampir sama dengan sirup jahe. Hanya bubuk jahe pembuatannya lebih minim air. Itu supaya bisa cepat kering karena berbentuk serbuk. Semua bahan direbus menggunakan wajan sampai berbusa selama kurang lebih 3 jam.

Semua dilakukan secara handmade. Dibantu dengan 3 orang yang berasal dari warga sekitar. Sekali produksi bisa menghasilkan 50 botol sirup jahe merah. Dengan takaran 14 kilogram jahe dan 40 kilogram gula pasir. Produksi dilakukan 1-2 minggu sekali. Tergantung banyaknya pesanan. "Kalau ramai pesanan bisa seminggu sekali," ujarnya.

Menurut dia, gula yang dipilih justru berwarna gelap atau kecokelatan karena lebih terasa manis. Sementara untuk bahan baku jahe merah selama ini dibeli dari tengkulak yang sudah menjadi langganan.

Untuk pemasaran, Debby memanfaatkan penjualan secara online dan offline. Yakni, melalui market place dan dititipkan ke toko atau warung. Selain di wilayah lokal, produk jahe merah laku hingga luar kota. Seperti Malang, Banyuwangi, Surabaya, Makasar, Sumatera, hingga Bali. Sedangkan luar negeri Hongkong dan Taiwan.

Selama ini Debby mengaku tetap mempertahankan resep keluarga. Inovasi dilakukan dari sisi packaging agar penampilan lebih cantik dan menarik konsumen. Di sisi lain, juga upaya melengkapi berbagai persyaratan legalitas produk.

Meski begitu, mengolah jahe merah tidak melulu berjalan mulus. Pasti ada kendala yang menghadang. Kendala itu berupa cuaca. Ketika musim penghujan bisa mempengaruhi rasa jahe khususnya jahe emprit. “Rasanya jadi kurang pedas,” katanya.

Komentar semacam itu dilontarkan langsung dari konsumen. Merasa merasa ada yang berbeda dari minuman berbahan jahe emprit tersebut. Padahal takaran yang digunakan tidak berubah. "Ya, ini karena faktor alam kita juga tidak bisa memprediksi. Untuk takarannya tetap. Tidak ditambah atau dikurangi," ujarnya.

Harga jual untuk sirup jahe merah ukuran 500 ml Rp 40 ribu. Sementara untuk jahe merah bubuk ukurang 250 gram seharga Rp 30 ribu. Kemudian Rp 60 ribu untuk ukuran 500 gram. Sekali produksi bisa menghasilkan omzet sekitar Rp 10 juta per bulan. (*/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#jahe #sirup #Kota Blitar