BLITAR - Petani di Bumi Bung Karno utamanya di Kota Blitar menelan kenyataan pahit sepanjang tahun lalu. Pasalnya, produksi padi mengalami penyusutan signifikan. Sementara memasuki awal tahun ini, harga beras terus merangkak naik imbas fenomena El Nino.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar drh Dewi Masithoh membenarkan adanya penurunan produksi padi, kemarin (26/2). Kondisi itu terjadi akibat kemarau panjang yang terjadi sejak pertengahan 2023 lalu hingga awal tahun ini. Tak pelak kondisi ini memengaruhi produktivitas padi di kalangan petani.
"El Nino masih berdampak pada produksi petani padi di wilayah Kota Blitar. Kondisi iklim dan tanah kering tentu sulit untuk padi bisa tumbuh optimal," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar.
Berdasarkan data pertanian, produksi padi di Kota Blitar pada 2022 mencapai 10.191 ton dengan tingkat produktivitas 9,61 ton per hektare (ha).
Jumlahnya pada 2023 menyusut. DKPP mencatat, produksi padi susut menjadi 8.169 ton. Produktivitas padi juga melandai sekira 8,19 ton per ha.
Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi DKPP dan petani, utamanya dalam meningkatkan produksi padi. Dengan begitu, dapat meminimalisasi disparitas kuantitas hasil panen yang terjadi dalam dua tahun terakhir.
"Kalau terkait kecukupan di daerah, masih cukup. Kita juga ada daerah penyangga. Jadi masih bisa membantu," katanya.
Faktor utama penyebab menurunnya produksi padi dipicu kekeringan lahan pertanian akibat kemarau panjang. Padahal, air yang melimpah menjadi kebutuhan petani saat musim tanam padi tiba.
Praktis, selama hujan belum turun, petani urung bisa menanam padi. "Musim tanam menjadi mundur," paparnya.
Kendati demikian, dinas menyebut tidak ada petani yang gagal panen. Untuk antisipasi menghadapi kekeringan, dia meminta petani mengoptimalkan penggunaan pupuk organik untuk mengembalikan kesuburan tanah. Selain itu, perlu arang sekam yang berfungsi mengikat kadar air dan menjadi cadangan ketika kemarau.
"Harapannya kembali ke alam. Gunakan arang sekam, pupuk organik, sehingga nilai ekonomi bisa lebih bagus. Mengurangi amina, karena itu dapat mengeraskan tanah," tandasnya.
Sekadar diketahui, harga beras di pasaran mengalami kenaikan dalam sebulan terakhir. Di Pasar Pon, pada Januari lalu, beras kualitas biasa dijual Rp 11 ribu per kg, lalu pada akhir Februari ini naik menjadi Rp 15 ribu per kg.
Beras kualitas sedang naik menjadi Rp 15.500 per kg dari sebelumnya Rp 12 ribu per kg. Kemudian, beras kualitas bagus dibanderol Rp 15.900 per kg dari sebelumnya di harga Rp 13 ribu per kg. (luk/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila