Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Desa di Blitar Ini Gelar Kesenian Tiban, Pertarungan Aksi Cambuk Jadi Ajang Silaturahmi Bagi Pemain

Fajar Rahmad Ali Wardana • Senin, 6 Mei 2024 | 19:00 WIB

 

EKSTREM: Dua pemain tiban bertukar cambukan di lapangan Desa Sumber kemarin (5/5).
EKSTREM: Dua pemain tiban bertukar cambukan di lapangan Desa Sumber kemarin (5/5).

BLITAR - Biasanya kesenian tiban hanya ada ketika musim kemarau. Kendati begitu, puluhan pencinta kesenian ekstrem ini tampak semringah usai bertukar pukulan menggunakan pecut alias cambuk dengan lawannya di lapangan Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, Minggu (5/5/2024). Konon, kegiatan itu sengaja dilakukan untuk melestarikan kesenian sekaligus sarana silaturahmi.

Masyarakat Desa Sumber juga tampak antusias memenuhi lapangan sejak pukul 13.00 WIB. Mereka mengerumuni panggung tiban yang berada di tengah lapangan.

Ukuran panggung tersebut cukup besar dengan luas sekitar 3x3 meter. Panitia menyediakan helm untuk para peserta tiban ini.

Aksi saling pecut ini dilakukan secara bergantian dengan durasi tidak sampai 5 menit. Tiap pemain diberi kesempatan memukul sebanyak tiga kali. Pemain dibolehkan untuk berganti pecut yang disediakan oleh panitia.

Zaenal Keriting, pemain tiban asal Kecamatan Ngunut, Tulungagung, terlihat berdarah pada lengannya usai tandingan tersebut. Meski begitu, luka itu sudah biasa baginya.

“Saya tidak pernah latihan. Bahkan untuk pertandingan tiban di Desa Sumber ini tidak ada persiapan khusus. Saya juga main pencak dor. Harus persiapan fisik. Kalau tiban tidak harus persiapan, ya langsung berangkat saja,” kata Zaenal.

Dia mengaku membawa pecut sendiri dari rumah, lalu diserahkan ke panitia untuk disimpan di atas panggung. Dengan begitu, pecut tersebut dapat digunakan oleh siapa saja, termasuk digunakan Zaenal ketika bertanding.

Laki-laki 40 tahun itu memang sengaja datang ke Blitar untuk mengikuti tiban. Dia sudah dua tahun aktif di kesenian ini. Bertanding dari satu panggung ke panggung yang lain, yakni Blitar dan Tulungagung.

“Saya mengikuti kesenian tiban ini memang murni untuk melestarikan kesenian. Zaman dulu, kesenian tiban ini ditujukan untuk meminta hujan. Namun sekarang ada paguyuban tiban sehingga bisa dilakukan setiap saat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Tiban Kabupaten Blitar, Edi Eni mengatakan, ada ribuan peserta yang ikut dalam kesenian tiban ini. Bertanding secara bergantian setelah tiga cambukan.

Helm juga diwajibkan untuk dipakai secara bergantian oleh pemain tiban, khususnya yang berada di posisi bertahan.

“Dalam tiban ini, tidak ada yang menang dan kalah. Selain melestarikan kesenian, ini juga ajang silaturahmi antarpaguyuban,” pungkasnya. (jar/c1/hai)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #kesenian tiban #silaturahmi