Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Waspadai Potensi Bencana, Berikut 10 Kecamatan di Kabupaten Blitar Rawan Tanah Longsor Menurut PSMB UPNVB

Fajar Ali Wardana • Rabu, 3 Juli 2024 | 22:00 WIB
TERKUMPUL: Puing-puing kandang ayam milik Gunawan dikumpulkan seiring proses evakuasi tanah longsor di Desa Bumirejo, Kecamatan Kesamben.
TERKUMPUL: Puing-puing kandang ayam milik Gunawan dikumpulkan seiring proses evakuasi tanah longsor di Desa Bumirejo, Kecamatan Kesamben.

BLITAR – Longsor yang terjadi di Desa Bumirejo, Kecamatan Kesamben, pada akhir bulan lalu berada di bawah tebing yang rawan longsor. Beberapa wilayah lain di Bumi Penataran juga memiliki karakter sama dan berpotensi tanah gerak.

Hal itu diungkapkan Koordinator Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta (UPNVY), Dr Ir Eko Teguh Paripurno.

Dia mengatakan, Kabupaten Blitar merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak titik longsor. Hal itu lazim dimiliki oleh daerah yang berada di lereng gunung api. Menurutnya, longsor dipengaruhi oleh faktor pengontrol dan pemicu.

Faktor pengontrol dilihat dari sisi geologi dan morfologi. Segi geologi ini dipengaruhi kondisi alur sungai, lapukan tebal, kemiringan yang curam, dan batuan lepas.

Tempat yang punya sifat-sifat tersebut cenderung rawan gerakan tanah. Apalagi ketika pengelolaannya tidak adaptif terhadap potensi bahaya bencana longsor.

Dari sisi morfologi, sambung dia, dipengaruhi ketebalan struktur tanah, kemiringan lereng, dan struktur batuan. Itu jadi kontrol gerakan tanah. Sementara Kabupaten Blitar, posisinya ada daerah yang cenderung tinggi menengah dan dataran rendah yang menjadi langganan banjir.

“Saya melihat dari peta rupa bumi dan geologi, terlihat daerah atau kecamatan berpotensi tinggi tanah gerak di antaranya di Kecamatan Bakung, Doko, Gandusari, Kesamben, Nglgeok, Kademangan, Selorejo, Sutojayan, Wates, dan Wlingi. Hampir semuanya, tapi hanya beberapa titik yang berada di kemiringian curam, lebih lapuk, dan ada batuan lepas,” ungkap Eko.

Menurutnya, ada faktor pemicu longsor dan tanah bergerak. Secara alami adalah hujan. Tanah yang semula stabil menjadi jenuh air karena hujan di suatu titik dan dalam waktu lama.

Tidak hanya itu, permukiman yang padat juga memengaruhi beban menjadi pemicu longsor. Selain itu, gerakan kendaraan dan gempa juga menjadi pemicu longsor.

Eko menyebut, kejadian longsor itu tidak harus disebut bencana. Karena longsor hanya berdampak pada kandang ayam dan hanya beberapa orang yang meninggal dunia.

Gejala alam bisa disebut bencana bila masyarakat tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Seperti banjir bandang, gempa bumi berskala besar, gunung meletus, dan lainnya.

“Lokasi yang aman dari longsor yakni tempat yang stabil dan landai di bebatuan yang tidak lapuk dengan kestabilan yang bagus. Tentu masyarakat harus paham bangunan yang aman dari bencana agar terhindar dari maut,” tuturnya.

Sementara itu, hingga saat ini, satu korban yakni Gunawan yang merupakan pemilik kandang ayam  masih tertimbun material longsor. Saat ini, proses pencarian korban dilakukan secara manual karena alat berat yang diterjunkan ke lokasi terjebak di lumpur sejak Senin (1/Juli/2024) sore.

"Proses pencarian satu korban masih berlanjut hari ini. Pencarian dilakukan secara manual dengan menyemprotkan air dan mencangkul. Prosesnya disisir dari bawah untuk antisipasi longsor susulan.

Karena dua unit alat berat terjebak dalam lumpur di lokasi. Selain itu, berusaha mengangkat alat berat untuk digunakan kembali,” kata Kalaksa BPBD Kabupaten Blitar, Ivong Bettryanto.

Untuk diketahui, ada empat orang yang tertimbun tanah longsor di Dusun Sukorejo, Desa Bumirejo, Kecamatan Kesamben, pada Minggu (30/Juni/2024).

Hanya satu orang yang selamat dari total empat warga terdampak tanah longsor ini.

Warga selamat yaitu Dwi Antoko atau Anto, 22. Sementara tiga orang lainnya yang tertimbun longsor yakni Gunawan, 45; Mugiono, 58; dan Jarianto, 62.  Mugiono dan Jarianto sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.  Namun, Gunawan diduga masih tertimbun material tanah longsor dan sampai sekarang belum ditemukan. (jar/c1/hai)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #bencana alam #tanah longsor