Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Standar Permintaan Tinggi, Produk UMKM di Kota Blitar Sulit Tembus Pasar Luar Negeri, Juyanto: Harus Perhatikan Hal Ini

Muhamad Ilham Baha’udin • Minggu, 14 Juli 2024 | 23:17 WIB
POTENSI EKONOMI: Produk UMKM warga Kota Blitar yang dipamerkan dalam kegiatan APEKSI, kemarin (12/5)
POTENSI EKONOMI: Produk UMKM warga Kota Blitar yang dipamerkan dalam kegiatan APEKSI, kemarin (12/5)

BLITAR - Ternyata baru belasan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Blitar yang menembus pasar internasional.

Diduga, itu disebabkan oleh kondisi UMKM yang masih kembang kempis untuk bisa memenuhi target permintaan ekspor.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja (Dinkop, UM, dan Naker) Kota Blitar, Juyanto menegaskan, dalam kegiatan ekspor harus memperhatikan beberapa hal.

Di antaranya, kemampuan produksi dari pelaku usaha dalam jangka waktu tertentu serta daya tahan produk. 

Menurut dia, proses akurasi dan standarisasi produk untuk kegiatan ekspor bukanlah hal yang mudah.

Pasalnya, ada standar kualitas dan jumlah yang ditentukan dalam proses ekspor ketika sudah melakukan tanda tangan kontrak. 

“Misalnya, dalam seminggu mampu produksi berapa, dari sana mintanya 1 ton. Nah, ternyata produksinya kurang dari 1 ton, kan ini risikonya juga tinggi,” jelasnya pada Jawa Pos Radar Blitar.

Belasan UMKM di Bumi Bung Karno yang telah melakukan kegiatan ekspor ini masih menerapkan sistem parsial.

Artinya, ekspor yang dilakukan belum secara penuh, melainkan kerja sama dengan pihak lain. 

Terutama dalam hal proses pengiriman barang ke luar negeri. Sebab, jumlah barang yang dikirimkan hingga kini masih dalam skala kecil sehingga perlu menggandeng pihak lain.

Dia mengaku, sistem parsial ini memberikan sejumlah keuntungan untuk melakukan ekspor dalam skala kecil.

Salah satunya, UMKM bahkan bisa menembus lima pasar internasional walaupun masih menggunakan sistem parsial ini.

“Kalau yang diekspor belum banyak kan biayanya juga lebih mahal. Sehingga, untung tidak sepadan dengan operasional,” jelasnya.

Sistem tersebut, jelas dia, menjadi embrio untuk pengembangan ekspor UMKM di Blitar dalam skala lebih besar lagi.

Dengan begitu, UMKM yang ingin menembus pasar internasional diharapkan bisa memiliki izin ekspor tersendiri.

“Kami siap memberikan pelayanan dan pendampingan pada pelaku UMKM yang ingin produknya mendunia,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya terus mengusahakan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar agar bisa menjadi pendamping atau menggandeng UMKM. Ditambah lagi, ada Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). 

“Pelaku UMKM juga jangan segan tanya atau sharing dengan UMKM yang skalanya lebih besar. Dengan begitu, tentu dapat menambah wawasan ataupun bisa berkolaborasi,” pungkasnya. (mg1/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#pasar internasional #UMKM #Kota Blitar