BLITAR - Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Proklamator Bung Karno kembali menggelar kegiatan mewujudkan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Kali ini, kegiatan literasi ini difokuskan dengan pelatihan dan pendampingan profesi barbershop yang dianggap makin menjamur saat ini.
Seperti kegiatan literasi sebelumnya, program khusus perpustakaan nasional ini dipusatkan di Auditorium Soekarno, lantai 3 Perpustakaan Proklamator Bung Karno.
Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari dimulai sejak Selasa (20/8/2024) hingga Kamis (22/8/2024).
Literasi Barbershop atau juga akrab dengan sebutan profesi kapster ini diikuti oleh 100 peserta yang berhasil terpilih secara online.
Adapun narasumber didatangkan ahli di bidang hairstylist dari Jena Barbershop Academy (JBA), dari Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.
Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Nurny Syam mengatakan, kegiatan ini merupakan wujud dari amanat salah satu Tri Sakti Bung Karno, yakni Kemandirian Ekonomi.
Salah satu contohnya melalui inklusi sosial yang dikemas dalam bentuk Literasi Barbershop. Karena pada dasarnya, memangkas rambut tidak hanya soal teknik yang sudah dimiliki, tapi juga seni bagaimana menata rambut dengan karakteristik bentuk wajah, kepala, dan jenis rambut yang berbeda-beda.
“Kegiatan ini diharapkan dapat mengembangkan potensi dalam bidang profesi barber yang tidak hanya sebagai stylist saja, tapi juga menjadi kebutuhan. Melalui literasi ini, nantinya dapat mewujudkan kemandirian ekonomi di masyarakat,” ungkapnya, saat membuka kegiatan literasi ini.
Narasumber dari JBA, Venan menegaskan, barber merupakan profesi yang sudah ada sejak zaman kerajaan dan menjadi salah satu profesi yang prestisius, yang tergantung dari kemampuan seorang barber itu sendiri.
Salah satu goals yang ingin dicapai pada literasi tersebut yakni dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui usaha barbershop.
“Tidak hanya mempersiapkan generasi yang sudah memiliki potensi pengetahuan dan wawasan, tapi juga praktik mengimplementasikan sebuah karya. Hal ini ditujukan kepada peserta untuk dapat meningkatkan kesejahteraan melalui literasi ini”, terangnya kepada Koran ini, Kamis (22/8/2024).
Selama tiga hari mengikuti kegiatan literasi, para peserta menerima sejumlah materi pelatihan tentang bagaimana secara materi dan teknik di dalam dunia barbershop.
Di hari pertama, materi tentang sejarah profesi barber, yang merupakan pekerjaan yang mengharuskani pekerjanya untuk menguasai skill keseluruhan yang ada atau disebut profesi one man show.
Kemudian, pada hari kedua, peserta diajarkan tentang teknik komunikasi branding, marketing, hingga manajemen untuk pelaku usaha di bidang barbershop.
Pada hari terakhir, peserta diperlihatkan styling pada rambut atau hasil akhir dari memotong rambut sehingga menghasilkan karya yang indah.
Seluruh peserta terlihat antusias mengikuti pelatihan barbershop ini. Salah satu peserta,Nur Efendi, mengaku sangat tertarik mendalami profesi ini. Selain sangat bermanfaat untuk membuka usaha baru, juga bisa memperdalam ilmu dan wawasan.
“Ini sangat menarik. Pelatihan seperti ini mampu meningkatkan potensi diri, membuka relasi dan keilmuan baru di bidang barber. Saya berharap akan rutin digelar setiap tahun.
Sebab, pelatihan semacam ini sangat bermanfaat dan membantu masyarakat untuk mengembangkan potensinya. Apalagi ditambah dengan sertifikasinya, bisa menjadi bekal untuk para pelaku usaha,” bebernya (guh/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila