BLITAR - Kolaborasi antara Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Polkesma) Program Studi D-3 Keperawatan (Kampus 3 Blitar) dan Pemerintah Desa Jimbe masih terus berlanjut.
Selasa (17/9/2024), mereka memberikan tiga pelatihan dengan teknik nonfarmakologi untuk pencegahan hipertensi.
Ada sekitar 15 kader Desa Jimbe yang menjadi sasaran. Mereka diberikan keterampilan mencegah hipertensi dengan pijat punggung metode eflurasi, pijat kaki dengan massage plantar, dilanjutkan senam kombinasi gerakan tangan (kogerta).
Peserta dibagi menjadi tiga kelompok kecil. Masing-masing kelompok mendapatkan materi secara bergiliran.
Yakni, pijat punggung oleh Tri Cahyo sebagai dosen Polkesma yang mendalami pembuluh jantung dan darah, sedangkan untuk pelatihan massage plantar atau pijat kaki diisi oleh Agus Choirul Anam selaku staf dosen Polkesma.
Lalu, diakhiri dengan senam kogerta bersama Sekretaris Pengabdian Masyarakat (Pengabmas) Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Mujito A Per Pen MKes.
“Teknisnya untuk pelatihan massage plantar dan leher ini menggunakan alat dengan bola-bola kayu. Alat tersebut disusun dengan dua shaft dan kaki dimasukkan di antara alat pijat itu. Sebelum dimasukkan, diberi pelumas baby oil. Telapak kaki digerakkan maju mundur,” ujar Agus Choirul Anam, staf dosen Polkesma.
Melalui massage plantar dan leher ini diharapkan punggung dan telapak kakinya dapat terpijat oleh bola. Pijatan telapak kaki ini untuk menambah rangsangan titik saraf, pembuluh darah, dan jantung. Lalu, pijatan pada punggung kaki untuk memperlancar peredaran darah.
Tidak hanya itu, pengendalian tekanan darah untuk pencegahan hipertensi juga dilakukan dengan metode eflurasi.
Menurut Tri Cahyo, hal itu baik untuk meningkatkan sirkulasi darah yang berdampak pada rileksasi pasien. Dengan begitu, penyakit komplikasi dapat dicegah dengan penurunan tekanan darah ini.
Baca Juga: Alami Perubahan, Kemampuan P-APBD Kabupaten Blitar Naik Menjadi Rp 129 M, Ini Kata BPKAD
“Pijat punggung ini mudah dan semua orang bisa melakukan. Meskipun begitu, pasien hipertensi juga harus minum obat. Namun harus diimbangi dengan kegiatan fisik seperti olahraga dan juga pijat punggung ini salah satunya,” tutur Tri Cahyo.
Di akhir sesi, ada senam kogerta yang dipandu oleh Mujito. Dengan teknik ini, pasien hipertensi dapat normal kembali dengan mengaktifkan hormon endorfin untuk membantu relaksasi dan menurunkan tekanan darah.
Monitoring akan terus dilakukan meskipun rangkaian kegiatan telah rampung. Mulai dari survei mawas diri, musyawarah desa, penyuluhan, dan pelatihan kesehatan. Tujuannya untuk melihat hasil survei mawas diri pascakegiatan pelatihan.
Hasil monitoring tersebut akan ditindaklanjuti pada tahun berikutnya. Evaluasi akan dilakukan setiap tiga bulan sekali melalui bantuan ketua tim penggerak PKK.
Bidan Desa Jimbe, Arfia, mengaku terbantu dengan pelatihan dari Polkesma. Implementasi ilmu dalam pencegahan hipertensi bisa dilakukan dengan mudah. Apalagi, dengan pelatihan ini, pasien hipertensi lebih merasakan relaksasi dan menurunkan tekanan darah.
“Harapan kami dengan adanya kegiatan pelatihan dari Polkesma, masyarakat dapat mengimplementasikan sendiri pelatihan yang telah dilakukan. Terutama penderita hipertensi agar lebih terkondisikan. Pelatihan ini juga akan disalurkan di posyandu lansia untuk mencegah hipertensi agar tidak sampai terjadi komplikasi,” pungkasnya. (jar/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila