BLITAR - Musim kemarau yang biasanya menjadi berkah bagi para pelaut tidak bisa dinikmati tahun ini. Soalnya, cuaca berangin dan gelombang tinggi membuat nelayan sering mengurungkan niat menebar jaring.
Pengelola Produksi Perikanan Tangkap Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar, Andi Dwi Yusprianto menuturkan, cuaca ekstrem ini sudah berlangsung sejak pertengahan Agustus. Padahal biasanya September hingga Oktober menjadi musim panen bagi para nelayan.
“Cuaca sekarang ini berangin. Biasanya kalau lagi berangin kencang seperti ini, nelayan enggan untuk melaut karena ombak besar, dan ini bahaya,” ujarnya.
Selain berbahaya, angin juga menjadi penyebab semakin berkurangnya jumlah ikan yang naik ke permukaan karena kondisinya tidak tenang. Alhasil, hasil tangkapan nelayan hampir dipasti berkurang jika nekat melaut.
Biasanya, musim kemarau menjadi puncak pendapatan terbesar nelayan sepanjang tahun. Bahkan tak jarang Pelabuhan Tambakrejo overload dan terpaksa dikirim ke daerah Tulungagung saat musim panen tiba.
“Di seluruh wilayah Kabupaten Blitar, ada sembilan pantai untuk pendaratan ikan. Itu mulai dari wilayah timur ke barat yakni Gurah, Jolosutro, Umbul Baros, Sumberseh, Serang, Ngadipuro, Tambakrejo, Pangi, dan Bululawang. Namun, pelabuhannya hanya satu di Pantai Tambakrejo,” ujarnya.
Menurutnya, nelayan Blitar sudah memiliki langganan untuk menjual ikan hasil tangkapan. Para pedagang itu lantas menjajakan hasil tangkapan nelayan tersebut ke beberapa pasar di Bumi Penataran.
“Biasanya memang begitu. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambakrejo itu biasanya dimanfaatkan oleh nelayan-nelayan di sekitar tambak. Untuk mekanismenya, saya kurang tahu, sepenuhnya kewenangan provinsi sebagai pengelola pelabuhan. Soalnya, TPI termasuk fasilitas pelabuhan,” ujarnya.
Terkait harga, Andi mengatakan tidak ada perbedaan besar antara di Blitar dan daerah lain. Sebaliknya, nelayan asal Kabupaten Blitar akan tetap menjual ikannya di Blitar karena pertimbangan bahan bakar saat menjual ke daerah lain.
Yang jelas, sambung dia, nelayan sangat bergantung dengan cuaca. Jika alam tidak menentu dan cuaca buruk.
Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan lain ketimbang melaut. Hal ini secara otomatis memengaruhi pendapatan nelayan.
“Pendapatan nelayan tetap tergantung musim. Kalau lagi musim bisa membeludak, bahkan hingga dikirim ke wilayah tetangga. Kalau enggak ya sepi seperti sekarang,” lanjutnya. (mg2/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila