Blitar - Pementasan karya sendratari kolaborasi siswa-siswi SMA/SMK Blitar Raya, berjudul Bumi Pawitra Suci, menjadi puncak kemeriahan agenda Literasi Seni dan Budaya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Proklamator Bung Karno pada Rabu (16/10).
Rangkaian agenda implementasi program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial ini berlangsung selama tiga hari mulai Senin (14/10) hingga Rabu (16/10).
Selama tiga hari, Auditorium Sukarno Lantai 3 menjadi lokasi penggemblengan 100 siswa-siswi dan guru pendamping peserta Literasi Seni dan Budaya.
Literasi Seni dan Budaya ini menghadirkan tiga pemateri yang berkompeten di bidangnya, yakni Drs Sudarwiyanto, yang membawakan materi Akar Tradisi Kesenian di Jawa Timur dan Kesenian Blitaran; Abing Santoso, yang membawakan materi Perkembangan Kemasan dan Digitalisasi Seni Pertunjukan; dan Kholam Shiharta, yang membawakan materi Penataan Manajemen Seni Pertunjukan dan Produksi Karya Kolaboratif.
Usai mendapatkan materi pada hari pertama, selanjutnya para peserta mendapatkan pendampingan untuk mementaskan karya sendratari dengan sutradara Dhimaz Anggoro Putro.
Mereka yang beruntung mendapatkan materi Literasi Seni dan Budaya adalah siswa-siswi dan guru pendamping dari SMA/SMK Blitar Raya, mulai SMAN 1 Blitar, SMAN 2 Blitar, SMAN 3 Blitar, SMAN 4 Blitar, SMAN 1 Srengat, SMAN 1 Talun, SMAN 1 Kesamben, SMAN 1 Garum, SMKN 1 Blitar, dan SMKN 3 Blitar.
Melalui Literasi Seni dan Budaya, mereka diajak untuk berbaur dan berkolaborasi menampilkan sendratari berjudul Bumi Pawitra Suci, dengan sangat apik dan energik.
Dalam sesi penutup, juga ada deklamasi oleh Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Nurny Syam SSos, dan bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Bagimu Negeri oleh para peserta.
Tak hanya itu, ada keseruan lainnya di akhir acara, yakni flashmob, dan diakhiri dokumentasi semua peserta dan tamu undangan naik ke atas panggung.
Dalam sambutannya, Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Nurny Syam SSos mengungkapkan, tahun ini UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno melaksanakan 14 kali kegiatan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, dengan melibatkan lebih dari 1.400 orang untuk ikut serta ambil bagian.
Hal itu dalam rangka mewujudkan perpustakaan sebagai tempat yang inklusi, serta membuktikan bahwa perpustakaan dapat menjadi tempat pembelajaran yang layak dan dapatkan diakses oleh seluruh kalangan.
“Literasi Seni dan Budaya adalah sebuah contoh nyata, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, melalui UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno mewujudkan hal tersebut dengan melibatkan 100 siswa-siswi SMA/SMK Blitar Raya,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Blitar, Edy Wasono mengatakan, pemajuan kebudayaan menjadi tanggung jawab bersama. Harapannya, hasil kolaborasi Literasi Seni dan Budaya bisa ditampilkan dalam event-event seni budaya yang dilaksanakan di Blitar Raya.
“Dalam bidang kebudayaan, berkaitan dengan seni budaya merupakan aset bangsa yang keberadaannya perlu digali untuk memperkaya khazanah budaya bangsa. Dengan adanya Literasi Seni dan Budaya ini akan meningkatkan, mengembangkan, dan menambah kemampuan kreativitas anak-anak didik yang ada di Blitar Raya,” jelasnya.
Puncak rangkaian Literasi Seni dan Budaya ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Blitar, Dindin Alinurdin; perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Blitar; serta perwakilan siswa-siswi SMP di Kota Blitar. (*/c1/ynu)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila