Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Eksistensi Gua Tumpuk di Desa Selokajang Blitar, Sebagai Tempat Tinggal Tentara Jepang hingga Pengungsian Letusan Gunung Kelud

Didin Cahya Firmansyah • Minggu, 3 November 2024 | 19:00 WIB
UNIK: Tampak Gua Tumpuk di Desa Selokajang, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, dengan dua mulut gua.
UNIK: Tampak Gua Tumpuk di Desa Selokajang, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, dengan dua mulut gua.

BLITAR - Gua Tumpuk merupakan salah satu destinasi wisata alam di Desa Selokajang, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.

Belum diketahui pasti asal muasal penamaan gua tersebut. Namun, dilihat dari bentuknya, gua ini memiliki dua sisi saling bertumpukan sehingga disebut Gua Tumpuk.

Sekdes Desa Selokajang, Wasis Riyanto mengatakan, Gua Tumpuk pertama kali dikelola pada tahun 2016 oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis) desa setempat.

Hasilnya sudah ada pembenahan dan pembangunan di kawasan itu. “Sekarang sudah dibenahi namun belum maksimal,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa belum diketahui secara pasti kapan pertama kali Gua Tumpuk ini ada.

Namun, jika dilihat dari lokasinya yang berada di alam dan lebih tepatnya di bukit, kemungkinan terbentuk secara alami sehingga diperkirakan sudah ada sebelum desa ini terbentuk. “Tidak diketahui terbentuknya secara pasti kapan,” tandasnya.

Lokasi gua ini berada di dekat kompleks pemakaman umum dan pemakaman Cina di Desa Selokajang.

“Kalau kompleks pemakaman Cina sudah lama, dari tahun 1800 sekian,” ungkapnya.  

Lokasi Gua Tumpuk berada sekitar 13 kilometer dari Kota Blitar.

Hingga kini, tempat ini masih sering dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah, dan tidak ada biaya untuk masuk ke sini.

Wasis mengatakan, dari cerita yang beredar, gua ini memiliki sejumlah cerita menarik, termasuk pernah dijadikan tempat tinggal tentara Jepang pada zaman penjajahan.

Selain itu, tempat ini digunakan untuk ritual bagi orang dengan kepercayaan tertentu. 

Tak hanya sampai di situ, dulu Gua Tumpuk juga pernah dijadikan sebagai tempat pengungsian ketika Gunung Kelud meletus.

“Menurut cerita orang dulu, tahun 1970-an kala itu ribuan orang mengungsi dan naik ke bukit itu, tapi anehnya tetap bisa muat,” katanya.

Hingga kini, Gua Tumpuk ini belum mendapatkan perhatian dari pemerintah kabupaten (pemkab).

Selama ini, pembenahan dan pembangunan di lokasi gua masih berasal dari pokdarwis sendiri.

Padahal, kata dia, potensi desa yang seharusnya bisa dinikmati masyarakat umum belum begitu bisa memuaskan karena keterbatasan anggaran.

“Sudah pernah mengajukan ke pemkab, namun belum ada tanggapan hingga kini,” keluhnya.

Dia berharap potensi wisata Gua Tumpuk bisa dikelola sepenuhnya dengan baik dan menjadi salah satu kekayaan alam di Blitar serta mampu menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD). (mg3/c1/din)

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #gua #Kecamatan Srengat #destinasi wisata