BLITAR - Memasuki musim hujan, tempat pembuangan akhir (TPA) Gedog di Kecamatan Sananwetan mengalami peningkatan produksi gas metana.
Kelembapan sampah yang meningkat akibat intensitas hujan tinggi menjadi penyebab utama peningkatan gas ini.
Penyuluh Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar, Haryono menjelaskan, gas metana dapat dimanfaatkan sembari mengatasi bau menyengat yang sering terjadi di musim hujan. Saat musim hujan, sampah menjadi lebih lembap sehingga produksi gas metana meningkat.
“Setiap hari, TPA Gedog menerima hingga 70 ton sampah terdiri dari sampah organik dan anorganik. Gas metana yang dihasilkan dari TPA Gedog ini telah dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan memasak. Ada sekitar 69 rumah tangga di sekitar TPA yang mendapatkan manfaat gas metana ini,” ungkapnya Selasa (26/11/2024).
Menurut dia, Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar menyediakan gas metana ini secara gratis bagi warga yang tinggal di sekitar TPA Gedog.
Langkah ini tidak hanya membantu warga mengurangi biaya kebutuhan energi, tetapi juga menjadi solusi ramah lingkungan untuk memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dari proses penguraian sampah.
“Gas metana diberikan secara cuma-cuma kepada rumah tangga di kawasan tersebut. Selain membantu warga, ini juga menjadi cara untuk meminimalkan dampak negatif gas metana terhadap lingkungan,” jelasnya
Dia terus mengimbau masyarakat agar mendukung pengelolaan sampah dengan memilah sampah organik dan anorganik sebelum dibuang ke TPA.
Dengan begitu, proses pengolahan limbah menjadi lebih optimal. Inisiatif ini diharapkan mampu memaksimalkan potensi energi alternatif sekaligus mengurangi dampak lingkungan negatif dari TPA Gedog. (ham/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila