Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Jelang Imlek, Kelenteng Poo An Kiong di Blitar Punya Ritual Suci untuk Patung Kiem Sien, Seperti Apa Sejarahnya

Jihan Wahida Rahma Salsabila • Senin, 27 Januari 2025 | 17:30 WIB
PENUH MAKNA: Anggota Kelenteng Poo An Kiong, Kota Blitar, saat ritual memandikan Kiem Sien, pada Minggu (26/1).
PENUH MAKNA: Anggota Kelenteng Poo An Kiong, Kota Blitar, saat ritual memandikan Kiem Sien, pada Minggu (26/1).

 

BLITAR - Jelang Tahun Baru Imlek, Kelenteng Poo An Kiong, Kota Blitar, kembali melaksanakan tradisi tahunan berupa ritual memandikan patung dewa atau Kiem Sien, pada Minggu (26/1). Ritual ini merupakan bagian dari rangkaian menyambut Tahun Baru Imlek.

Suasana salah satu rumah toko (ruko) di Jalan Mawar, Kelurahan/Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar tampak sibuk dengan berbagai aktivitas terkait persiapan Tahun Baru Imlek. Seperti diketahui, saat ini Kelenteng Poo An Kiong masih dalam proses pembangunan kembali setelah insiden kebakaran beberapa tahun lalu.

Sementara ini, ibadah dilakukan di ruko dengan jumlah umat yang hadir sekitar 40 orang. Hal itu berbeda dengan kapasitas kelenteng sebelumnya yang mampu menampung ratusan umat.

Terkait ritual memandikan patung dewa, Titis Triwarsi, rohaniwan Kelenteng Poo An Kiong, menjelaskan proses dan makna mendalam dari tradisi yang sudah berlangsung selama 138 tahun ini. Memandikan patung dewa menggunakan air biasa terlebih dahulu untuk dibersihkan. Setelah itu, patung diberi finishing dengan air bunga.

“Sedangkan untuk patung berbahan kayu, pembersihannya menggunakan air the agar teksturnya tetap terjaga,” ujar Titis.

Air bunga yang digunakan biasanya terdiri dari mawar, melati, atau bunga harum lainnya, kecuali bunga berwarna hijau yang dianggap identik dengan duka atau kematian. Tradisi ini mencerminkan penyucian diri dan lingkungan, sebagaimana filosofi Imlek yang menekankan pentingnya kebersihan lahir dan batin sebelum memasuki tahun baru.

Selain itu, Kelenteng Poo An Kiong memiliki tuan rumah bernama Kong Tik Tjoen Ong, sosok dewa yang dipercaya sebagai pelindung masyarakat. Dalam sejarahnya, Kong Tik Tjoen Ong dikenal sebagai perantau Tionghoa yang memiliki kekuatan spiritual sejak kecil yaitu mampu memadamkan api. Keberadaan kelenteng ini berawal dari rasa syukur atas kehadiran tuan rumah setelah menetap di Blitar.

“Tuan rumah kelenteng ini dipilih berdasarkan kesepakatan mayoritas umat. Kong Tik Tjoen Ong diyakini sebagai pelindung yang telah menjaga, dan kita merasa perlu membangun tempat ibadah sebagai bentuk terima kasih,” jelas Titis.

Sementara itu, pemimpin ibadah Kelenteng Poo An Kiong, Pratidina menuturkan, ritual memandikan patung dewa tidak hanya membersihkan secara fisik, tetapi juga melibatkan penyucian hati. “Dalam tradisi Imlek, kami membersihkan rumah, diri, dan perlengkapan ibadah. Filosofinya adalah menyambut tahun baru dengan jiwa yang bersih,” katanya.

Pratidina juga menambahkan, kebiasaan bersih-bersih sebelum Imlek menandai adanya larangan aktivitas menyapu pada Tahun Baru Imlek. Karena diyakini dapat membuang keberuntungan yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Baca Juga: Curat Dominasi Kasus Kriminalitas 2024 di Wilayah Polres Blitar Duduki Peringkat Pertama jadi Perhatian Serius

Dia berharap umat selalu menjaga tradisi ini dan Kelenteng Poo An Kiong terus menjadi pusat spiritual bagi masyarakat Tionghoa di Blitar. Meski masih dalam keterbatasan fasilitas, semangat kebersamaan dan keimanan tetap terjaga, mencerminkan nilai luhur budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. (*/c1/ynu)

Editor : M. Subchan Abdullah
#kelenteng Poo An Kiong #sejarah #kiem sien #imlek #ritual #Patung Dewa #Kota Blitar