BLITAR- Blitar dikenal sebagai kota dengan sejarah yang kuat. Di balik itu, ada sosok muda yang andil dalam pengembangan sektor pariwisata ini. Adalah Fitria Earlike Anwar Sani, warga Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar. Tidak hanya berkontribusi di dunia akademik, tetapi juga berperan langsung dalam revitalisasi dan pengembangan destinasi wisata di Indonesia.
Perjalanannya ke dunia pariwisata bermula pada 2006 ketika mengikuti ajang pemilihan Kangmas-Diajeng Kota Blitar.
Saat itu, dia meraih posisi Wakil I Diajeng serta penghargaan sebagai juara favorit. Pengalaman tersebut membuka banyak pintu baginya untuk terlibat dalam berbagai kegiatan promosi pariwisata Kota Blitar.
Dari sinilah, kecintaannya terhadap dunia pariwisata semakin berkembang sehingga mendorongnya untuk menempuh pendidikan di bidang yang sama.
“Iya, kemudian saya kuliah mengambil jurusan pariwisata mulai dari D-4, S-2, hingga S-3 linier. Alhamdulillah, setelah menyelesaikan S-2, saya diterima menjadi dosen pariwisata di Universitas Merdeka Malang pada 2012,” kenangnya.
Namun, semangat belajarnya tak berhenti di situ. Dengan tekad yang kuat, dia melanjutkan pendidikan S-3 di Universitas Udayana, Bali, melalui beasiswa LPDP. Selama masa studi, dia juga mendapatkan kesempatan untuk menjalani program pertukaran mahasiswa ke Jepang dan China.
“Saat S-3, saya berhasil menyelesaikan S-3 dalam waktu 2,5 tahun dengan IPK 3,98, yang menobatkan saya sebagai lulusan tercepat lima semester, termuda, dan dengan IPK tertinggi,” ungkapnya.
Saat ini, dia menjabat sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) serta mengajar di program S-2 Pariwisata di UMM dan STIE Asia Malang. Selain di dunia akademik, dia juga menjalankan amanah sebagai tenaga ahli pariwisata di Kementerian PPN/Bappenas sejak 2021. Sejalan dengan komitmennya sebagai lulusan LPDP untuk mengabdi kepada negara.
“Pada 2021, saat pandemi Covid-19 melumpuhkan sektor pariwisata di Bali, saya ditempatkan di Pulau Dewata untuk membantu merancang strategi pemulihan ekonomi pariwisata. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah upaya mempertahankan status Subak Bali sebagai warisan budaya tak benda UNESCO, imbas banyaknya sawah subak yang dijual akibat dampak pandemi. Kami mencari solusi dengan menjalin hubungan antara sektor pertanian dan pariwisata,” bebernya.
Hasilnya, mereka membangun rantai pasok antara petani dan industri pariwisata sehingga memungkinkan hasil pertanian Bali diserap oleh hotel dan restoran lokal.
Berkat upaya ini, Ubud kembali pulih dan bahkan dinobatkan sebagai kota terbaik ke-4 di dunia pada akhir 2021. Presiden Joko Widodo pun memberikan apresiasi atas kontribusinya.
“Kemudian pada 2022, saya ditugaskan ke Sumba, daerah dengan tingkat ekonomi ekstrem yang sangat rendah, tetapi memiliki potensi wisata alam luar biasa. Selama sekitar 6 bulan, kami melakukan pemetaan destinasi potensial serta memberikan pelatihan kepada masyarakat setempat mengenai pelestarian budaya,” tandasnya.
Tak hanya itu, dia juga mengajarkan keterampilan kreatif seperti menenun kain khas Sumba dan teknik fashion modeling untuk meningkatkan nilai jual produk lokal. Upaya ini membuahkan hasil hingga menggerakkan ekonomi lokal melalui sektor UMKM dan ekonomi kreatif berbasis budaya.
“Lalu di 2023, saya kembali mendapatkan tugas untuk mengembangkan potensi wisata di pulau kecil yang berbatasan langsung dengan Filipina. Pulau ini memiliki potensi yang luar biasa bagi Indonesia,” ungkapnya.
Sebagai putri asli Blitar, dia tidak pernah melupakan kampung halamannya. Ketika dia berkesempatan mengajukan proposal hibah, dia mengalokasikan hibah untuk mengembangkan Desa Semen di Kecamatan Gandusari, yang telah meraih berbagai penghargaan nasional sebagai desa wisata. Berkat kegigihannya, pada 2024 lalu, Desa Semen menerima hibah untuk pengembangan wisata internasional.
“Dengan pendanaan tersebut, kami melatih masyarakat setempat dalam pengelolaan homestay berstandar nasional, mengajarkan keterampilan hospitality, serta menyediakan peralatan untuk pengolahan produk lokal seperti kopi dan yogurt.
Kabar terbarunya, Desa Semen, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, berhasil meraih penghargaan sebagai juara tingkat ASEAN dalam kategori desa wisata dengan tata kelola berbasis masyarakat di awal 2025,” pungkasnya. (ham/c1/ady)