Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Penuturan Menantu Shodanco Parto Hardjono, Tentara PETA Blitar yang Gagah Berani Gantikan Bendera Jepang dengan Merah Putih

M. Subchan Abdullah • Jumat, 14 Februari 2025 | 23:00 WIB
PENERUS CERITA: Menantu Shodanco Parto Hardjono, Buddy Susetyo, saat menuturkan peran mertuanya pada pemberontakan PETA Blitar.
PENERUS CERITA: Menantu Shodanco Parto Hardjono, Buddy Susetyo, saat menuturkan peran mertuanya pada pemberontakan PETA Blitar.

 

BLITAR - Shodanco Parto Hardjono merupakan salah satu pejuang tentara Pembela Tanah Air (PETA). Dialah sosok pengibar bendera merah putih yang pertama sebelum kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di depan markas tentara PETA di Blitar. Kini, tempat pengibaran bendera tersebut dikenal dengan Monumen Potlot.

Bangunan bekas markas tentara PETA itu masih berdiri kokoh di Kota Blitar. Nilai arsitek dari bangunan lawas itu tetap dipertahankan. Bangunan besar dan luas itu menjadi saksi bisu pemberontakan tentara PETA yang pecah pada 14 Februari 1945.

Tembakan mortir pada pagi dini hari itu menjadi tanda awal pemberontakan tentara PETA Blitar. Di hari bersejarah itulah puncak pemberontakan tentara PETA terjadi. Di tengah pemberontakan itu, ada satu sosok yang turut berjasa mengibarkan bendera merah putih, yakni Shodanco Parto Hardjono.

Meskipun tidak ikut berperang melawan pendudukan Jepang, peran Shodanco Parto Hardjono cukup fenomenal. Dengan gagah berani, dia mengganti bendera Jepang dengan bendera merah putih dari tiang bendera di depan markas tentara PETA. Di hari itulah, bendera merah putih pertama kalinya dikibarkan jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI.

Sebenarnya, siapa sosok Parto Hardjono yang namanya kini diabadikan menjadi sebuah jalan di Kota Blitar? Jawa Pos Radar Blitar menemui menantu dari Parto Hardjono, yaitu Buddy Susetyo, kemarin (13/2). Pria paro baya ini mendengar cerita langsung dari mertuanya mengenai peristiwa pemberontakan tentara PETA pada 14 Februari 1945 atau 80 tahun silam.

Selain itu, dia juga mendapat cerita bagaimana awal Parto Hardjono ini masuk tentara PETA. Sebelumnya diketahui, Parto Hardjono merupakan seorang guru. ”Jadi, latar belakang beliau ini guru. Motivasinya mendaftar tentara PETA saat itu karena memang semata-mata ingin membela tanah air. Berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia,” ungkapnya, saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Jumat (14/2/2025).

Mendaftar jadi tentara PETA, Parto Hardjono mengikuti latihan rutin di markas PETA. Pangkatnya sudah perwira dan dibekali sebilah samurai. ”Waktu pemberontakan itu, beliau ini posisinya sedang tidak ada di barak. Dia mendengar dentuman keras tembakan mortir sebagai tanda pemberontakan dimulai,” tuturnya.

Dentuman tembakan itu langsung menggerakkan Parto Hardjono untuk bergegas menuju lapangan. Dengan membawa bendera merah putih, dia langsung mengganti bendera Jepang dengan bendera merah putih. ”Setelah itu, beliau langsung melarikan diri ke arah timur bersama rekan-rekannya, termasuk Soeprijadi,” jelasnya.

Singkat cerita, pascapemberontakan itu, akhirnya Shodanco Parto Hardjono tertangkap oleh tentara Jepang. Dia dihukum di markas PETA dengan cara disiksa. Parto Hardjono menjadi satu-satunya bekas tentara PETA yang masih hidup dan lolos dari hukuman mati, hingga meninggal dunia pada 1994.

Melalui kesaksiannya itu, Parto Hardjono kerap mengisi acara pada peringatan Pemberontakan PETA setiap 14 Februari. Dia selalu ditugaskan untuk membaca sejarah mengenai pemberontakan PETA. ”Saat saya masih SMA dulu, beliau ini selalu membacakan sejarah mengenai pemberontakan PETA setiap 14 Februari di Monumen PETA tersebut,” ungkapnya.

Dia tidak menyangka bahwa sosok bekas tentara PETA itu menjadi mertuanya. Tepat pada 1978, dia menikahi putri satu-satunya Parto Hardjono yakni Tuti Sri Utami. Dari hasil pernikahannya itu dikaruniai tiga anak.

“Lewat mertua saya inilah sejarah pemberontakan PETA diceritakan. Kemudian, saya ceritakan juga kepada anak-anak saya agar mereka tahu tentang sejarah pemberontakan PETA di Blitar,” pungkasnya. (*/c1/ady) 

Editor : M. Subchan Abdullah
#Pembela Tanah Air #Tentara PETA #bendera merah putih #sejarah #monumen PETA #jepang #Kota Blitar