BLITAR - Arema FC merayakan kemenangan besar usai melawan PSS Sleman di Stadion Soeprijadi, Kota Blitar, pada Senin (17/2) lalu. Namun, tim yang memiliki julukan Singo Edan ini juga harus menanggung denda puluhan juta akibat hukuman dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.
Berdasarkan hasil sidang Komdis PSSI pada 5 Februari, terdapat pelanggaran yang mengakibatkan Arema FC terkena denda sebesar Rp 20 juta. Bentuk pelanggarannya adalah fasilitas air bersih yang tidak berfungsi dengan baik di ruang ganti tim tamu di Stadion Soeprijadi Kota Blitar. Masalah itu terjadi saat laga Arema FC melawan Bali United pada 3 Februari lalu.
Di samping itu, Arema FC juga menghadapi masalah finansial sehingga harus melakukan penghematan anggaran. Sebab, pendapatan Arema FC dari tiket pertandingan Liga 1 di Stadion Soeprijadi sangat minim. Karena itu, efisiensi anggaran dilakukan demi tetap terpenuhinya biaya operasional, khususnya untuk menggaji para pemain dan jajaran pelatih.
Kondisi itu pun membuat manajemen Arema FC harus mengambil kebijakan serius. Yakni, menggelar pertandingan tanpa penonton. Kebijakan itu dinilai realistis, mengingat pendapatan dari tiket sangatlah tipis.
Informasi menyebutkan bahwa penghematan dana yang dilakukan oleh manajemen Arema FC mencapai sekitar Rp 100 juta. Dana tersebut bisa dihemat jika pertandingan dilaksanakan tanpa penonton. Banyak pengeluaran yang bisa diminimalisasi.
“Penghematan sejumlah dana itu berasal dari berbagai unsur kepanpelan. Tidak hanya satu unsur saja,” kata General Manager Arema, Yusrinal Fitriandi.
Menurut dia, semakin besar penonton yang datang, kebutuhan petugas keamanan untuk berjaga akan semakin banyak. Jika tanpa penonton tentu personel yang bertugas berkurang. Sama halnya dengan personel keamanan di dalam stadion. Yakni, match steward, lalu terkait perlengkapan hingga pengurangan personel kepanpelan.
Dari sisi ticketing, manajemen menyebut tidak membutuhkan dana besar. Jika tidak ada penonton, panpel tidak perlu membuka banyak pintu masuk. Artinya juga tidak diperlukan barikade di setiap pintu masuk. Jika tanpa penonton hanya diperlukan perlengkapan di satu pintu masuk.
Bagi Inal, penyelenggaraan pertandingan sepak bola dengan penonton sangatlah besar. Meski biaya sewa terjangkau, banyak fasilitas pendukung yang masih harus dipenuhi Arema FC.
“Kami sewa stadion ini dalam keadaan kosong. Jadi butuh unsur-unsur terkait penyediaan perlengkapan sesuai standar regulasi penyelenggaraan pertandingan Liga 1. Dan, itu semua sewa ke vendor,” jelasnya.
Manajemen Arema FC juga meluruskan beberapa pemberitaan di media massa terkait dana. Manajemen menegaskan bahwa tidak ada dana yang masuk ke kantong pribadi pejabat pemerintahan atau kepolisian setempat di Kota Blitar.
“Jadi, mau menggelar pertandingan di Blitar atau kota lainnya, kebutuhan dananya memang besar. Tidak ada hubungannya dengan yang diberitakan beberapa media terkait suap dan lainnya. Kami nyuapin diri sendiri saja berat. Apalagi mau nyuapin orang lain. Realistis saja. Semoga masyarakat teredukasi,” tegasnya.
Manajemen Arema menyebutkan, rata-rata biaya untuk menggelar pertandingan mencapai Rp 250 juta. Jumlah itu bisa meningkat jika pertandingan besar atau big match. Jika nanti kembali menggelar pertandingan dengan penonton, manajemen berharap Aremania bisa memberi dukungan langsung di stadion. “Penjualan tiket di setiap pertandingan sangat membantu mengurangi beban klub,” tandasnya. (sub/c1/din)
Editor : M. Subchan Abdullah