Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Salat Tarawih Kilat di Blitar, Tradisi Seabad yang Terus Dilestarikan Santri Pondok Pesantren

Muhamad Ilham Baha’udin • Senin, 17 Maret 2025 | 22:00 WIB

 

UNIK: Suasana salat Tarawih di Ponpes Mantenan, Udanawu, Kabupaten Blitar.
UNIK: Suasana salat Tarawih di Ponpes Mantenan, Udanawu, Kabupaten Blitar.

BLITAR - Suasana Ramadan di Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Hikam, yang terletak di Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, selalu berbeda dari tempat lain. Sejak lebih dari satu abad lalu, pondok pesantren yang lebih dikenal dengan sebutan Pondok Mantenan ini menggelar tradisi salat Tarawih cepat.

Meski berlangsung dalam durasi yang lebih singkat dibandingkan tempat lain, tradisi ini tidak pernah sepi dari jamaah. Ribuan orang dari berbagai daerah berbondong-bondong datang setiap malam untuk mengikuti salat Tarawih di sini.

Seperti yang terlihat pada malam Ramadan, sejak selepas Magrib, para jamaah sudah mulai berdatangan. Mereka datang dari berbagai daerah, termasuk Blitar, Kediri, Tulungagung, hingga Surabaya.

Bagi banyak jamaah, salat Tarawih cepat di Pondok Mantenan bukan sekadar ibadah, tetapi juga tradisi yang selalu dinanti setiap Ramadan. Salah satu jamaah asal Ringinrejo, Kabupaten Kediri, Muhammad Hafis Saputra, mengaku selalu menyempatkan diri untuk mengikuti salat Tarawih di pondok ini.

“Tiap Ramadan saya ikut salat Tarawih di sini. Senang karena suasananya ramai dan salatnya cepat,” ujar Hafis yang datang bersama rombongan temannya dengan sepeda motor.

Jamaah lain, Yoga juga mengatakan, suasana yang ramai menjadi daya tarik tersendiri. “Salatnya cepat, tapi tetap khusyuk. Jamaahnya juga banyak, jadi lebih semangat,” katanya.

Menurut putra pengasuh Ponpes Mambaul Hikam, KH Muhammad Dliya’uddin Azzamzami, Mohammad Shodiqi Basthu Birri, tradisi salat Tarawih cepat ini telah berlangsung sejak tahun 1907. Kala itu, Kiai Abdul Ghofur, pendiri pondok, melihat bahwa masyarakat sekitar masih awam dalam menjalankan ibadah.

“Pada awalnya, salat Tarawih di Pondok Mantenan dilakukan dalam durasi normal, sekitar 20-30 menit. Namun, seiring waktu, jumlah jamaah berkurang. Kiai Abdul Ghofur kemudian berinisiatif menanyakan alasan mereka tidak mengikuti salat berjamaah. Mayoritas menjawab bahwa mereka kelelahan setelah seharian beraktivitas, terutama para petani yang sering harus bekerja di sawah pada malam hari selama Ramadan,” bebernya.

Demi menjaga semangat ibadah warga, Kiai Abdul Ghofur kemudian mempercepat durasi salat Tarawih. Jika sebelumnya Tarawih dan Witir berlangsung hingga setengah jam, kini hanya sekitar 10-12 menit. Hasilnya, warga kembali berbondong-bondong mengikuti Tarawih berjamaah, dan tradisi ini terus berlangsung hingga saat ini.

“Salat Tarawih cepat ini sudah berlangsung selama 118 tahun. Meski cepat, tetap sesuai dengan rukun dan syariat salat,” tegas Gus Basid, sapaan akrab Mohammad Shodiqi Basthu Birri.

Karena banyaknya jamaah yang datang, kapasitas Masjid Pondok Mantenan yang mampu menampung 1.000 orang sering kali tidak mencukupi.

Maka pengelola pondok menyiapkan area tambahan di halaman masjid dengan memasang terpal sebagai alas. Sebagian jamaah bahkan rela melaksanakan salat di jalan depan gerbang masuk pondok. (*/din)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Kabupaten Blitar #Salat Tarawih Kilat #PonPes Mambaul Hikam #tradisi #pondok mantenan