Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Wanita Hebat, Ratu Waskita Jawi ! Jejak Sejarah, Warisan Ilmu, dan Refleksi bagi Perempuan Indonesia

Anggi Septian A.P. • Minggu, 20 April 2025 | 03:00 WIB
Sosok Ratu Waskita Jawi yang diduga sekarang dimakamkan ada beberapa versi, di samping Panembahan Senopati dan Wilayah Pati, Jawa Tengah
Sosok Ratu Waskita Jawi yang diduga sekarang dimakamkan ada beberapa versi, di samping Panembahan Senopati dan Wilayah Pati, Jawa Tengah

BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Dalam sejarah panjang Nusantara, tidak banyak sosok perempuan yang bisa menembus catatan sejarah secara utuh dan jelas, apalagi di abad ke-16 saat kekuasaan kerajaan-kerajaan besar seperti Demak, Pajang, dan Mataram sedang silih berganti.

Namun Ratu Waskita Jawi adalah pengecualian. Namanya muncul bukan hanya sebagai figur pendamping dalam dinasti, tetapi sebagai tokoh sentral yang mengikat berbagai simpul: budaya, politik, ekonomi, dan bahkan pergolakan batin kekuasaan.

Rangkaian kisah tentang Ratu Waskita Jawi bermula dari kisah cinta lintas batas antara seorang ulama dari Persia dengan seorang perempuan Jawa.

Hasil pernikahan inilah yang kemudian melahirkan tokoh visioner bernama Ki Penjawi.

Ia bukan hanya tokoh lokal, tetapi bagian dari jaringan intelektual global yang menuntut ilmu hingga Persia, membawa pulang bukan sekadar pengetahuan agama.

Melainkan juga nilai-nilai keadilan, administrasi pemerintahan, dan strategi dagang dari negeri-negeri asing.

Dari Ki Penjawi inilah, Ratu Waskita Jawi lahir sebagai anak kandung dari persilangan tradisi dan pengetahuan global-lokal.

Warisan keilmuan Ki Penjawi tidak berhenti di dirinya. Sang putri, Waskita Jawi, tak sekadar mewarisi status atau garis darah, tetapi benar-benar menyerap semangat keilmuan dan progresivitas ayahnya.

Ia dikenal sebagai perempuan cerdas, religius, dan aktif dalam berbagai sektor sosial. Salah satu jejak pentingnya adalah keberanian Waskita Jawi dalam mendorong kemajuan industri lokal.

Ia membangun sistem pelabuhan, menggerakkan perikanan, hingga mengembangkan jalur pelayaran dan perdagangan.

Jejak ini tak hanya menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin, tetapi juga memperlihatkan bahwa perempuan masa itu pun sudah bergerak dalam ranah yang kini kita kenal sebagai entrepreneurship.

Namun seperti kisah besar lainnya, tak ada kejayaan yang lepas dari cobaan.

Posisi strategis Ratu Waskita Jawi di tengah kerajaan membuatnya menjadi pusat perhatian, kecemburuan, dan bahkan sumber konflik.

Salah satunya adalah pertikaian politik yang melibatkan sosok Retna Dumilah, Pangeran Benawa, dan tokoh pemberontak terkenal, Pragola dari Pati.

Konflik ini tidak hanya memuat intrik cinta dan kekuasaan, tetapi juga memperlihatkan bahwa posisi seorang perempuan dalam lingkaran elit kerajaan sangat rawan menjadi alat politik.

Waskita Jawi, dengan segala kelebihannya, berada di tengah pusaran yang tak sepenuhnya bisa ia kendalikan.

Pemberontakan Pragola menjadi klimaks dari pergeseran kekuasaan dan perebutan pengaruh di dalam tubuh kerajaan.

Ia memanfaatkan ketegangan politik yang terbangun, termasuk isu kedekatan Waskita Jawi dengan Sultan Agung, sebagai alasan untuk menggugat legitimasi penguasa.

Di sisi lain, keberadaan Waskita Jawi juga menjadi simbol kekuatan perempuan yang justru menakutkan bagi para pria ambisius.

Kini, sosok perempuan tangguh Ratu Waskita Jawi dikenang dalam sejarah sebagai tokoh penting dalam perkembangan politik dan ekonomi Mataram Islam.

Namun, informasi mengenai lokasi makamnya masih belum dapat dipastikan secara definitif. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ia dimakamkan di Kotagede, Yogyakarta, bersama Panembahan Senopati, suaminya.

Sementara itu, sumber lain menyebutkan bahwa makamnya berada di Pati, Jawa Tengah, dekat dengan makam ayahandanya, Ki Ageng Penjawi.

 

 

Pertama, kisah Ratu Waskita Jawi mengajarkan bahwa perempuan Jawa sudah sejak lama memiliki ruang untuk berpikir, bertindak, dan berpengaruh.

Di tengah dominasi budaya patriarki, ia mampu menunjukkan bahwa kepemimpinan dan kecakapan bukan hak eksklusif kaum pria.

Ia bisa berbisnis, membangun infrastruktur, memimpin komunitas, sekaligus menghadapi dinamika kekuasaan yang kompleks.

Kedua, kisah ini menunjukkan pentingnya pendidikan lintas batas.

Ki Penjawi yang belajar ke Persia membuktikan bahwa jaringan intelektual global sangat mungkin untuk diakses bahkan sejak berabad-abad lalu.

Warisan itu diteruskan dengan baik oleh Waskita Jawi, dan memberi gambaran bahwa kemajuan peradaban sangat erat kaitannya dengan keberanian menimba ilmu dari luar.

Ketiga, intrik yang terjadi di sekeliling Waskita Jawi menjadi pengingat bahwa perempuan sering kali menjadi korban atau pion dalam pertarungan kekuasaan.

Tetapi alih-alih runtuh, Waskita Jawi justru tampil sebagai simbol ketangguhan dan keteguhan di tengah badai politik kerajaan.

Bagi perempuan Indonesia hari ini, kisah Ratu Waskita Jawi bisa menjadi inspirasi.

Bahwa perempuan punya ruang untuk mandiri secara ekonomi, berani dalam pendidikan, aktif dalam politik, dan tetap teguh dalam nilai-nilai spiritual dan sosial.

Ia adalah contoh bagaimana perempuan bisa menjadi pelopor perubahan, bukan sekadar pengikut sejarah.

 

Di tengah gemuruh zaman modern, kisah Ratu Waskita Jawi memanggil kita untuk kembali menyelami akar peradaban yang kaya.

Di balik sejarah yang kadang maskulin, ada tokoh perempuan luar biasa yang mengajarkan satu hal: bahwa kepemimpinan tak pernah mengenal jenis kelamin, hanya keberanian dan ketulusan hati.(*/ang)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Ki Penjawi #Mataram Islam #Panembahan Senopati #perempuan indonesia #Kotagede #Ratu Waskita Jawi