Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Drama Biksu Tiongkok Terombang-ambing di Laut, Kapalnya Mendarat di Jawa: Tanda Nusantara Sudah Jadi Pusat Pelayaran?

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Selasa, 26 Agustus 2025 | 04:30 WIB
Kisah perjalanan seorang biksu Tiongkok abad ke-5 mengungkap fakta mengejutkan. Dalam catatan perjalanannya, ia sempat terombang-ambing di laut dan kapalnya mendarat di Jawa.
Kisah perjalanan seorang biksu Tiongkok abad ke-5 mengungkap fakta mengejutkan. Dalam catatan perjalanannya, ia sempat terombang-ambing di laut dan kapalnya mendarat di Jawa.

BLITAR – Kisah perjalanan seorang biksu Tiongkok abad ke-5 mengungkap fakta mengejutkan. Dalam catatan perjalanannya, ia sempat terombang-ambing di laut dan kapalnya mendarat di Jawa. Cerita ini memunculkan dugaan bahwa Nusantara sudah menjadi jalur pelayaran penting jauh sebelum berdirinya kerajaan besar.

Catatan kuno ini kembali memantik perdebatan tentang kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara. Selama ini, dua kerajaan itu sering disebut sebagai awal mula sejarah kita. Namun, kisah biksu Tiongkok membuktikan bahwa Jawa sudah terhubung dengan jalur maritim internasional sejak awal Masehi.

Artinya, peradaban Nusantara tidak bisa hanya diukur dari prasasti Yupa Kutai atau Ciaruteun Tarumanegara. Ada lapisan sejarah maritim yang jarang diangkat, padahal menjadi fondasi penting perkembangan kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara.

Catatan Perjalanan Biksu

Biksu yang dimaksud adalah Fa-Hsien, seorang pengelana dari Tiongkok yang mencari naskah-naskah Buddhis di India. Dalam perjalanannya kembali, kapal yang ditumpanginya terjebak badai. Ia lalu terdampar di wilayah Jawa.

Dalam catatannya, Fa-Hsien menggambarkan Jawa sebagai negeri dengan aktivitas pelayaran yang ramai. Kehadiran kapal-kapal besar dan hubungan dagang menunjukkan peran strategis Nusantara sebagai simpul perdagangan internasional. Fakta ini membuktikan kawasan ini sudah punya peradaban mapan.

Jawa Sebagai Jalur Maritim Awal

Sejarawan ASISI CHANNEL menekankan, catatan Fa-Hsien tidak bisa dianggap remeh. Jika pada abad ke-5 Jawa sudah dikunjungi pelaut asing, berarti peran maritim Nusantara bahkan lebih tua dari dugaan. Ini sekaligus membuka diskusi tentang kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara.

Catatan semacam ini penting karena memperkaya narasi sejarah kita. Bukan hanya kerajaan berbasis daratan, tetapi juga kerajaan yang tumbuh karena kekuatan maritim. Jalur perdagangan rempah, kapur barus, dan hasil bumi lain menjadi magnet utama.

Jalur Pelayaran Nusantara

Bukti lain yang mendukung adalah temuan arkeologis berupa manik-manik, keramik, dan perhiasan asing di pesisir Jawa. Semua ini menunjukkan hubungan dagang intens dengan India, Tiongkok, dan bahkan Timur Tengah. Dengan kata lain, Nusantara adalah titik temu peradaban dunia sejak awal.

Posisi strategis inilah yang kelak melahirkan kerajaan-kerajaan besar berbasis maritim seperti Sriwijaya dan Majapahit. Namun sebelum itu, jaringan pelayaran sudah terbentuk. Jadi wajar jika muncul dugaan adanya kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara yang belum banyak dibongkar.

Menggali Sejarah Maritim Nusantara

Kisah biksu Tiongkok hanyalah salah satu potongan puzzle sejarah. Sejarawan mendorong agar penelitian lebih intensif dilakukan di kawasan pesisir Jawa. Ada kemungkinan, catatan-catatan asing lain masih menyimpan informasi penting tentang eksistensi kerajaan-kerajaan awal.

Dengan begitu, kita bisa melihat Nusantara bukan hanya sebagai penerima pengaruh luar, tetapi juga pemain aktif dalam jaringan perdagangan dunia kuno. Sejarah kerajaan kuno lebih tua dari Kutai dan Tarumanegara bisa semakin jelas dengan pendekatan maritim.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#kutai #tarumanegara #Kerajaan Kuno