Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

“Sejarah Tempe Bongkrek, Makanan Rakyat Jawa yang Pernah Sebabkan Ratusan Korban Jiwa”

Anggi Septiani • Minggu, 5 Oktober 2025 | 00:00 WIB
“Sejarah Tempe Bongkrek, Makanan Rakyat Jawa yang Pernah Sebabkan Ratusan Korban Jiwa”
“Sejarah Tempe Bongkrek, Makanan Rakyat Jawa yang Pernah Sebabkan Ratusan Korban Jiwa”

BLITAR – Tempe memang dikenal sebagai makanan bergizi dan murah meriah. Namun, sejarah mencatat ada satu jenis tempe yang justru meninggalkan kisah kelam di Indonesia. Namanya tempe bongkrek, olahan fermentasi dari ampas kelapa yang pernah menewaskan ratusan orang di Jawa Tengah.

Tragedi tempe bongkrek bermula pada akhir abad ke-19. Catatan pertama kasus keracunan muncul di Banyumas pada tahun 1895. Makanan ini dibuat karena bahan dasarnya murah dan mudah diperoleh. Sayangnya, di balik kesederhanaannya, tempe bongkrek menyimpan racun mematikan.

Penelitian kemudian menemukan bahwa tempe bongkrek mengandung bakteri Burkholderia cocovenenans. Mikroba ini menghasilkan senyawa beracun bernama bongkrek acid yang menyerang organ tubuh manusia. Dampaknya fatal, mulai dari mual, muntah, gagal organ, hingga kematian.

Pada periode 1951 hingga 1975 saja, tercatat ada lebih dari 7.126 kasus keracunan akibat konsumsi tempe bongkrek. Dari jumlah itu, setidaknya 850 orang meninggal dunia, dengan tingkat kematian mencapai 60 persen. Angka ini membuat tempe bongkrek dijuluki sebagai makanan rakyat paling berbahaya dalam sejarah Indonesia.

Seorang peneliti pangan dalam dokumenter sejarah tempe mengatakan, “Kasus tempe bongkrek adalah bukti bahwa tidak semua fermentasi aman. Fermentasi yang salah bisa menghasilkan racun mematikan, bahkan tanpa disadari pembuatnya.”

Meski bahaya sudah diketahui, tempe bongkrek sempat tetap diproduksi secara diam-diam. Alasannya sederhana: harganya murah dan mudah dibuat di tengah kondisi ekonomi sulit. Bagi sebagian masyarakat, terutama yang tinggal di pedesaan, tempe bongkrek dianggap jalan pintas untuk tetap bisa makan lauk berprotein.

Pemerintah mulai mengambil langkah serius pada 1960-an dengan melarang peredaran tempe bongkrek. Namun, aturan ini tidak langsung menutup peredaran. Produksi ilegal masih berlangsung, terutama karena keterbatasan sosialisasi dan rendahnya kesadaran masyarakat akan bahaya racun bongkrek acid.

Baru pada tahun 1988, pemerintah Indonesia mengeluarkan larangan nasional yang lebih tegas. Sejak saat itu, tempe bongkrek benar-benar hilang dari peredaran resmi. Meski demikian, kasus-kasus keracunan sporadis sempat masih muncul di beberapa daerah hingga dekade berikutnya.

Bagi para ahli, tempe bongkrek menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya standar keamanan pangan. Proses fermentasi yang tidak terkontrol dapat menghasilkan produk berbahaya meski dibuat dari bahan alami. Dari kasus inilah lahir kesadaran bahwa pengawasan dan penelitian ilmiah harus berjalan beriringan dengan tradisi pangan lokal.

Di sisi lain, tragedi ini juga menyoroti kondisi sosial masyarakat Jawa pada masa itu. Tekanan ekonomi, minimnya akses pangan, serta keterbatasan edukasi membuat tempe bongkrek tetap diproduksi walau berbahaya. Kisah ini memperlihatkan bagaimana masyarakat kecil kerap terpaksa mengambil risiko demi bertahan hidup.

Kini, ketika tempe dikenal dunia sebagai superfood, kisah tempe bongkrek seakan menjadi sisi gelap yang jarang dibicarakan. Padahal, sejarah itu justru mempertegas betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan regulasi dalam menjaga keamanan pangan tradisional.

Tempe bongkrek memang tinggal kenangan, namun jejaknya menjadi pengingat bahwa tidak semua warisan kuliner layak diteruskan. Bagi generasi sekarang, kisah ini bisa menjadi bahan refleksi: bagaimana sebuah makanan sederhana bisa berubah menjadi ancaman mematikan jika tidak dikelola dengan benar.

Seiring berkembangnya teknologi pangan, masyarakat kini bisa menikmati tempe yang lebih aman, higienis, dan bergizi. Namun, bayang-bayang tragedi tempe bongkrek tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang tempe di Indonesia.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Sejarah Kuliner Jawa #tempe bongkrek