BLITAR – Di tengah derasnya arus modernisasi dan produk serba instan, aroma bambu kering masih menguar kuat dari sebuah rumah sederhana di Dusun Tumpuk, Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat.
Di sanalah, Hesti Retno Satuti, seorang perempuan tangguh yang tengah memimpin aktivitas kecil namun bermakna besar, yakni mempertahankan tradisi anyaman bambu warisan leluhur.
Sudah hampir 10 tahun dirinya menjalankan usaha yang diturunkan oleh ibunya. Mulai 2017, dia ikut pelatihan dari Disperindag Kabupaten Blitar dan Surabaya.
Dari pelatihan itulah, perempuan ini mulai menekuni dunia anyaman bambu dengan lebih serius.
Kini, bersama tiga pekerja tetap dan dua tenaga tambahan, Hesti bisa memproduksi sekitar 50 anyaman per hari tergantung pesanan.
Tapi, misal pesanan banyak bisa produksi lebih banyak dalam satu hari. Jenis produknya pun beragam.
Mulai dari besek, hamper, tas bambu, bakul nasi, kap lampu, hingga tempat sampah, semuanya dikerjakan secara manual. “Kalau pesanan ramai, ya sampai lima orang yang bantu,” katanya.
Tenaga tambahan biasanya berasal dari warga sekitar. Ini menjadi bukti bahwa usaha kecilnya turut menggerakkan ekonomi lokal.
Dalam sebulan, omzet Hesti bisa mencapai antara Rp 1,5 juta hingga Rp 8 juta tergantung banyaknya pesanan.
Dia menjual produknya secara offline di Blitar, Talun, hingga Malang, dan juga online dengan pelanggan yang tersebar sampai Batam.
“Kadang ada yang pesan lewat online, kadang saya setor ke toko. Ada juga yang langsung ambil ke rumah,” ujarnya.
Baca Juga: Pionir Fotografer Satwa Liar Indonesia: “Kalau Nunggu Kaya, Kita Tak Akan Pernah Memotret Alam”
Harga produknya bervariasi mulai dari Rp 2.500 untuk besek kecil hingga tudung saji bambu yang dibanderol sekitar Rp 150 ribu per buah. Produk paling mahalnya berada di kisaran Rp 250 ribu untuk rak displai lima tingkat.
Semua dibuat dengan ketelitian tinggi. Karena bagi Hesti, setiap anyaman bukan sekadar barang dagangan, melainkan karya tangan yang punya jiwa.Bahan baku didapat dari para pemasok lokal di kampung sebelah.
“Sudah ada yang nganter rutin, tanya kalau bambunya habis atau belum,” jelasnya.
Meski pasokan bahan tidak pernah terputus, tantangan justru datang dari sisi tenaga kerja.
Yang paling susah mencari orang yang bisa kerja sesuai standar. Harus halus, rapi, dan kuat. Soal ekspor, Hesti sempat mendapat tawaran.
Namun, dia belum sanggup memproduksi ribuan unit per bulan seperti yang diminta calon pembeli luar negeri.
“Sudah pernah ada yang mau ekspor, tapi saya enggak mampu. Harus bikin 2.000 piece per bulan. Tenaga belum cukup,” ucapnya jujur.
Meski begitu, dia tetap optimistis. Produk anyamannya kini makin diminati untuk souvenir pernikahan, hamper Lebaran, hingga wadah sambal pecel khas Blitar.
Setiap menjelang Ramadan, pesanan bisa melonjak drastis.
“Kalau musim Lebaran bisa sampai enggak tidur. Pesanan hamper ratusan,” katanya sambil tersenyum lelah tapi bangga.
Menariknya, Hesti juga aktif dalam komunitas perajin se-Indonesia, tempat ia belajar desain baru dan memperluas jaringan pemasaran.
Dari situ, dia tahu tren terbaru, modelnya bagaimana, warnanya seperti apa. Kini, dari rumah kecilnya di Purwokerto, suara sisikan bambu terus terdengar setiap pagi hingga malam. Di tangan Hesti dan para perajin lain, tradisi anyaman bambu bukan hanya bertahan, melainkan juga bertransformasi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang menyambung napas budaya lokal sekaligus menghidupi keluarga. (kho/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah