BLITAR AWENTAR - Setiap pagi, aroma mawar kerap menyambut warga Kelurahan Rembang, Kecamatan Sananwetan, tepatnya di RT 03/RW 03. Aroma mawar itu bukan berasal dari toko bunga, melainkan dari pekarangan kampung yang selama bertahun-tahun akrab dengan hamparan tanaman mawar merah dan putih.
Dulu, bunga-bunga itu hanya dipetik untuk kebutuhan nyekar. Kini, mawar menjadi sumber inspirasi sekaligus penggerak ekonomi warga lewat Kampung Mawar.
Kampung Mawar lahir belum lama ini. Tepatnya usai warga Kelurahan Rembang mengikuti Lomba Kampung Kreatif dan berhasil meraih juara harapan II. Prestasi itu menjadi titik balik. Warga yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri mulai menyadari bahwa potensi mawar di kampung mereka layak dikembangkan lebih jauh.
“Awalnya sederhana. Di kampung kami ada anggota KWT yang punya kebun mawar cukup luas. Produksinya rutin, hampir tiap hari berbunga,” ujar pengelola Kampung Mawar, Restu Palupi, kemarin (29/1).
Selama ini, bunga-bunga tersebut dijual sebagai kembang nyekar. Setiap hari, petik dilakukan, lalu dijual ke pengepul atau langsung ke masyarakat. Permintaan biasanya melonjak pada momen tertentu, seperti malam Jumat Legi, menjelang Ramadan, dan Lebaran. Saat hari biasa, harga mawar berkisar Rp 30–50 ribu per kilogram. Namun, pada momen khusus, harganya bisa melambung hingga Rp 100–200 ribu per kilogram.
Masalahnya, harga bunga mawar sangat fluktuatif. Ketika permintaan turun, nilai jual ikut merosot. Kondisi itulah yang memantik kegelisahan anggota KWT. Mereka tak ingin potensi kebun mawar hanya bergantung pada pasar bunga nyekar.
“Awal 2025, kami mulai berpikir, kenapa tidak diolah saja? Mawar itu harum, bisa diminum, bisa jadi produk,” kata Restu.
Berbekal rasa penasaran dan semangat belajar, anggota KWT mulai bereksperimen membuat olahan sari mawar. Semua dilakukan secara otodidak. Mulai dari mencoba resep, takaran, hingga teknik pengemasan. Tak ada pelatihan khusus di awal. Yang ada hanyalah kemauan untuk mencoba.
Hasilnya di luar dugaan. Minuman sari mawar buatan warga mendapat respons positif dari lingkungan sekitar. Rasanya segar, aromanya khas, dan tampilannya menarik. Kabar tentang minuman ini pun menyebar dari mulut ke mulut.
Pesanan mulai berdatangan. Tak hanya dari warga, tetapi juga dari instansi.
Beberapa kecamatan di Kota Blitar memesan minuman sari mawar untuk menjamu tamu maupun kegiatan daerah, termasuk pameran UMKM. Sari mawar dikemas dalam botol 300 mililiter dan dijual dengan harga Rp 6 ribu per botol.
“Alhamdulillah, dari situ kami makin percaya diri. Ternyata mawar bisa punya nilai tambah,” ungkapnya.
Inovasi warga Rembang tak berhenti di minuman. Mereka juga mencoba mengembangkan produk lain berbahan mawar, salah satunya opak gambir varian rasa sari mawar. Untuk produk ini, warga berkolaborasi dengan produsen opak gambir di Kelurahan Plosokerep.
Kolaborasi itu membuahkan hasil manis. Opak gambir sari mawar mendapat sambutan pasar. Permintaannya bahkan meningkat signifikan saat Lebaran 2025. Produk ini menjadi alternatif oleh-oleh khas dengan cita rasa unik.
Keberhasilan mengolah mawar menjadi produk bernilai ekonomi akhirnya mengantarkan Kampung Mawar meraih penghargaan dalam Lomba Kampung Kreatif. Bagi Restu dan warga, penghargaan itu bukan sekadar piala.
“Yang paling penting, warga sekarang punya semangat baru. Meningkatkan kekompakan warga setempat hingga menggerakkan ekonomi warga sekitar,” pungkasnya.(*)