“Dari sekitar 9 hektare lahan cabai yang ada, 6 hektare di antaranya dari pantauan petugas dinas sudah terserang hama jamur dan bakteri,” ungkapnya kepada Koran ini kemarin (16/2).
Menurut Dewi, cuaca yang kerap berubah secara ekstrem, dan juga seringnya hujan, menjadi faktor utama munculnya serangan dua jenis hama tersebut.
Padahal karakter tanaman cabai, kata dia, tidak cocok dengan kondisi tanah yang terlalu lembap atau tergenang air.
“Curah hujan yang tinggi membuat kelembapan tanah meningkat. Tanaman cabai ini kan tidak suka air berlebih sehingga mudah terserang jamur dan bakteri,” jelasnya.
Dia menegaskan, serangan hama tersebut kemudian menimbulkan berbagai gejala pada tanaman cabai. Mulai dari daun yang menguning, tanaman layu, hingga buah yang seharusnya siap dipanen justru membusuk sebelum masa panen.
“Beberapa gejala cabai terserang hama misalnya daun menguning, layu, dan buah buahnya membusuk,” terangnya.
Dampak dari kondisi itu membuat produksi cabai petani tidak maksimal. Penurunan hasil panen pun berpotensi memengaruhi pendapatan petani serta ketersediaan cabai di pasaran. Biasanya kondisi ini akan diikuti dengan melonjaknya harga jual cabai.
“Kalau produksi terus menurun, tentu bisa berdampak pada pasokan dan harga cabai,” tambahnya.
Baca Juga: Profil 11 Pemain Asing Persib Bandung Usai Datangkan Tom Haye, Federico Barba, dan Patrick Mortensen
Untuk mengantisipasi kerugian yang lebih besar, DKPP mengimbau petani agar melakukan perawatan tanaman secara lebih intensif serta menggunakan fungisida sesuai anjuran guna menekan perkembangan jamur dan bakteri.
“Para petani harus merawat tanaman dan gunakan obat-obatan untuk menekan perkembangan jamur dan bakteri,” imbaunya.(bud/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah