BLITAR KAWENTAR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mencatat adanya 15 kasus suspek campak pada anak dalam periode Januari hingga pertengahan Maret 2026.
Jumlah tersebut dinilai masih terkendali dan belum menunjukkan lonjakan signifikan.
Baca Juga: PKDI Kabupaten Blitar Ingatkan Kades Jangan Main-main Soal Pengelolaan Anggaran Desa
Meskipun begitu, masyarakat diimbau tetap harus waspada terhadap adanya penyakit ini.
Kepala Dinkes Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati menjelaskan, kasus campak harus dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium.
Namun secara gejala klinis memang ditemukan sejumlah kasus di lapangan.
“Kalau positif campak itu harus dipastikan lewat lab. Tapi secara gejala memang ada, sekitar 15 kasus suspek dan jumlahnya tidak banyak,” ujarnya.
Menurutnya, relatif terkendalinya kasus campak di Kabupaten Blitar tidak lepas dari tingginya kesadaran masyarakat terhadap imunisasi.
Dia menyebut, mayoritas warga masih tertib mengikuti jadwal imunisasi anak, termasuk imunisasi campak pada bayi usia 9 bulan.
Kesadaran masyarakat untuk imunisasi cukup baik, sehingga kasus campak bisa ditekan.
Meski demikian, dia mengingatkan adanya potensi peningkatan penularan penyakit ketika arus mudik Lebaran.
Baca Juga: Tiga CJH Warga Kota Blitar Gagal Berangkat Haji Tahun Ini, Kemenag Ungkap Faktornya
Mobilitas masyarakat yang tinggi dinilai dapat membawa berbagai virus dan bakteri dari satu daerah ke daerah lain.
“Setiap musim mudik itu selalu ada potensi penularan penyakit, baik dari luar ke Blitar maupun sebaliknya karena mobilitas penduduk meningkat,” terangnya.
Sementara itu, bayi di bawah usia 9 bulan yang belum mendapatkan imunisasi campak tetap berpotensi terinfeksi.
Namun, bayi masih memiliki kekebalan dari ibunya, terutama jika sang ibu memiliki imunitas yang baik.
“Bayi di bawah 9 bulan masih punya antibodi dari ibu. Kalau ibunya kuat, harapannya bayinya juga terlindungi sampai waktunya imunisasi,” pungkasnya.
Penyakit yang paling sering muncul pada momen tersebut adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama saat memasuki musim pancaroba.
Selain itu, penyakit akibat virus seperti campak juga perlu diwaspadai.
“Yang paling banyak biasanya ISPA. Selain itu, penyakit karena virus, termasuk campak, juga perlu diantisipasi,” katanya.
Baca Juga: Ajang EJIES 2026 Kembali Bergulir, Ratusan Karya Ilmiah Guru Siap Beradu di Meja Juri
Tak hanya itu, Christine juga mengingatkan bahwa Covid-19 belum sepenuhnya hilang.
Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap menjaga kesehatan.
Baca Juga: Ajang EJIES 2026 Kembali Bergulir, Ratusan Karya Ilmiah Guru Siap Beradu di Meja Juri
Dia mengimbau masyarakat untuk menjaga stamina dengan mengonsumsi makanan bergizi serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh.
Kebutuhan cairan minimal 2 liter per hari tetap harus terpenuhi.
Baca Juga: Tiga CJH Warga Kota Blitar Gagal Berangkat Haji Tahun Ini, Kemenag Ungkap Faktornya
“Minum itu sering dilupakan. Padahal kebutuhan cairan tetap harus 2 liter per hari,” pungkasnya. (jar/c1/ynu)
Editor : Oksania Difa Ilmada