BLITAR KAWENTAR - Di tengah kondisi ekonomi yang cenderung tidak menentu, masyarakat diminta semakin bijak dalam mengelola keuangan, khususnya dalam lingkup rumah tangga.
Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok yang mulai terasa belakangan ini menjadi sinyal agar masyarakat tidak lengah dalam mengatur pengeluaran.
Pengamat ekonomi sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi Unisba, Suprianto, menegaskan pentingnya perencanaan keuangan yang matang bagi setiap keluarga.
Menurutnya, penyusunan anggaran menjadi langkah dasar agar pengeluaran dapat terkontrol dengan baik.
Baca Juga: Pemkot Blitar Dorong ASN Gowes ke Kantor, Wali Kota: Patwal Kami Batasi
“Setiap keluarga harus punya anggaran keuangan yang jelas. Dengan begitu, bisa membedakan mana kebutuhan yang benar-benar penting dan mana yang bisa ditunda,” ujarnya.
Dia menjelaskan, tanpa perencanaan yang baik, penggunaan uang cenderung tidak terarah.
Kondisi tersebut menjadi semakin berisiko di tengah situasi ekonomi global yang sulit diprediksi seperti saat ini.
Karena itu, masyarakat diminta mengedepankan prinsip efisiensi dalam setiap pengeluaran.
Menurutnya, pola hidup konsumtif perlu ditekan.
Keinginan untuk membeli barang yang belum menjadi kebutuhan sebaiknya ditunda.
Masyarakat juga diimbau memiliki skala prioritas agar pengeluaran lebih terarah dan tidak berlebihan.
“Sekarang mengatur keuangan jauh lebih sulit dibanding dulu. Maka harus lebih hati-hati dan disiplin dalam menggunakan uang,” tambahnya.
Baca Juga: Ada Ratusan SPPG di Kabupaten Blitar, tapi Masih Belasan Dapur MBG Kantongi Izin Lengkap
Selain faktor internal, kondisi eksternal juga turut memengaruhi perekonomian. Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, misalnya, berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia.
Dampaknya bisa merembet pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan berbagai kebutuhan lainnya.
Jika hal itu terjadi, lanjut Suprianto, ancaman inflasi menjadi hal yang perlu diwaspadai.
Meski demikian, masyarakat diminta untuk tidak panik, apalagi sampai melakukan panic buying atau membeli barang secara berlebihan.
“Panic buying justru bisa memperburuk situasi. Selain merugikan diri sendiri, juga berdampak pada masyarakat lain karena bisa menyebabkan kelangkaan barang,” tegasnya.
Di sisi lain, kebijakan efisiensi anggaran yang saat ini juga dilakukan pemerintah daerah turut memberikan dampak pada perputaran ekonomi.
Baca Juga: Dampak Wabah PMK, Pedagang Daging Sapi di Blitar Keluhkan Penjualan Sepi
Karena itu, masyarakat perlu menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut.
Dengan pengelolaan keuangan yang bijak, masyarakat diharapkan tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Baca Juga: Promo Toyota Calya 2026 Masih Gila Setelah Lebaran! Cicilan Mulai Rp1,6 Jutaan, Diskon Tetap Jalan
Prinsip sederhana seperti hidup hemat, menyusun anggaran, dan menghindari pembelian berlebihan, menjadi kunci agar tetap bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi.(sub/c1)
Editor : Oksania Difa Ilmada