BLITAR KAWENTAR - Nur Ida Fitria menjadi ketua perempuan pertama di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Blitar.
Di tengah dinamika politik yang kerap penuh tekanan, dia mampu membuktikan diri dalam mengawal demokrasi di Bumi Penataran agar berlangsung jujur dan adil.
Ida mampu menunjukkan ketegasan yang dibalut sikap tenang dalam mengawal jalannya demokrasi.
Perannya tak sekadar administratif, tetapi juga dalam menggerakkan seluruh jajaran menjaga integritas pemilu.
Semangat yang ditunjukkan Ida seolah merefleksikan perjuangan Kartini masa kini.
Dia berdiri di garis depan menjaga keadilan pemilu, memastikan setiap tahapan berjalan sesuai aturan.
Baginya, pengawasan bukan sekadar menindak pelanggaran, melainkan juga mencegahnya sejak awal.
“Di lapangan, perbedaan pendapat itu biasa, namun kepala harus tetap dingin. Sehingga semua tetap menjalani komunikasi yang baik,” ujarnya kepada Koran ini, kemarin (20/4).
Baca Juga: Refleksi Hari Kartini di Mata Ketua GOW Kota Blitar: Mari Terjang Ranah Publik Tanpa Abaikan Kodrat
Sebelum terjun ke dunia kepemiluan, Ida lebih dulu berkiprah sebagai tenaga pendidik.
Kariernya di dunia pendidikan cukup cemerlang.
Pada 2018, dia dinobatkan sebagai guru teladan.
Selain itu, dia juga pernah menjadi dosen di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar.
Namun, jalan hidup membawanya ke arah berbeda.
Pada tahun yang sama, Ida dipercaya menjadi komisioner Bawaslu Kabupaten Blitar.
Keputusan itu tidak mudah.
Dia harus merelakan sertifikasi guru yang telah diraih serta meninggalkan profesinya sebagai pendidik di sekolah dasar.
“Menjadi pengawas tidak harus memiliki latar belakang pendidikan hukum, pendidikan juga penting untuk mencegah pelanggaran-pelanggaran pemilu,” ujarnya.
Meski begitu, kecintaannya pada dunia pendidikan tidak pernah padam.
Justru, latar belakang tersebut menjadi bekal penting dalam menjalankan tugas sebagai pengawas pemilu.
Ida mengedepankan pendekatan edukatif kepada masyarakat agar kesadaran politik semakin meningkat.
Dengan pengalaman dan perspektifnya, Ida tak hanya hadir sebagai penegak aturan, tetapi juga sebagai pendidik demokrasi.
Dia ingin masyarakat tidak sekadar menjadi pemilih, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kualitas pemilu.
"Saat ini, kami getol menggaungkan literasi demokrasi. Utamanya bagi gen Z, agar demokrasi kita ke depan kian baik," beber ibu dua putri ini.
Di tangan Ida, semangat Kartini menemukan bentuk baru bukan lagi sekadar emansipasi, melainkan juga keberanian menjaga keadilan di ruang publik.(jar/c1/sub)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly