
KAWENTARAN – Penurunan kualitas air kolam menjadi ancaman serius bagi pembudidaya ikan di tengah fenomena El Nino ekstrem yang kerap disebut “El Nino Godzilla”.
Salah satu pemicu utamanya adalah sisa pakan yang tidak termakan ikan dan mengendap di dasar kolam.
Baca Juga: Penginapan Strategis dengan Harga Terjangkau di Kota Blitar Hanya Semeru Guest House Pilihannya
Kondisi tersebut semakin diperparah dengan meningkatnya suhu air selama musim kemarau panjang.
Air yang hangat mempercepat proses pembusukan sisa pakan, sehingga memicu peningkatan kadar amonia yang berbahaya bagi ikan.
Kabid Perikanan Budi Daya Disnakkan Kabupaten Blitar, Deki Nusa Asmara, menjelaskan perubahan kualitas air ini berdampak langsung pada kesehatan ikan.
“Sisa pakan yang tidak terkelola dengan baik akan membusuk dan menurunkan kualitas air. Ini bisa memicu stres hingga penyakit pada ikan,” ujarnya.
Menurutnya, saat suhu meningkat, kadar oksigen terlarut dalam air justru menurun. Kondisi ini membuat ikan lebih rentan terserang penyakit karena sistem imun melemah.
"Dalam situasi seperti ini, lingkungan kolam menjadi faktor krusial yang menentukan keberhasilan budidaya," sambungnya.
Dia menambahkan, pembudidaya perlu lebih cermat dalam manajemen pakan. Pemberian pakan yang berlebihan tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga mempercepat penurunan kualitas air.
“Berikan pakan secukupnya sesuai kebutuhan ikan, agar tidak ada sisa yang mengendap di dasar kolam,” katanya.
Baca Juga: Momen Peringatan Hari Jadi Kota Blitar, Pemkot Klaim Perputaran Uang Sekali Event Capai Ratusan Juta
Selain itu, pemantauan kualitas air perlu dilakukan secara rutin, termasuk mengecek suhu, kadar oksigen, serta potensi peningkatan amonia.
Jika ditemukan tanda-tanda penurunan kualitas air, langkah cepat seperti penggantian air atau peningkatan aerasi perlu segera dilakukan.
Baca Juga: 7 HP 2 Jutaan Terbaik Maret 2026, Ada AMOLED 144 Hz, Baterai 7000 mAh hingga HP 5G Murah
Deki juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan kolam sebagai langkah pencegahan.
"Dengan pengelolaan yang tepat, risiko munculnya penyakit akibat perubahan kualitas air dapat ditekan, meskipun kondisi cuaca sedang tidak bersahabat," tutupnya.(kho/sub)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar