PROYEK STRATEGIS: Sejumlah anak beraktivitas di kawasan Ecopark Joko Pangon, Kelurahan Gedog, kemarin (12/5). Pemkot Blitar akan melanjutkan pembangunan tahap ketiga dengan alokasi anggaran Rp 4 M dari APBD 2026.
BLITAR KAWENTAR - Pembangunan taman Ecopark Joko Pangon di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, akan berlanjut tahun ini.
Proyek destinasi wisata hijau dan konservasi yang kini memasuki tahap ketiga tersebut bakal menelan anggaran Rp 4 miliar (M) dari APBD 2026.
Baca Juga: Rawan Makan Korban, KAI Terus Tertibkan Perlintasan Sebidang Liar di Blitar
Kepala DLH Kota Blitar Jajuk Indihartati mengatakan bahwa proyek strategis ini sedang dalam tahap penyusunan detail engineering design (DED).
Dia menargetkan pengerjaan fisik di lapangan dapat dimulai pada semester kedua tahun ini.
“Pembangunan tahap ketiga, kami lanjutkan tahun ini. Sekarang masih dalam proses perencanaan DED. Target pembangunan fisik kemungkinan bulan Juli karena harus melalui proses tender terlebih dahulu,” ujarnya.
Pada fase ini, titik pengerjaan akan difokuskan pada area di sisi timur jembatan.
Sejumlah fasilitas yang direncanakan meliputi jalur pejalan kaki di tengah hutan (forest walk), area perkemahan, taman bermain anak, hingga zona konservasi.
“Anggaran Rp 4 M nanti difokuskan untuk jasa perencanaan, fisik, dan jasa pengawasan,” imbuhnya.
Baca Juga: Polisi Perketat Ibadah Misa Kenaikan Yesus Kristus di Blitar
Khusus untuk zona konservasi, DLH berencana menjadikannya sebagai lokasi pemindahan sebagian populasi rusa dari Kebon Rojo.
Hal ini dilakukan sebagai langkah mitigasi karena jumlah populasi rusa di Kebon Rojo saat ini dinilai sudah terlalu padat.
Baca Juga: Waspada Air Kotor selama Musim Kemarau, Dinkes Kabupaten Blitar: Bisa Picu Bakteri Panjang
Tidak sebanding dengan luas ruang yang ada.
“Rencananya sebagian rusa dari Kebon Rojo akan dibawa ke sini. Populasi di sana sudah tidak sesuai dengan ruangnya. Sudah terlalu banyak. Namun hanya sebagian saja, tetap akan ada rusa yang di Kebon Rojo,” jelasnya.
Terkait aspek lingkungan, Jajuk menegaskan bahwa pengembangan kawasan ini diupayakan tidak merusak ekosistem asli.
Vegetasi berupa pohon-pohon besar yang sudah ada di kawasan Joko Pangon akan tetap dipertahankan guna menjaga karakter hutan kota sekaligus fungsi resapan air.
Baca Juga: Jalan Merdeka Kota Blitar Mulai Retak-retak, Pemkot Tak Punya Anggaran
"Vegetasi dan pohon-pohon besar tetap dipertahankan agar ekosistem terjaga. Tujuannya agar tetap tampak seperti hutan meski digunakan untuk destinasi masyarakat," pungkasnya. (mg1/c1/ady)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly