Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Founding Forum Diskusi Kelas Bung Karno: Manifesto Sosio-Tekno Berdikari Bung Karno Bagi Generasi Masa Depan Indonesia

M. Subchan Abdullah • Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:47 WIB
Rangga Bisma Aditya.
Rangga Bisma Aditya. 

Oleh: Rangga Bisma Aditya, Ketua KPU Kota Blitar 2024-2029, Founding Forum Diskusi Kelas Bung Karno

BLITAR KAWENTAR - Ketika Sukarno berdiri di mimbar Dokuritsu Zunbi Coosakai pada 1 Juni 1945, bumi Indonesia sedang berada di bawah cengkeraman ketidakpastian global pasca-Perang Dunia II. Di tengah puing-puing geopolitik yang hancur, Bung Karno tidak menawarkan gagasan materiil yang kaku, melainkan sebuah tindakan eksistensial bagi bangsa Indonesia, dengan menggali kedalaman tradisi, jiwa, dan keringat rakyat nusantara untuk melahirkan Pancasila sebagai philosofische grondslag.

Hari ini, di tahun 2026, Indonesia dan dunia kembali berada di titik nadir krisis yang berbeda sifat namun sama destruktifnya. Gen Z dan Gen Alpha tidak lagi berhadapan dengan fasisme militer, melainkan dengan kolonialisme gaya baru seperti disrupsi Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), resesi ekonomi global yang memicu layoff (pemutusan hubungan kerja) massal di sektor teknologi, krisis iklim yang nyata, serta epidemik kesehatan mental akibat keterasingan digital. Untuk memperjuangkan kesejahteraan di tengah badai ini, generasi masa depan Indonesia membutuhkan sebuah kompas penuntun hidup, yaitu "Manifesto Sosio-Tekno Berdikari."

Baca Juga: Dari Pakaian, Buku, hingga Tanam 29.000 Pohon, PNM Perluas Makna Pemberdayaan di Masyarakat Akar Rumput

Menggali Pemikiran Bung Karno

​Melacak akar manifesto ini mengharuskan kita membuka kembali lembaran-lembaran pemikiran Bung Karno. Dalam pledoi Indonesia Menggugat (1930), Bung Karno membongkar watak imperialisme yang tidak hanya mengeksploitasi tanah, tetapi juga menjajah skema berpikir (cognitive colonization). Di tahun 2026, imperialisme itu bermutasi menjadi Platform Capitalism dan Data Colonialism. Perusahaan raksasa teknologi global mengekstrak data perilaku Gen Z dan Gen Alpha, mengaturnya dalam algoritma adiktif, dan menjadikan mereka sekadar komoditas pasar global. Anak muda hari ini rentan mengalami alienasi (keterasingan), merasa inferior jika tidak mengikuti tren global, dan terjebak dalam kecemasan konstan (FOMO).

​Lebih jauh, dalam tulisan Mencapai Indonesia Merdeka (1933), Bung Karno menulis bahwa kemerdekaan sejati tidak tercipta hanya dengan mengganti bendera, melainkan dengan menjebol struktur kapitalisme melalui Sosio-Demokrasi—sebuah tatanan ekonomi yang menolak pemusatan kemakmuran pada segelintir orang. Bagi Gen Z yang saat ini terhimpit di dalam ekosistem gig economy (pekerja lepas digital tanpa kepastian hukum) dan ancaman pengangguran akibat otomatisasi AI, pemikiran Bung Karno sangat relevan. Kesejahteraan tidak akan datang dari kemurahan hati pasar bebas global, melainkan dari kemandirian kolektif bangsa sendiri.

Baca Juga: ⁠Destinasi Kuliner Legendaris Mbok Sini di Blitar Ajak Pengunjung Nostalgia di Rumah Nenek, Di Sini Lokasinya

​Ketika dunia terbelah oleh Perang Dingin, Bung Karno melalui pidato To Build the World Anew (1960) di PBB menawarkan Pancasila sebagai asas internasionalisme yang humanis, menolak tunduk pada blok Barat maupun Timur. Hari ini, tahun 2026, perang dingin baru terjadi di ranah teknologi antara supremasi siber blok-blok raksasa dunia. Jika generasi masa depan Indonesia tidak memiliki jangkar ideologi yang kuat, mereka hanya akan menjadi penonton dan korban dari perang data global hari ini.

​Studi Kasus Sosio-Tekno Berdikari Sebagai Solusi

Sebagai jalan keluar konkrit dari krisis global 2026, Manifesto Sosio-Tekno Berdikari menawarkan solusi berbasis studi kasus nyata yang digali dari semangat kebangsaan Bung Karno ke dalam aksi teknologi yang humanis. Pertama, Studi Kasus Resiliensi Mental dalam Transformasi dari Mentality Inlander menuju Mental Kedaulatan Kognitif. ​Bung Karno adalah maestro dalam Nation and Character Building. Beliau konsisten menuntut runtuhnya mentalitas budak yang merasa minder terhadap bangsa asing. Di tahun 2026, krisis mental Gen Z mewujud dalam bentuk depresi akibat standarisasi hidup ideal versi media sosial global.

Baca Juga: Kisah Pemuda di Blitar Lulusan Teknik Tekuni Dunia Peternakan Ayam Petelur hingga Sapi Kurban

​​Kedua, Studi Kasus Gotong Royong Virtual dengan mendorong Kolektivisme Digital Melawan Monopoli Pasar. ​Pancasila jika diperas menjadi satu kata adalah Gotong Royong. Bung Karno mendambakan gotong royong sebagai aksi nyata, bukan teori. Di tahun 2026, fluktuasi ekonomi global membuat harga pangan dan kebutuhan hidup tidak stabil, sementara monopoli platform e-commerce raksasa sering kali mencekik pelaku UMKM lokal.

​Ketiga, Studi Kasus Kedaulatan Teknologi: Penerapan Trisakti dalam Kecerdasan Buatan (AI). Prinsip Trisakti (Berdaulat di bidang politik, Berdikari di bidang ekonomi, Berkepribadian dalam kebudayaan) adalah benteng utama melawan globalisasi yang menyeragamkan. Ketika AI generatif mengancam akan menghapus jutaan lapangan kerja kreatif dan administratif Gen Z dan Gen Alpha, kita tidak boleh meresponsnya dengan ketakutan atau penolakan pasif.

Baca Juga: Dari Pakaian, Buku, hingga Tanam 29.000 Pohon, PNM Perluas Makna Pemberdayaan di Masyarakat Akar Rumput

​​Langkah Nyata Generasi Masa Depan

​Manifesto Sosio-Tekno Berdikari tidak akan menjadi solusi jika hanya berhenti sebagai untaian kata di atas kertas. Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah nyata yang harus diambil oleh Gen Z dan Gen Alpha mulai hari ini. Mulai dari menjaga kedaulatan kognitif dengan membatasi algoritma yang disruptif. Gunakan waktu digital untuk mengasah keterampilan teknis tingkat tinggi seperti koding, analisis data, desain, kepemimpinan komunitas yang tidak mudah digantikan oleh robot.

​Langkah selanjutnya adalah merawat Kolektivisme Siber dengan menghentikan kultur cyber-bullying dan polarisasi di media sosial. Bangunlah jaringan kolaborasi virtual lintas disiplin ilmu. Bentuk tim-tim kecil di daerah untuk memecahkan masalah lokal menggunakan teknologi sederhana.

Baca Juga: Hotel Senyaman Ini di Kota Blitar Dibanderol di Bawah Rp 100 Ribu, Cek Ini Sejumlah Fasilitasnya

​Dan terpenting dalam hal Berdikari (Berdikari Di Bawah Kaki Sendiri) dengan mewujudkan Keadilan Ekonomi, terdapat kewajiban untuk terus mendukung ekosistem ekonomi digital lokal. Tidak ada salahnya kembali dengan memprioritaskan membeli produk dari platform mandiri milik bangsa, dan mulai merancang inovasi teknologi yang tidak menyingkirkan buruh, melainkan memberdayakan masyarakat kecil (Kaum Marhaen).

​Refleksi Bulan Bung Karno

​Bulan Bung Karno di tahun 2026 ini harus menjadi momentum berakhirnya masa depan yang pasif bagi generasi muda. Gen Z dan Gen Alpha bukanlah objek rapuh yang hancur diterjang krisis global. Gen Z dan Gen Alpha sebagai generasi masa depan Indonesia adalah subjek arsitek peradaban baru yang harus berpegang teguh pada Pancasila.

Jangan jadikan Pancasila sebagai dokumen sejarah yang kaku dan berdebu di museum. Jadikanlah Pancasila sebagai operating system yang dinamis dalam way of life bangsa. Ketika prinsip Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial ditenun ke dalam baris-baris kode algoritma, taktik ekonomi digital, dan ketahanan mental sehari-hari, maka lahirlah tatanan dunia baru yang adil dan makmur.

Baca Juga: Tagih Utang, Warga Panggungrejo Blitar Diancam Pisau hingga Alami Trauma

Jadikanlah Pancasila sebagai pondasi dari setiap inovasi teknologi yang diciptakan dan setiap kebijakan komunitas yang ditempuh. Dengan memegang teguh Manifesto Sosio-Tekno Berdikari ini, Generasi masa depan bangsa Indonesia dapat melanjutkan tugas sejarah yang belum selesai, yaitu membangun Indonesia yang tidak hanya merdeka, tetapi juga berdaulat, mandiri, dan bersinar menerangi jalan kemanusiaan dunia. Merdeka!(*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Bung Karno #indonesia #sukarno #Harlah #Rangga Bisma Aditya