Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠Melihat Festival Seribu Ambeng dalam Peringatan Haul Bung Karno di Kota Blitar

M. Subchan Abdullah • Selasa, 23 Juni 2026 | 14:00 WIB

MOCH. LUKI AZHARI/RADAR BLITAR
GUYUB RUKUN: Ribuan warga dari 650 RT tampak larut dalam kebersamaan saat menikmati hidangan di sepanjang Jalan Ir Soekarno, Kota Blitar, Sabtu (20/6) malam.
MOCH. LUKI AZHARI/RADAR BLITAR
 GUYUB RUKUN: Ribuan warga dari 650 RT tampak larut dalam kebersamaan saat menikmati hidangan di sepanjang Jalan Ir Soekarno, Kota Blitar, Sabtu (20/6) malam.

BLITAR KAWENTAR - Suasana puncak peringatan Haul Sang Proklamator di koridor Jalan Ir Soekarno kali ini berubah rupa.

 Barisan tumpeng menjulang berganti dengan ratusan talam ambengan dari 650 RT, menggeser esensi sekadar makan menjadi ruang kebersamaan warga Bumi Bung Karno yang duduk setara merawat tradisi.

MOCH. LUKI AZHARI, Radar Blitar, Sananwetan

Baca Juga: Jembatan Rusak Jalan Sukandar di Kota Blitar Mulai Dibangun, Dinas PUPR: Kami Upayakan Lebih Cepat agar Bisa Diakses Normal Kembali

Asap tipis dari aroma masakan tradisional membubung di sepanjang koridor Jalan Ir Soekarno, Sabtu (20/6).

 Sejak sore, ratusan warga dari berbagai penjuru kampung sudah berkumpul, duduk bersila di atas tikar yang membentang panjang.

Di hadapan mereka, bukan lagi barisan tumpeng menjulang seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan ratusan wadah talam dan tampah besar berisi nasi lengkap dengan aneka lauk-pauk kampung.

Baca Juga: ⁠Buntut Kasus Penyelundupan Pil Koplo dalam Kemaluan Perempuan di Lapas Blitar, Pengunjung Langsung Ditetapkan Tersangka

"Kalau pakai tumpeng biasanya makannya agak repot dan rebutan yang di atas. Kalau model ambengan begini, porsinya rata.

 Sambil nunggu pengajian dimulai, kami bisa makan bareng-bareng satu wadah tanpa sekat," ujar jatmiko, 42, salah seorang warga Kelurahan Bendogerit yang ikut memadati lokasi.

Bagi warga setempat, perubahan format ini justru menambah guyub suasana peringatan Haul Ke-56 Bung Karno.

Baca Juga: Semarak Bulan Bung Karno di Kota Blitar Ditutup dengan Pengajian Akbar hingga Ziarah Nasional, Ribuan Jemaah Tumplek Blek

Makan bersama dalam satu wadah besar dianggap lebih praktis dan mencerminkan semangat kesetaraan yang dulu kerap digaungkan oleh Sang Proklamator.

Pergeseran tradisi dari tumpengan menjadi Festival Ambengan antar-RT ini menjadi warna baru dalam rangkaian tahunan ruang publik Kota Blitar.

 Pemerintah Kota Blitar mengemasnya dalam bentuk kompetisi yang melibatkan keterwakilan dari 21 kelurahan untuk merawat kearifan lokal sekaligus mempererat kebersamaan warga.

Baca Juga: “Drama” KONI Kota Blitar Masih Berlanjut, Kunci Kantor KONI Masih Ditahan Pemkot dengan Alasan Ini

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Blitar, Rike Rochmawati, menjelaskan bahwa secara keseluruhan runtutan agenda Haul Bung Karno tetap mempertahankan struktur pokok seperti tahun lalu.

Prosesi diawali dengan semaan Alquran serta doa lintas agama di area Makam Bung Karno (MBK), kemudian dilanjutkan dengan selamatan dan pengajian akbar.

Namun, rekayasa format selamatan sengaja diubah tahun ini berdasarkan evaluasi kapasitas penampungan massa.

Baca Juga: Misteri di Balik Kisah Misteri Nyi Roro Kidul: Benarkah Larangan Baju Hijau di Pantai Selatan Hanya Mitos? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

"Tahun kemarin waktu acara pengajian akbar ada selamatan menggunakan tumpeng. Kalau tahun ini, kami ganti ke ambengan.

Ini menyesuaikan kebutuhan jemaah masyarakat banyak. Kalau tumpeng kapasitas kecil," kata Rike saat dikonfirmasi di sela-sela acara.

Melalui format festival, disbudpar menggaet partisipasi aktif masyarakat di tingkat akar rumput (RT).

Baca Juga: Kisah Misteri Nyi Roro Kidul, Asal-usul Sang Ratu Pantai Selatan yang Masih Dipercaya hingga Kini

Untuk memacu kreativitas, pihak penyelenggara menyiapkan apresiasi senilai Rp 1 juta bagi satu peserta terbaik di masing-masing kelurahan.

Proses kurasi dan penilaian di lapangan didasarkan pada parameter yang ketat, mulai dari estetika atau keindahan penyajian, kuantitas atau jumlah ambengan terbanyak yang mampu disajikan, hingga teknis pembagian makanan yang merata kepada seluruh jemaah yang hadir di lokasi.

 Setelah seluruh prosesi penilaian dan makan bersama selesai, agenda langsung disambung dengan pelaksanaan pengajian akbar.

Baca Juga: Fakta Nyi Roro Kidul yang Masih Dipercaya, Dari Legenda Pantai Selatan hingga Kisah Soekarno

Selain menjadi ruang berkumpulnya warga, momentum ini juga dihadiri oleh perwakilan keluarga Bung Karno, sejumlah kepala daerah di Jawa Timur, serta jajaran legislatif tingkat provinsi maupun pusat dari daerah pemilihan (dapil) Blitar.

Rike menambahkan, esensi utama dari metamorfosis acara ini adalah murni untuk melestarikan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Blitar, di samping sebagai instrumen refleksi sejarah agar generasi muda tidak kehilangan obor keteladanan dari perjuangan presiden pertama Republik Indonesia tersebut.

"Haul Bung Karno ini bagian melestarikan kearifan lokal Kota Blitar. Kami selalu memperingati hari lahir dan hari wafat Bung Karno. Harapannya, masyarakat terutama generasi muda dapat meneladani ajaran-ajaran Bung Karno dan tidak melupakan perjuangan pahlawan," pungkasnya. (*/c1/ady)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
#festival seribu ambeng #proklamator #bumi bung karno #Haul Bung Karno #Kota Blitar