Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

340 ODHIV di Kabupaten Blitar Hilang Kontak, Dinkes Waspadai Risiko Penularan HIV Meningkat

Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan • Senin, 29 Juni 2026 | 12:40 WIB
HIV
HIV

BLITAR KAWENTAR – Sebanyak 340 orang dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Blitar tercatat hilang kontak dengan layanan kesehatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar karena berpotensi meningkatkan risiko penularan HIV sekaligus menghambat keberhasilan pengobatan pasien.

Data Dinkes Kabupaten Blitar menunjukkan, sejak 2009 hingga 2026 jumlah kumulatif kasus HIV di Kabupaten Blitar telah mencapai 2.624 kasus. Dari total tersebut, sebanyak 1.246 orang meninggal dunia, 854 pasien masih aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV), 184 pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan luar daerah, sedangkan 340 lainnya berstatus loss to follow up (LFU) atau hilang kontak.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Christine Indrawati, mengatakan status hilang kontak tersebut dapat terjadi baik sebelum pasien memulai terapi maupun setelah menjalani pengobatan ARV. Kondisi itu menjadi tantangan besar dalam upaya pengendalian HIV di Kabupaten Blitar.

Baca Juga: Geger Temuan 50 Kasus Baru HIV di Kota Blitar, Ketua Komisi I DPRD Agus Zunaidi Soroti Fenomena LGBT di Medsos yang Makin Berani!

"Data kumulatif ODHIV di Kabupaten Blitar sejak 2009 sampai 2026 tercatat 2.624 orang. Dari jumlah itu, 1.246 orang dilaporkan meninggal dunia, 854 masih aktif menjalani pengobatan, dan 184 lainnya dirujuk ke layanan kesehatan di luar daerah. Sisanya kehilangan kontak dengan layanan kesehatan," ujarnya.

Kepatuhan Pengobatan Jadi Kunci

Christine menjelaskan, terapi ARV harus dijalani secara rutin dan berkelanjutan agar mampu menekan jumlah virus di dalam tubuh pasien. Karena itu, pasien yang berhenti menjalani pengobatan atau tidak lagi terpantau layanan kesehatan berisiko mengalami penurunan kondisi kesehatan sekaligus meningkatkan peluang penularan kepada orang lain.

Menurutnya, keberhasilan pengobatan HIV tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan obat, tetapi juga komitmen pasien untuk terus menjalani terapi sesuai anjuran tenaga medis.

Baca Juga: Mengungkap Fakta Kasus HIV/AIDS di Kota Blitar, Dinkes: Penderita Diprediksi Lebih Banyak dari Data Tercatat

"Pasien yang hilang kontak ini menjadi tantangan tersendiri karena keberhasilan terapi HIV sangat bergantung pada kepatuhan pengobatan yang dijalani secara rutin dan berkelanjutan," katanya.

Selain menjaga kesehatan pasien, kepatuhan mengonsumsi ARV juga menjadi salah satu strategi penting dalam menekan penyebaran HIV di masyarakat.

Kasus Baru Pernah Capai Puncak

Berdasarkan catatan Dinkes Kabupaten Blitar, jumlah temuan kasus baru HIV tertinggi terjadi pada 2023 dengan 199 kasus. Tingginya angka tersebut bukan semata-mata menunjukkan peningkatan penyebaran, melainkan juga dipengaruhi semakin luasnya kegiatan skrining dan deteksi dini yang dilakukan pemerintah.

Semakin banyak masyarakat yang mengikuti pemeriksaan kesehatan, semakin besar pula peluang menemukan kasus HIV lebih awal sehingga pasien dapat segera memperoleh pengobatan.

Karena itu, Dinkes terus memperluas upaya deteksi dini, terutama kepada kelompok masyarakat yang memiliki faktor risiko lebih tinggi. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan penularan HIV sekaligus meningkatkan kualitas hidup para penyintas.

Hilangkan Stigma terhadap ODHIV

Selain meningkatkan layanan kesehatan, Dinkes Kabupaten Blitar juga mengajak masyarakat untuk menghentikan stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV. Menurut Christine, masih adanya pandangan negatif di tengah masyarakat membuat sebagian pasien enggan memeriksakan diri maupun melanjutkan pengobatan.

Padahal, dengan pengobatan yang teratur, ODHIV dapat menjalani kehidupan secara produktif sekaligus menekan risiko penularan virus kepada orang lain.

Baca Juga: Penyakit Sifilis-HIV Jadi Temuan Paling Dominan saat Donor Darah di Blitar, Ini Penjelasan PMI

Dinkes berharap masyarakat, khususnya mereka yang merasa memiliki faktor risiko, tidak ragu melakukan pemeriksaan kesehatan sedini mungkin. Deteksi dini menjadi langkah penting agar pasien segera memperoleh terapi dan mencegah kondisi semakin memburuk.

"Kami mengajak masyarakat untuk tidak memberikan stigma kepada ODHIV. Pemeriksaan dini dan kepatuhan menjalani pengobatan sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita sekaligus menekan penyebaran HIV di masyarakat," pungkas Christine.

Dengan penguatan skrining, pendampingan pasien, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya terapi ARV, Dinkes Kabupaten Blitar berharap jumlah ODHIV yang hilang kontak dapat terus ditekan sehingga target pengendalian HIV di daerah dapat tercapai.

Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan
#odhiv kabupaten blitar #HIV kabupaten blitar #terapi hiv #penularan hiv #dinkes kabupaten blitar