Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Sejarah Hidup Ir Soekarno: Dari Masa Kecil Kusno Hingga Detik-Detik Terakhir yang Sunyi di Wisma Yaso

Muhammad Rusdian Nuzula • Kamis, 16 Juli 2026 | 21:00 WIB
Pelajari lengkap sejarah hidup Ir Soekarno dari masa kecil Kusno, perjuangan kemerdekaan, hingga detik-detik terakhir yang sunyi di Wisma Yaso. (PINTEREST)
Pelajari lengkap sejarah hidup Ir Soekarno dari masa kecil Kusno, perjuangan kemerdekaan, hingga detik-detik terakhir yang sunyi di Wisma Yaso. (PINTEREST)

BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Kisah perjuangan proklamator kemerdekaan Indonesia selalu menarik diulas, terutama bagaimana dinamika sejarah hidup Ir Soekarno yang penuh dengan prestasi sekaligus kontroversi. Beliau merupakan presiden pertama Republik Indonesia yang sangat disegani dunia. Namun, tidak semua orang mengetahui pasang surut perjalanan pribadinya secara detail.

Menelusuri kembali sejarah hidup Ir Soekarno membawa kita pada kenyataan yang cukup mengejutkan. Sang bapak bangsa ternyata terlahir dengan nama asli Kusno Sosrodiharjo. Beliau lahir di Blitar, Jawa Timur pada tanggal 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Karena sering sakit-sakitan saat kecil, nama Kusno akhirnya diganti menjadi Soekarno oleh orang tuanya. Perubahan nama ini menjadi babak baru yang krusial dalam sejarah hidup Ir Soekarno. Sejak masa kecilnya, Soekarno dikenal sebagai anak cerdas yang berhasil menguasai sembilan bahasa asing dan daerah.

Baca Juga: Kupas Perbedaan Daihatsu Xenia Bekas Purwokerto Tipe X dan R 2014, Harga Sama Mana yang Paling Layak Dipinang?

Masa Muda dan Awal Perjuangan Politik

Pendidikan dasar Soekarno dimulai di Tulungagung sebelum akhirnya pindah mengikuti ayahnya ke Mojokerto. Di kota tersebut, ayahnya bertugas sebagai kepala sekolah the inland school. Pada tahun 1911, Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) demi memudahkannya masuk ke Hogere Burger School (HBS).

Soekarno berhasil diterima di HBS Surabaya berkat bantuan dari sahabat ayahnya, Haji Umar Said Tjokroaminoto. Pendiri Sarekat Islam tersebut bahkan menyediakan kamar pondokan untuk tempat tinggal Soekarno muda. Selama tinggal di sana, Soekarno mulai berinteraksi dengan tokoh-tokoh besar seperti Alimin, Musso, Darsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis.

Tjokroaminoto memberikan tugas menulis kolom kepada Soekarno di koran ternama miliknya, Utusan Hindia. Pengalaman berharga ini menjadi sarana belajar politik sekaligus melatih ketajaman berpidato bagi Soekarno. Beliau juga aktif dalam organisasi pemuda Trikoro Dharmo dan mulai mengenal tokoh nasional seperti Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, serta Ki Hajar Dewantara.

Jejak Pernikahan dan Dinamika Keluarga

Sebelum lulus sekolah menengah pada tahun 1919, istri Tjokroaminoto yang bernama Suharsikin meninggal dunia. Untuk meringankan beban sang mentor, Soekarno memutuskan menikahi putri Tjokroaminoto, Siti Utari, pada tahun 1921. Namun, Soekarno mengaku tidak pernah menyentuh Siti Utari karena menganggap istrinya tersebut masih di bawah umur.

Soekarno kemudian melanjutkan kuliah teknik sipil di Technische Hoogeschool (THS) Bandung yang kini menjadi ITB. Di Bandung, beliau menyewa kamar di rumah pengusaha bernama Haji Sanusi dan istrinya, Inggit Garnasih. Pernikahan Soekarno dan Siti Utari akhirnya kandas, lalu beliau menikah dengan Inggit Garnasih pada tahun 1923.

Inggit menjadi sosok istri setia yang selalu mendampingi jatuh bangunnya perjuangan politik Soekarno selama bertahun-tahun. Pada 25 Mei 1926, Soekarno resmi lulus dari THS dan menyandang gelar insinyur teknik sipil. Selain mendirikan biro arsitek bersama Ir. Anwari, beliau juga sempat bekerja sebagai buruh kasar kereta api, guru, dan penulis.

Pertemuan dengan Hatta dan Puncak Kepemimpinan

Pada 4 Juli 1927, Soekarno yang berusia 26 tahun mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk melawan penjajah Belanda. Akibat pergerakan radikalnya, beliau sempat dijebloskan ke Penjara Banceuy dan Lapas Sukamiskin Bandung. Setelah PNI dibubarkan, beliau bergabung dengan Partindo namun kembali diasingkan Belanda ke Ende, Nusa Tenggara Timur.

Di masa pengasingan, Soekarno sempat berdiskusi sengit dengan tokoh pemuda terpelajar, Muhammad Hatta. Hatta mengkritik metode PNI terdahulu yang dinilai hanya bertumpu pada kekuatan figur individu tunggal. Sebaliknya, Soekarno menilai pergerakan kaum terpelajar tidak akan berhasil tanpa merangkul rakyat kecil secara langsung.

Meskipun berbeda pandangan politik, keduanya sepakat bekerja sama demi kepentingan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Ketika diasingkan ke Bengkulu pada 1938, Soekarno jatuh cinta kepada Fatmawati, putri pimpinan Muhammadiyah setempat. Inggit menolak dipoligami dan memilih bercerai secara resmi pada tahun 1943 sebelum Soekarno menikahi Fatmawati.

Pernikahan dengan Fatmawati dikaruniai lima orang anak, yaitu Guntur, Megawati, Rahmawati, Sukmawati, dan Guruh Soekarnoputra. Fatmawati kemudian menjabat sebagai ibu negara pertama Republik Indonesia setelah kemerdekaan diproklamasikan. Beliau juga tercatat sebagai sosok yang menjahit bendera merah putih pertama Indonesia.

Baca Juga: Kupas Perbedaan Daihatsu Xenia Bekas Purwokerto Tipe X dan R 2014, Harga Sama Mana yang Paling Layak Dipinang?

Kejatuhan Politik Pascaperistiwa G30S/PKI

Seiring berjalannya waktu, kehidupan rumah tangga Soekarno terus mengalami dinamika yang sangat kompleks. Beliau tercatat berturut-turut menikahi Hartini, Kartini Manopo, Naoko Nemoto (Ratna Sari Dewi), Haryati, Yurike Sanger, dan Heldy Djafar. Di sisi lain, stabilitas politik nasional mulai goyah dan memperlemah posisi kekuasaannya.

Mundurnya Wakil Presiden Mohammad Hatta pada tahun 1956 menjadi awal keretakan kekuasaan dwi-tunggal tersebut. Puncak pergolakan politik terjadi saat meletusnya peristiwa pemberontakan G30S/PKI pada tahun 1965 yang melumpuhkan sebagian besar wilayah. Kejadian berdarah ini memicu gelombang ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan Soekarno.

Pada tahun 1967, Soekarno secara resmi mundur dari jabatannya setelah berkuasa selama 22 tahun lamanya. Beliau kemudian digantikan oleh Jenderal Soeharto yang memimpin jalannya pemerintahan orde baru. Mundurnya Soekarno menandai berakhirnya era kepemimpinan sang proklamator di panggung politik Indonesia.

Hari-Hari Terakhir yang Sunyi di Wisma Yaso

Setelah resmi Lengser, Soekarno dihimbau meninggalkan Istana Merdeka dan Istana Bogor oleh pemerintahan baru. Beliau kemudian ditempatkan untuk menetap di Wisma Yaso di bawah pengawasan militer yang sangat ketat. Di tempat isolasi ini, Soekarno hidup sebatang kara tanpa ada satu pun anggota keluarga yang menemani secara bebas.

Kondisi fisik sang proklamator terus merosot tajam akibat menderita penyakit gagal ginjal yang sangat parah. Karena statusnya sebagai tahanan rumah, beliau hanya mendapatkan perawatan medis yang sangat seadanya dari dokter kepresidenan. Menjelang akhir hayatnya, Soekarno yang kesepian mulai pikun dan sering terlihat berbicara sendiri.

Perjalanan panjang bapak bangsa akhirnya terhenti selamanya pada tanggal 21 Juni 1970 di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Tokoh besar yang wafat pada usia 69 tahun ini kemudian dibawa dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Kepergiannya menjadi bukti sejarah bahwa kekuasaan manusia memiliki batas, dan kuasa Tuhan adalah yang tertinggi.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
sejarah hidup Ir Soekarno sejarah hidup Ir Soekarno dari masa kecil hingga akhir hayat di Wisma Yaso biografi Bung Karno istri Soekarno Wisma Yaso