Kasus DBD Kabupaten Blitar Turun Drastis, Tinggal 44 Kasus hingga Pertengahan 2026 Berkat PSN dan Gerakan Jumantik

Akhmad Nur Khoiri • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 13:00 WIB
Petugas Jumantik memeriksa tempat penampungan air warga dalam kegiatan PSN 3M Plus untuk mencegah penyebaran DBD di Kabupaten Blitar. (AI)
Petugas Jumantik memeriksa tempat penampungan air warga dalam kegiatan PSN 3M Plus untuk mencegah penyebaran DBD di Kabupaten Blitar. (AI)

 

BLITAR KAWENTAR – Kasus DBD Kabupaten Blitar menunjukkan penurunan signifikan hingga pertengahan 2026.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mencatat hanya terdapat 44 kasus demam berdarah dengue (DBD) sepanjang semester pertama tahun ini.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dua tahun sebelumnya, menandakan berbagai upaya pengendalian penyakit mulai membuahkan hasil.

Baca Juga: Pembangunan KDMP di Desa Tlogo Berdampak ke SDN Tlogo 02, Perpustakaan Dibongkar tetapi Jumlah Siswa Tetap Stabil

Penurunan kasus DBD Kabupaten Blitar menjadi kabar menggembirakan di tengah ancaman penyakit yang kerap meningkat saat musim hujan.

Pemerintah daerah bersama puskesmas dan masyarakat dinilai berhasil memperkuat langkah pencegahan melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN), gerakan satu rumah satu jumantik, pemantauan wilayah endemis, hingga pembagian larvasida.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar drg Anggit Ditya Putranto mengatakan, tren penurunan tersebut terlihat jelas jika dibandingkan dengan data dua tahun terakhir.

Baca Juga: Ngudoroso lewat Lagu Kondisi Saat Ini, Musisi Blitar, Abonjhon: "Kabeh Kakean Atraksi"

Pada 2024 jumlah kasus DBD mencapai 1.359 kasus, kemudian turun menjadi 540 kasus pada 2025, dan kembali merosot menjadi 44 kasus hingga pertengahan 2026.

Anggit menjelaskan, penurunan angka kasus tidak terjadi secara kebetulan. Menurutnya, berbagai program pengendalian yang dilakukan secara konsisten menjadi faktor utama menurunnya penyebaran penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Program yang dijalankan meliputi pemberantasan sarang nyamuk (PSN), gerakan satu rumah satu jumantik, pemetaan wilayah endemis, hingga distribusi larvasida ke daerah yang dinilai memiliki risiko tinggi.

Seluruh langkah tersebut dilakukan secara terpadu bersama jajaran puskesmas serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

"Capaian 44 kasus ini menunjukkan tren yang cukup baik. Upaya yang kami lakukan bersama puskesmas dan masyarakat mulai dari pemetaan wilayah endemis, gerakan satu rumah satu jumantik, hingga distribusi larvasida cukup membantu menekan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti," ujar Anggit.

Keberhasilan tersebut menjadi indikator bahwa pengendalian DBD membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah dan masyarakat.

Baca Juga: Infinix Note 50 Pro vs Infinix Note 50s 5G Plus: Duel Sengit HP Rp3 Jutaan, Pilih Performa 5G atau Fitur Pro?

Selain pelayanan kesehatan, perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan juga menjadi faktor penting.

Berdasarkan catatan Dinkes Kabupaten Blitar, jumlah kasus DBD sepanjang 2026 mengalami fluktuasi setiap bulan.

Januari menjadi periode dengan jumlah penderita terbanyak, yakni mencapai 17 kasus.

Baca Juga: Wawali Kota Blitar Mulai Pimpin Rapat Harian KONI, Agenda Bahas Persiapan POPDA hingga Porprov Jatim 2027

Selanjutnya angka tersebut terus menurun menjadi tujuh kasus pada Februari, tiga kasus pada Maret, empat kasus pada April, enam kasus pada Mei, dan tujuh kasus pada Juni.

Data tersebut menunjukkan penyebaran penyakit relatif terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Meski demikian, Dinkes menegaskan bahwa kewaspadaan tidak boleh berkurang. Pengawasan tetap difokuskan pada wilayah yang masih ditemukan kasus agar penularan tidak kembali meningkat, terutama ketika memasuki musim penghujan.

Baca Juga: Pagu SD Negeri di Blitar Sepi, DPPPAPPKB Bantah Akibat Program KB Berhasil

Dinkes Kabupaten Blitar memastikan berbagai upaya pencegahan akan terus diperkuat sepanjang 2026.

Peran masyarakat dinilai menjadi kunci utama mempertahankan tren penurunan kasus DBD.

Karena itu, masyarakat diimbau secara rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus.

Baca Juga: Sempat Sebatang Kara, Empat Anak di Kota Blitar Kini Resmi Punya Orang Tua Asuh

 Langkah tersebut meliputi menguras tempat penampungan air secara berkala, menutup rapat wadah penyimpanan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah.

Penerapan pola hidup bersih dan kepedulian terhadap lingkungan diyakini mampu mencegah perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD secara lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan pengasapan atau fogging ketika kasus mulai meningkat.

Dinkes berharap masyarakat tetap menjaga konsistensi menjalankan gerakan 3M Plus, sehingga tren penurunan kasus DBD di Kabupaten Blitar dapat dipertahankan hingga akhir tahun.

Baca Juga: Cerita Pelaku UMKM di Cimahi setelah Ikuti Pelatihan Sertifikasi Halal BRI Peduli: Alhamdulillah Omzet Saya Meningkat

 Dengan sinergi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dan warga, penyebaran demam berdarah diharapkan semakin terkendali dan tidak kembali mencapai angka tinggi seperti yang pernah terjadi pada 2024 maupun 2025. (kho/c1/sub)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
Kasus DBD Kabupaten Blitar DBD 2026 3M Plus demam berdarah dengue dinkes kabupaten blitar