Jejak Legenda Lembu Suro di Gunung Kelud, Kisah Sayembara Majapahit yang Sarat Makna

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 19:25 WIB
Jejak legenda Lembu Suro di Gunung Kelud mengisahkan sayembara Majapahit, asal-usul Gunung Pegat, serta pesan moral yang diwariskan turun-temurun.(Pinterest)
Jejak legenda Lembu Suro di Gunung Kelud mengisahkan sayembara Majapahit, asal-usul Gunung Pegat, serta pesan moral yang diwariskan turun-temurun.(Pinterest)

BLITAR - Jejak legenda Lembu Suro di Gunung Kelud masih menjadi bagian dari cerita rakyat yang terus diwariskan oleh masyarakat Jawa Timur. Legenda ini mengisahkan perjalanan Lembu Suro dalam mengikuti sayembara Kerajaan Majapahit hingga munculnya sumpah yang kemudian dikaitkan dengan asal-usul Gunung Pegat dan tradisi di kawasan Gunung Kelud.

Pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya, Kerajaan Majapahit menggelar sayembara untuk menentukan pendamping Diah Ayu Pusparini. Sang putri dikenal memiliki paras cantik sehingga banyak pangeran dan kesatria datang mengikuti perlombaan tersebut.

Syarat sayembara tidak mudah. Setiap peserta diwajibkan merentangkan busur pusaka Kiai Garuda Yaksa dan mengangkat Gong Kiai Sekar Delima. Meski diikuti banyak kesatria, tidak ada satu pun yang mampu menyelesaikan kedua tantangan itu.

Baca Juga: Telaga Rambut Monte Blitar, Mengungkap Mitos Pesugihan dan Legenda Ikan Dewa Sengkaring

Kemunculan Lembu Suro Mengubah Jalannya Sayembara

Ketika perlombaan hampir selesai, datang seorang pemuda berkepala lembu yang memperkenalkan diri sebagai Lembu Suro. Kehadirannya menarik perhatian seluruh peserta dan rakyat yang menyaksikan sayembara.

Tanpa mengalami kesulitan berarti, Lembu Suro berhasil merentangkan busur pusaka dan mengangkat Gong Kiai Sekar Delima. Keberhasilan tersebut membuatnya dinyatakan sebagai pemenang sesuai aturan yang telah ditetapkan Prabu Brawijaya.

Namun kemenangan itu justru membuat Diah Ayu Pusparini merasa sedih karena tidak menginginkan pernikahan tersebut berlangsung.

Sumur Gunung Kelud Menjadi Tantangan Terakhir

Sebelum pernikahan dilaksanakan, Diah Ayu Pusparini mengajukan syarat tambahan. Lembu Suro diminta menggali sebuah sumur di puncak Gunung Kelud dan harus menyelesaikannya sebelum matahari terbit.

Lembu Suro menerima tantangan itu tanpa ragu. Ia mulai menggali menggunakan tanduknya hingga pekerjaan berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan semua orang.

Melihat sumur hampir selesai sebelum fajar, Diah Ayu Pusparini meminta bantuan Prabu Brawijaya untuk menghentikan usaha tersebut.

 

Sumpah Lembu Suro Menjadi Bagian dari Legenda

Prabu Brawijaya kemudian memerintahkan para pengawal menimbun sumur menggunakan batu dan tanah. Lembu Suro akhirnya terkubur hidup-hidup di dalam lubang yang sedang ia gali.

Sebelum suaranya menghilang, Lembu Suro mengucapkan sumpah yang kemudian menjadi bagian penting dalam legenda Jawa Timur. Sumpah itu menyebut Kediri akan menjadi sungai, Blitar menjadi daratan, dan Tulungagung berubah menjadi perairan sebagai akibat dari pengkhianatan yang diterimanya.

Baca Juga: Telaga Rambut Monte Blitar, Mengungkap Mitos Pesugihan dan Legenda Ikan Dewa Sengkaring

Gunung Pegat dan Warisan Cerita Rakyat

Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, Prabu Brawijaya bersama para penasihat kerajaan kemudian membangun tanggul besar yang dikenal sebagai Gunung Pegat sebagai salah satu upaya menangkal dampak sumpah tersebut.

Selain itu, ritual larung sesaji ke kawah Gunung Kelud juga disebut dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan. Tradisi itu dipercaya terus diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat sekitar.

Terlepas dari berbagai versi yang berkembang, legenda Lembu Suro tetap menjadi cerita rakyat yang melekat di tengah masyarakat Jawa Timur. Kisah tersebut bukan hanya menceritakan asal-usul sejumlah tempat, tetapi juga mengandung pesan mengenai arti kejujuran, tanggung jawab, serta pentingnya menepati janji.

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Walking In Java
Lembu Suro Legenda Majapahit Cerita Rakyat Jawa Timur gunung kelud gunung pegat