BLITAR KAWENTAR – Senyum hangat Fendriana Anitasari selalu menyambut kedatangan para “Yang Tersayang”. Sebutan tersebut digunakan Kepala Desa Wonorejo, Kecamatan Talun, untuk menyebut para penyintas gangguan jiwa yang mendapatkan pendampingan di Posyandu Jiwa Seroja Warta.
Posyandu Jiwa Seroja Warta yang digagas Fendriana sejak 2017 menjadi pelopor posyandu jiwa pertama di Kabupaten Blitar. Kehadiran wadah tersebut tidak sekadar menyediakan layanan pemeriksaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengikis stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Bagi Fendriana, para penyintas gangguan jiwa tetap merupakan bagian dari masyarakat yang harus mendapatkan perhatian dan diperlakukan secara manusiawi. Karena itu, dia memilih menyebut mereka sebagai “Yang Tersayang”.
Baca Juga: Remisi Lapas Blitar Berbuah Kebebasan, 341 Napi Dapat Potongan Hukuman dan 5 Orang Langsung Pulang
Berawal dari Melihat Warga Dipasung
Gagasan mendirikan layanan kesehatan jiwa tersebut berawal dari pengalaman pribadi Fendriana sekitar sembilan tahun sebelum Posyandu Jiwa Seroja Warta berdiri. Saat itu, dia melihat salah seorang warganya hidup dalam kondisi dipasung.
Kondisi tersebut membuat Fendriana merasa iba. Dia kemudian memikirkan cara agar warga tersebut dapat kembali hidup secara wajar di tengah masyarakat.
Dorongan tersebut membuatnya mengajukan usulan kepada dinas kesehatan dan Puskesmas Talun untuk membentuk wadah perawatan jiwa. Dari gagasan tersebut, kemudian lahirlah Poskeswa Seroja Warta di Desa Wonorejo.
Setiap Rabu pertama setiap bulan, kegiatan posyandu jiwa dilaksanakan. Para penyintas mendapatkan pemeriksaan fisik rutin, mulai dari penimbangan berat badan hingga pengukuran tekanan darah. Mereka juga mendapatkan pendampingan psikologis.
Baca Juga: 19.602 Warga Kota Blitar Dapat Beras Bantuan, Ini Bedanya dengan Penyaluran Sebelumnya
Pernah Selamatkan Penyintas di Bawah Bambu
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Fendriana adalah ketika menyelamatkan seorang penyintas perempuan yang disebut Mbak X. Saat ditemukan, perempuan tersebut berada dalam kondisi memprihatinkan di bawah rimbun pohon bambu.
Kondisinya sangat tidak terawat. Rambutnya gimbal parah dan di dalam rambut tersebut ditemukan ratusan sedotan serta botol minuman plastik. Tubuhnya juga sangat kotor.
Fendriana bersama pihak yang mendampingi kemudian membawa Mbak X pulang dan membersihkannya. Rambutnya dipotong dan perlahan kondisinya mulai membaik.
Baca Juga: Enam Kepala OPD Kota Blitar Resmi Dilantik, Sekda dan Direktur RSUD Masih Menunggu
Sekitar satu bulan setelah penyelamatan, terjadi momen yang membuat Fendriana terharu. Mbak X ternyata mampu mengenalinya hanya melalui suara.
Pengalaman tersebut membuat Fendriana semakin yakin bahwa para penyintas memiliki ingatan mendalam terhadap orang-orang yang memberikan perhatian dan kebaikan secara tulus.
Jumlah Pasien Menurun, Kasus Baru Tetap Ada
Kerja keras Poskeswa Seroja Warta juga terlihat dari perkembangan jumlah pasien di Kecamatan Talun. Pada awal berdiri, tercatat sekitar 200 pasien. Kini jumlah tersebut berhasil ditekan hingga sekitar 70 pasien.
Baca Juga: Kirab Takir Binangun Meriahkan HUT Ke-81 RI, Warga Hidupkan Gotong Royong dan Tradisi Lokal
Namun, Fendriana menyebut masih terdapat dinamika kasus baru. Salah satu perhatian utamanya adalah munculnya kasus pada kelompok usia produktif, yakni sekitar 18 hingga 45 tahun.
Menurutnya, faktor pemicu tidak hanya berkaitan dengan genetik. Guncangan ekonomi, tuntutan gaya hidup yang tidak sebanding dengan kondisi finansial orang tua, kegagalan asmara hingga perceraian juga disebut menjadi bagian dari persoalan yang dihadapi.
Kondisi tersebut membuat keberadaan pendampingan kesehatan jiwa tetap diperlukan. Terlebih, mempertahankan Poskeswa selama hampir satu dekade bukan pekerjaan mudah.
Baca Juga: Hak Asuh Anak Ruben Onsu dan Sarwendah Disebut Segera Diputus, Ini yang Dibahas Dokter Cinta
Puluhan Kader Jiwa Terlibat
Keberlangsungan Poskeswa Seroja Warta juga tidak lepas dari keterlibatan kader. Dari semula hanya diperkuat 12 kader di tingkat kecamatan, kini jumlah kader jiwa di Kecamatan Talun berkembang menjadi hampir 60 orang yang tersebar di desa-desa.
Fendriana mengakui mencari kader jiwa bukan perkara mudah. Dibutuhkan keikhlasan, ketelatenan dan rasa welas asih untuk mendampingi para “Yang Tersayang”.
Baginya, pelayanan kesehatan jiwa tidak cukup hanya mengandalkan program. Ada unsur kemanusiaan yang harus hadir dalam setiap pendampingan.
Selama hampir satu dekade, Fendriana bersama para kader terus menjaga keberadaan Posyandu Jiwa Seroja Warta. Bagi mereka, setiap penyintas yang perlahan kembali mengenali lingkungan dan menjalani kehidupan secara lebih baik menjadi bagian penting dari perjuangan tersebut. (jar/c1/ady)
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan