BLITAR KAWENTAR – Kontingen Kabupaten Blitar harus melakukan perampingan jumlah atlet yang akan diberangkatkan ke Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Timur di Kabupaten Ngawi. Dari persiapan yang melibatkan 30 cabang olahraga (cabor), Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Blitar berencana hanya mengirim sekitar 50 atlet potensial.
Kebijakan tersebut diambil di tengah keterbatasan anggaran daerah serta regulasi kepesertaan Popda yang cukup ketat. Salah satu aturan yang menjadi kendala adalah ketentuan mengenai domisili sekolah atlet.
Kepala Dispora Kabupaten Blitar Anindya Putra Robertus mengatakan pihaknya harus menyiasati kondisi tersebut secara realistis. Selain keterbatasan anggaran akibat efisiensi, banyak atlet binaan Kabupaten Blitar tidak dapat memperkuat daerah karena bersekolah di luar wilayah kabupaten.
Baca Juga: Siap Sinergi, Cabdindik Blitar Dorong Guru dan Siswa Melek AI untuk Tingkatkan Kreativitas dan Kompe
Aturan Domisili Sekolah Jadi Kendala
Regulasi teknis kepesertaan yang diterbitkan Dispora Provinsi Jawa Timur menetapkan bahwa keikutsertaan atlet Popda berdasarkan domisili sekolah. Artinya, status peserta tidak ditentukan berdasarkan tempat tinggal atlet maupun daerah tempat atlet mendapatkan pembinaan.
Kondisi tersebut menjadi persoalan bagi Kabupaten Blitar. Sebab, terdapat sejumlah atlet berbakat yang selama ini dibina pengurus cabor maupun KONI Kabupaten Blitar, tetapi menempuh pendidikan di sekolah yang berada di luar Kabupaten Blitar.
Atlet yang bersekolah di Kota Blitar, misalnya, secara aturan harus membela Kota Blitar dalam Popda. Kondisi tersebut membuat sejumlah atlet potensial hasil pembinaan Kabupaten Blitar justru tidak dapat masuk dalam kontingen daerahnya sendiri.
Baca Juga: BEN Carnival 2026 Tak Sekadar Karnaval, Jadi Ajang Promosi Wisata dan Gerakkan Industri Kreatif
Selain aturan domisili sekolah, persyaratan usia peserta juga diperketat. Atlet yang diperbolehkan mengikuti Popda harus memenuhi batas kelahiran maksimal tahun 2009 dan masih duduk di bangku sekolah maksimal kelas 2 SMA atau sederajat.
Kombinasi regulasi tersebut membuat proses penyaringan atlet menjadi lebih ketat. Dispora Kabupaten Blitar harus memastikan atlet yang dipilih benar-benar memenuhi persyaratan administrasi sekaligus memiliki potensi prestasi.
Hanya 50 Atlet yang Diberangkatkan
Di tengah keterbatasan anggaran, Dispora Kabupaten Blitar memilih melakukan perampingan kontingen. Dari 30 cabor yang dipersiapkan, hanya atlet yang dinilai memiliki peluang besar menyumbangkan medali yang akan diprioritaskan.
Anindya mengatakan sekitar 50 atlet potensial menjadi target pemberangkatan ke Popda Ngawi. Jumlah tersebut jauh lebih selektif dibandingkan jika seluruh cabor diberangkatkan dengan komposisi atlet yang lebih banyak.
Pemetaan dilakukan untuk menentukan cabor yang memiliki peluang paling besar meraih prestasi. Atlet yang dipertahankan dalam skuat utama minimal memiliki catatan prestasi atau pernah menjadi juara dalam kejuaraan tingkat provinsi maupun nasional.
Baca Juga: BEN Carnival 2026 Tak Sekadar Karnaval, Jadi Ajang Promosi Wisata dan Gerakkan Industri Kreatif
Dengan sistem tersebut, Dispora berharap keterbatasan jumlah personel tidak mengurangi peluang Kabupaten Blitar untuk bersaing dalam perolehan medali.
Balap Sepeda Jadi Salah Satu Andalan
Dari hasil pemetaan awal, terdapat 10 cabor unggulan yang dinilai memiliki peluang menyumbangkan medali. Salah satu yang menjadi tumpuan adalah cabang olahraga balap sepeda dan Mountain Bike (MTB).
Potensi tersebut bukan tanpa alasan. Pada kejuaraan terakhir di Banyuwangi, atlet Kabupaten Blitar berhasil mengamankan dua medali emas. Prestasi tersebut membuat atlet yang bersangkutan masih masuk dalam kualifikasi untuk tampil di Popda Ngawi.
Dispora Kabupaten Blitar berharap capaian tersebut dapat menjadi modal untuk menghadapi persaingan di tingkat Jawa Timur. Meski jumlah atlet terbatas, strategi pemilihan berdasarkan rekam prestasi diharapkan membuat kontingen tetap kompetitif.
Dengan mengandalkan cabor unggulan dan atlet berprestasi, Kabupaten Blitar berupaya tetap memasang target terukur di Popda Ngawi. Sementara persoalan domisili sekolah dan keterbatasan anggaran menjadi evaluasi tersendiri dalam pembinaan atlet pelajar ke depan. (jar/sub)
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan