Jamasan Gong Kiai Pradah 2026 Tetap Banjir Warga Meski Tanpa Gunungan Tumpeng, Ada Apa?

Fajar Rahmad Ali Wardana • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 09:45 WIB
Terik matahari di Alun-Alun Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, terasa membakar kulit. Namun, ribuan pasang mata tak bergeming sedikit pun. Mereka menunggu air berkah jamasan Gong Kiai Pradah dan gunungan yang biasanya dihadirkan. Meskipun, dua gunungan itu tak ada dan menjadi pembeda.
FAJAR RAHMAD ALI WARDANA, Sutojayan, Radar Blitar
Terik matahari di Alun-Alun Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, terasa membakar kulit. Namun, ribuan pasang mata tak bergeming sedikit pun. Mereka menunggu air berkah jamasan Gong Kiai Pradah dan gunungan yang biasanya dihadirkan. Meskipun, dua gunungan itu tak ada dan menjadi pembeda.
FAJAR RAHMAD ALI WARDANA, Sutojayan, Radar Blitar

 
BLITAR KAWENTAR
– Ribuan warga tetap memadati Alun-Alun Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, saat pelaksanaan Jamasan Gong Kiai Pradah 2026, Kamis (27/8).

Teriknya matahari tak menyurutkan antusiasme masyarakat mengikuti ritual budaya yang digelar setiap bulan Maulid tersebut.

Ada yang berbeda dalam Jamasan Gong Kiai Pradah tahun ini. Dua gunungan tumpeng yang biasanya menjadi bagian acara tidak terlihat.

 Gamelan secara langsung dan tari macanan yang biasanya mengawali kegiatan juga tidak digelar seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Baca Juga: Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan di JMO, Cukup Beberapa Langkah dari HP

Meski kemasan acara lebih sederhana, antusiasme warga tetap tinggi. Mereka masih berbondong-bondong datang untuk menyaksikan prosesi sekaligus mendapatkan air jamasan Gong Kiai Pradah yang dipercaya membawa berkah.

Suasana Jamasan Berbeda

Dinda Ummu Hidayah, warga Kecamatan Gandusari, menjadi salah satu masyarakat yang hadir dalam ritual tersebut. Ia datang untuk mendampingi anak-anak sanggar tari yang dibawanya tampil.

Bagi Dinda, gelaran kali ini terasa berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Ia mengaku sudah tiga kali tidak pernah absen menghadiri ritual sakral yang digelar setiap bulan Maulid tersebut.

Baca Juga: Keyword Utama: Bubuk Matcha Masterista Judul: Masterista Kenalkan 4 Varian Bubuk Matcha, Cost per S

“Tahun ini sedikit berbeda. Tidak ada gamelan live. Tidak ada gunungan tumpeng yang ditata pada kiri dan kanan pendapa maupun tari macanan yang ada sebelum acara dimulai,” tuturnya. 

Tidak hadirnya gunungan menjadi salah satu hal yang paling terasa bagi masyarakat. Biasanya, dua gunungan berisi hasil bumi Kecamatan Sutojayan menjadi salah satu bagian yang ditunggu warga setelah prosesi jamasan.

Namun tahun ini warga hanya terpaku di balik barikade setelah mengetahui dua gunungan tersebut tidak tersedia. 

Air Jamasan Tetap Jadi Magnet

Meski sejumlah bagian acara ditiadakan, daya tarik utama ritual tetap bertahan. Ribuan warga tetap berjejal di sekitar area jamasan untuk mengikuti prosesi penyiraman pusaka Gong Kiai Pradah.

Baca Juga: Asal-usul Lodoyo Blitar dan Misteri Gong Kyai Pradah, Pusaka Sakral yang Masih Dijamas Setiap Tahun

Bagi sebagian warga, air bekas jamasan menjadi bagian yang paling dinanti. Dinda mengatakan masyarakat mempercayai air tersebut membawa berkah di bulan Maulid, termasuk dipercaya membuat awet muda dan memperlancar rezeki. 

Bupati Blitar Rijanto menyebut ritual tersebut merupakan wujud kekompakan dan keguyuban masyarakat yang telah berlangsung sejak lama. Tradisi itu, menurutnya, terus dilestarikan hingga pemerintah daerah ikut mengambil peran dalam menjaga keberlangsungannya.

“Acara tradisi siraman Gong Kiai Pradah untuk tahun 2026 yang jatuh pada Kamis Legi ini merupakan tradisi yang awalnya murni muncul dari keguyuban masyarakat,” ungkap Rijanto. 

Warisan Budaya hingga Penggerak UMKM

Rijanto juga mengingatkan bahwa Gong Kiai Pradah telah mendapatkan predikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari pemerintah pusat. Status tersebut menjadi salah satu dasar untuk terus menjaga kelestarian tradisi tersebut.

Ia juga menegaskan kesederhanaan pelaksanaan tahun ini tidak semata-mata berkaitan dengan efisiensi anggaran. Menurut Rijanto, kegiatan kebudayaan justru memiliki dampak terhadap masyarakat, termasuk sektor ekonomi.

Hal tersebut terlihat dari aktivitas pedagang di sekitar Alun-Alun Lodoyo. Ribuan pengunjung membuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ikut mendapatkan dampak positif.

“Alhamdulillah tadi kita lihat langsung, UMKM laris manis. Pedagang-pedagang tersenyum puas,” pungkas Rijanto. (*/c1/ady)

Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan
sutojayan blitar UMKM jamasan gong kyai pradah gong kiai pradah