BLITAR KAWENTAR – Di tengah menjamurnya penggunaan payung modern, kerajinan payung kertas masih berusaha mempertahankan eksistensinya. Salah satunya dilakukan Asbani, 70, warga Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.
Di usia senja, Asbani tetap telaten membuat payung kertas dengan tangan. Mulai dari merangkai belahan bambu, memasangnya pada batang kayu, hingga menempelkan kertas sebagai penutup dilakukan sendiri.
Kerajinan tersebut bukan sekadar menjadi sumber penghasilan, tetapi juga menjadi keterampilan lama yang ingin terus dipertahankan.
Baca Juga: Truk Sound Karnaval Oleng Hantam Tembok Sekolah di Maliran, Kerugian Capai Rp 5 Juta
Asbani sebenarnya bukan orang baru dalam dunia payung kertas. Dia telah mengenal kerajinan tersebut sejak puluhan tahun lalu.
Berbekal belajar secara otodidak, Asbani perlahan mampu membuat payung kertas sendiri hingga mendapat pesanan dalam jumlah besar dari luar kota.
Pada masa kejayaannya, pesanan yang datang cukup banyak. Bahkan, Asbani sempat meminta bantuan beberapa tetangganya untuk ikut mengerjakan produksi.
Baca Juga: Hilux Hybrid 2026 Belum Masuk Indonesia, Hilux Terbaru Masih Andalkan Diesel
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung selamanya. Pelanggan tetap dari Sidoarjo tiba-tiba berhenti memesan. Pesanan yang semakin sepi membuat produksi akhirnya terhenti total.
Asbani kemudian meninggalkan kerajinan payung kertas selama sekitar 10 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dia mencoba berbagai pekerjaan lain. Mulai dari beternak jangkrik hingga memelihara kambing dan sapi.
Kerajinan yang telah ditekuni puluhan tahun tersebut seolah menjadi bagian dari masa lalu. Minimnya permintaan membuat Asbani tidak memiliki alasan kuat untuk terus memproduksinya.
Sekitar empat tahun lalu, Asbani kembali membuat payung kertas. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu momentum yang mendorong dirinya kembali menekuni kerajinan tersebut.
Meski jumlah pesanan tidak lagi sebesar masa lalu, perlahan permintaan mulai datang. Bahkan, hingga sekarang Asbani masih menerima pesanan secara rutin.
Pesanan tersebut datang dari berbagai daerah. Selain dari Blitar, payung kertas buatannya dipesan pelanggan dari Tulungagung, Kediri, hingga Surabaya.
Baca Juga: MAN 3 Blitar Siap Hadapi Persaingan di Tulungagung, Bahlil Mini Soccer Jadi Debut Perdana
Dalam sebulan, Asbani rata-rata mampu menjual sekitar 350 payung kertas. Harga yang dipatok relatif terjangkau, yakni Rp 10 ribu untuk setiap buah.
Pembelinya pun berasal dari berbagai kalangan dengan kebutuhan berbeda.
Salah satunya para guru yang menggunakan payung kertas sebagai bahan tugas mewarnai bagi siswa. Selain itu, ada pula pelanggan yang memanfaatkan payung tersebut untuk kebutuhan di makam.
Baca Juga: Yamaha Aerox E Resmi Jadi Motor Listrik, Bawa Desain Aerox Gen 2 dan Jarak Tempuh 106 Km
Kini, seluruh proses pembuatan payung kertas dilakukan Asbani seorang diri.
Dia mengerjakan semua tahapan produksi, mulai dari menyiapkan bahan, membuat rangka, hingga memasang kertas sebagai penutup.
Untuk menekan biaya produksi, Asbani memanfaatkan sebagian bahan kayu yang berasal dari limbah perajin. Sementara bagian rangka dibuat menggunakan belahan bambu.
Baca Juga: Yamaha Aerox E Dibekali 2 Baterai Modular, Bagasinya Jadi Lebih Sempit
Potongan bambu tersebut kemudian dirangkai menggunakan benang hingga membentuk rangka payung.
Setelah rangka selesai, bambu dipasang pada batang kayu yang telah dibentuk memanjang sebagai gagang.
Tahap terakhir adalah memasang kertas pada rangka. Kertas ditempel menggunakan lem hingga seluruh bagian rangka tertutup dan membentuk payung yang siap digunakan.
Baca Juga: Bocoran iPhone 18 Ungkap Upgrade Kamera dan A20 Pro, iPhone Ultra Jadi Kejutan
Meski prosesnya terlihat sederhana, pembuatan payung kertas membutuhkan ketelatenan. Setiap bagian harus dirangkai dengan tepat agar menghasilkan bentuk yang sesuai
Bagi Asbani, membuat payung kertas kini bukan hanya persoalan mendapatkan uang. Kerajinan tersebut telah menjadi keterampilan yang melekat dalam kehidupannya selama puluhan tahun.
Dia menyadari peminat payung kertas kini tidak sebanyak dahulu. Namun, selama masih ada pesanan, Asbani memilih untuk terus memproduksinya.
Baca Juga: Rilis Terbaru Oppo Agustus 2026, Reno 16 Pro 5G Jadi Pilihan Tertinggi
Baginya, bertahan membuat payung kertas juga berarti menjaga keterampilan tradisional agar tidak benar-benar hilang ditelan zaman.
Di tengah perubahan kebutuhan masyarakat dan munculnya berbagai produk modern, Asbani tetap mempertahankan kerajinan yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Kini, dari rumahnya di Kelurahan Bendo, Asbani kembali merangkai bambu dan menempelkan kertas satu demi satu.
Baca Juga: Rilis Terbaru Samsung 2026, 8 HP Galaxy A Series dari Rp1 Jutaan
Selama masih ada pelanggan yang membutuhkan, dia akan terus membuat payung kertas dengan keterampilan yang dipelajarinya secara otodidak sejak puluhan tahun silam. (*/c1/ady)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari