BLITAR KAWENTAR – Tiga proyek strategis di Kota Blitar dipastikan tidak dapat rampung pada 2026. Ketiga proyek tersebut yakni revitalisasi Sirkuit Sentul, pengadaan insinerator, serta pengadaan lahan untuk perluasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngegong.
Penundaan tersebut dilakukan karena waktu yang tersisa pada tahun ini dinilai tidak cukup untuk menyelesaikan seluruh tahapan hingga pekerjaan fisik. Pemerintah Kota Blitar memilih melanjutkan pekerjaan tersebut pada 2027 dengan tetap menuntaskan proses perencanaan pada akhir tahun ini.
Kepala Badan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Blitar Heru Eko Pramono mengatakan, salah satu proyek yang mengalami penundaan adalah revitalisasi Sirkuit Sentul di Kecamatan Kepanjenkidul. Proyek tersebut memiliki pagu anggaran sekitar Rp 8 miliar.
Baca Juga: Update Desil Kota Blitar Melonjak, BPS Layani hingga 50 Warga Sehari, Didominasi Lansia
Menurut Heru, proses perencanaan hingga pekerjaan fisik revitalisasi Sirkuit Sentul membutuhkan waktu sekitar 11 bulan. Sementara waktu yang tersedia pada 2026 sudah tidak memungkinkan untuk menuntaskan seluruh tahapan tersebut.
“Proses perencanaan sampai pekerjaan fisik revitalisasi Sirkuit Sentul ini butuh waktu sekitar 11 bulan. Sementara waktu yang tersisa tahun ini sudah tidak memungkinkan, sehingga pekerjaan fisiknya kami tunda ke tahun depan,” ujar Heru.
Heru menjelaskan, keterbatasan waktu tersebut juga dipengaruhi proses koordinasi dengan aparat penegak hukum (APH) yang mendampingi pelaksanaan proyek strategis Kota Blitar.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Kota Blitar Tak Lagi Terima MBG dari Penyedia Luar, Bakal Masak Sendiri
Koordinasi tersebut menyita waktu hingga sekitar empat bulan. Akibatnya, durasi yang tersedia untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi semakin terbatas.
“Waktu empat bulan itu habis untuk koordinasi dengan APH yang mendampingi proyek-proyek strategis kita. Otomatis sisa waktunya sudah tidak cukup untuk konstruksi,” katanya.
Selain persoalan waktu, pembangunan Sirkuit Sentul juga tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Proyek tersebut memiliki spesifikasi teknis khusus karena diperuntukkan bagi kegiatan olahraga motor.
Heru menegaskan, konstruksi sirkuit berbeda dengan bangunan pada umumnya. Karena itu, pekerjaan harus memenuhi standar teknis yang telah ditentukan agar hasil pembangunan tidak dilakukan sekadar mengejar penyelesaian.
“Karena konstruksi sirkuit ini beda dengan bangunan lain, spesifikasinya khusus untuk event olahraga motor. Jadi tidak bisa asal jadi, harus benar-benar sesuai standar,” ujarnya.
Baca Juga: Panahan Kota Blitar Bidik Borong Medali di POPDA Jatim 2026, Latihan Hampir Setiap Hari
Meski pekerjaan fisik revitalisasi Sirkuit Sentul ditunda hingga 2027, Pemkot Blitar memastikan proses perencanaannya tetap dilakukan tahun ini.
Langkah tersebut dilakukan agar ketika memasuki awal 2027, tahapan pekerjaan fisik dapat segera dimulai tanpa kembali terkendala persoalan administratif.
Heru berharap seluruh persiapan dapat diselesaikan sebelum pergantian tahun sehingga pembangunan fisik tidak perlu menunggu proses administrasi kembali.
Baca Juga: PSHT Kota Blitar Boyong 19 Medali di Kejurnas, Dua Pesilat Raih Predikat Terbaik
“Untuk perencanaan tetap kami kerjakan tahun ini. Harapannya begitu masuk awal 2027, persiapan pekerjaan fisik sudah bisa langsung jalan tanpa ada kendala administratif lagi,” ungkapnya.
Selain revitalisasi Sirkuit Sentul, dua proyek strategis lain yang juga ditunda adalah pengadaan insinerator dan pengadaan lahan untuk perluasan TPA Ngegong.
Dengan penundaan tersebut, ketiga proyek strategis itu tidak akan direalisasikan secara fisik pada 2026. Pemerintah daerah akan mempersiapkan tahapan yang diperlukan agar pelaksanaan dapat dilanjutkan pada tahun berikutnya.
Heru kembali menegaskan, terdapat tiga proyek strategis Kota Blitar yang ditunda tahun ini. Ketiganya yakni pengadaan lahan TPA, pengadaan insinerator, dan revitalisasi Sirkuit Sentul.
Penundaan tersebut diharapkan tidak menghambat pelaksanaan pembangunan dalam jangka panjang. Dengan perencanaan yang diselesaikan lebih awal, pekerjaan fisik diharapkan dapat berjalan lebih optimal ketika memasuki 2027. (bud/ady)
Editor : Azahra Meilisani Salma