EDUKASI SEJAK DINI: Sejumlah siswa SD mendengarkan penjelasan dari dokter hewan tentang bahaya penyakir rabies.
BLITAR KAWENTAR – Edukasi rabies menjadi salah satu cara untuk membangun kesadaran anak sejak dini terhadap bahaya penyakit yang dapat ditularkan melalui hewan. Hal tersebut dilakukan Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Timur VIII bersama PDHI Blitar melalui kegiatan edukasi bagi siswa sekolah dasar.
Kegiatan berlangsung di SD Laboratory Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar. Suasana kelas berlangsung meriah dengan antusiasme para siswa yang mengikuti penjelasan mengenai profesi dokter hewan hingga bahaya penyakit rabies.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian menyambut peringatan Hari Rabies Sedunia atau World Rabies Day yang diperingati setiap 28 September. Materi disampaikan secara interaktif agar mudah dipahami oleh para siswa.
Baca Juga: Kakek 73 Tahun di Ponggok Diduga Cabuli Remaja Disabilitas, Terancam 12 Tahun Penjara
Kenalkan Rabies Sejak Usia Sekolah
Sekretaris PDHI Jatim 8, drh. Tika Fitria Wulan Afrilia, M.Si., mengatakan edukasi sejak usia sekolah dasar memiliki peran penting dalam membangun kesadaran terhadap bahaya penyakit zoonosis.
Selain memberikan pemahaman mengenai rabies, kegiatan tersebut juga memperkenalkan profesi dokter hewan kepada anak-anak. Materi komunikasi, informasi, dan edukasi atau KIE disampaikan melalui presentasi visual yang dikemas secara dialogis.
Cara tersebut membuat suasana sosialisasi menjadi lebih hidup. Para siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan mengenai dunia hewan dan profesi yang berkaitan dengan kesehatan satwa.
Baca Juga: Sopir Pribadi Diduga Kuras Uang Majikan Rp23 Juta, Polisi Amankan Pelaku
Siswa Belajar Mengenali Hewan Pembawa Rabies
Dalam kegiatan tersebut, siswa mendapatkan penjelasan mengenai Hewan Pembawa Rabies (HPR). Mereka juga dikenalkan dengan langkah penanganan pertolongan pertama ketika seseorang terkena gigitan hewan.
Selain itu, PDHI memberikan pemahaman mengenai pentingnya vaksinasi rabies pada hewan peliharaan. Vaksinasi secara berkala menjadi salah satu materi yang ditekankan dalam edukasi tersebut.
Antusiasme siswa terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul selama kegiatan. Materi mengenai hewan dan dunia peternakan menarik perhatian para murid.
Bahkan, ketika ditanya mengenai cita-cita, hampir seluruh siswa mengangkat tangan dan menyatakan keinginan menjadi dokter hewan.
Tika menilai antusiasme tersebut menjadi modal awal yang baik untuk mengenalkan profesi medis veteriner kepada generasi muda.
Baca Juga: 214 Kepala Sekolah di Kabupaten Blitar Jalani Seleksi untuk Periode Kedua
Tak Hanya Rabies, Siswa Dikenalkan Gizi
Kegiatan edukasi tidak berhenti pada pembahasan rabies. PDHI Jatim 8 dan PDHI MVI Blitar juga menyelipkan gerakan Gemar Makan Telur dan Gemar Minum Susu.
Gerakan tersebut dilakukan dengan membagikan asupan bergizi kepada anak-anak. Tujuannya memberikan pemahaman secara langsung mengenai pentingnya pemenuhan protein hewani bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh.
Dengan demikian, kegiatan yang digelar menjelang Hari Rabies Sedunia tersebut memiliki beberapa pesan sekaligus. Anak-anak diajak mengenal kesehatan hewan, memahami langkah pencegahan rabies, sekaligus mengetahui pentingnya asupan protein hewani.
Baca Juga: 550 Atlet Ramaikan Kejurprov IBCA MMA di Blitar, Jadi Ajang Jaring Bibit Menuju Kejurnas
Harapannya Tumbuh Jadi Generasi Penyayang Satwa
PDHI berharap edukasi rabies yang diberikan sejak bangku sekolah dasar dapat membentuk pemahaman yang lebih baik mengenai hubungan manusia dan hewan.
Anak-anak tidak hanya diharapkan mampu mengenali risiko rabies, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap satwa dan lingkungan di sekitarnya.
“Harapan kami anak-anak memiliki pemahaman utuh mengenai kesehatan hewan, langkah preventif rabies, pemenuhan gizi protein, sekaligus menginspirasi mereka untuk mencintai profesi dokter hewan sejak dini,” pungkas Tika.
Baca Juga: WNA di Wilayah Kerja Imigrasi Blitar Turun Drastis, Mayoritas Pegang ITAP
Melalui kegiatan edukasi yang dikemas interaktif tersebut, pengetahuan mengenai rabies diharapkan tidak berhenti di ruang kelas. Para siswa dapat membawa pemahaman yang diperoleh ke lingkungan keluarga sehingga kesadaran mengenai kesehatan hewan dan pencegahan rabies semakin luas. (jar/sub)
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan