BLITAR KAWENTAR – Kawanan pencuri membobol tembok penggilingan padi milik Tarwiyono, 67, warga Desa Slorok, Kecamatan Garum. Pelaku diperkirakan berjumlah empat orang dan berhasil membawa hampir 1 ton beras dari gudang penyimpanan.
Aksi pencurian tersebut diperkirakan terjadi pada Senin (14/9) dini hari sekitar pukul 01.30 WIB. Saat kejadian, rumah utama milik Tarwiyono dalam kondisi sepi. Dia bersama keluarganya sedang menginap di rumah kedua yang berada di Desa Sidodadi.
Pencurian beras di Garum itu baru diketahui setelah kondisi gudang diperiksa. Tembok bangunan penggilingan padi ditemukan dalam keadaan jebol. Puluhan karung beras yang sebelumnya tersimpan di dalam gudang juga telah raib dibawa kawanan pencuri.
Baca Juga: Reforma Agraria Blitar Belum Tuntas, Petani dan Mahasiswa Desak Pemkab Buka Progres GTRA
Suara Sound Hajatan Samarkan Aksi Pencurian
Tarwiyono menduga para pelaku menjalankan aksinya sekitar pukul 01.30 WIB. Pada waktu tersebut, lingkungan sekitar Desa Slorok sedang menggelar hajatan pernikahan yang menggunakan sound system dengan suara cukup keras.
Kondisi tersebut diduga membuat suara ketika pelaku merusak dan menjebol tembok tidak terdengar warga. Para pencuri kemudian memanfaatkan situasi untuk masuk ke area gudang penggilingan.
Setelah berhasil membuat lubang pada dinding, pelaku mengambil karung-karung beras yang tersimpan di dalam gudang. Karung tersebut kemudian dilempar keluar melalui lubang tembok yang telah dijebol.
Baca Juga: Elim Tyu Samba Siap Hadapi Musorkotlub KONI Kota Blitar Hari Ini
Beras yang sudah berada di luar selanjutnya diduga diangkut menggunakan mobil pikap. Kendaraan tersebut disebut terparkir di pinggir jalan utama sehingga memudahkan pelaku membawa hasil curian meninggalkan lokasi.
Pelaku Diduga Berjumlah Empat Orang
Tarwiyono memperkirakan aksi tersebut dilakukan sedikitnya empat orang. Dugaan itu muncul karena jumlah beras yang diangkut mencapai hampir 1 ton dan kondisi jalur keluar dari gudang cukup sempit.
Menurutnya, jika akses keluar lebih luas, stok beras yang berada di dalam gudang bahkan berpotensi dibawa seluruhnya. Saat pencurian terjadi, total stok beras yang tersimpan mencapai sekitar 2,5 ton.
Pemilik penggilingan mengaku terkejut ketika mengetahui tembok gudang telah jebol. Terlebih, puluhan karung beras yang tersimpan di dalam bangunan sudah tidak berada di tempatnya.
Akibat kejadian tersebut, Tarwiyono mengalami kerugian sekitar Rp12 juta. Namun, dia memilih tidak melaporkan peristiwa pencurian tersebut kepada aparat kepolisian.
Baca Juga: Mohammad Trijanto Mundur dari Bursa Ketua KONI Kota Blitar, 14 Cabor Sempat Beri Dukungan
Pilih Pasang CCTV daripada Tempuh Proses Hukum
Tarwiyono mengatakan keputusan tersebut diambil karena mempertimbangkan biaya serta proses hukum yang menurutnya dapat menyita waktu dan tenaga. Dia memilih menerima kejadian itu sebagai musibah sekaligus menjadikannya bahan evaluasi untuk meningkatkan keamanan usaha.
Langkah pertama yang dilakukan adalah memperketat pengawasan di sekitar area penggilingan padi. Seluruh sudut gudang kini dilengkapi kamera pengawas atau CCTV.
Pemasangan kamera pengawas tersebut diharapkan dapat mencegah kejadian serupa terulang sekaligus membantu memantau aktivitas di sekitar penggilingan.
Tarwiyono menyebut pencurian dengan modus menjebol dinding baru pertama kali terjadi di lingkungan tersebut. Karena itu, dia ingin sistem keamanan diperkuat agar gudang penyimpanan beras tidak kembali menjadi sasaran pencurian.
Kejadian ini menjadi evaluasi bagi pemilik usaha untuk meningkatkan pengamanan, terutama pada gudang yang menyimpan stok dalam jumlah besar. Selain pemasangan CCTV, pengawasan terhadap akses keluar-masuk area penggilingan juga menjadi perhatian setelah aksi pencurian tersebut. (jar/c1/sub)
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan