BLITAR KAWENTAR – Distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Blitar kembali menjadi perhatian setelah sebanyak 17 satuan pendidikan dan 5 Integrasi Layanan Primer (ILP) untuk sementara tidak menerima makanan tersebut.
Penghentian distribusi terjadi setelah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cik Ditiro di Kelurahan Sentul mendapat suspend sementara.
Kebijakan itu dilakukan menyusul munculnya dugaan kasus keracunan di SLB Negeri 1 Kota Blitar dan SMP Al Muhafizhoh.
Baca Juga: Modifikasi Daihatsu Xenia Ini Bikin Pangling, Tampil Racing Style dengan Pelek Ring 18
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Blitar Titik Nur Azizah mengatakan, SPPG Cik Ditiro merupakan penyalur MBG ke dua sekolah yang siswanya sempat mengalami keluhan mual dan muntah.
Suspend terhadap SPPG Cik Ditiro membuat distribusi MBG ke seluruh sasaran yang selama ini dilayani ikut terdampak.
Total terdapat 17 satuan pendidikan dan 5 ILP yang sementara tidak mendapatkan distribusi makanan bergizi gratis.
Baca Juga: Tes Parameter KONI Kabupaten Blitar Diikuti 277 Atlet, Jadi Bekal Persiapan Porprov Jatim 2027
Titik menegaskan, penghentian distribusi tersebut bersifat sementara. Saat ini proses evaluasi dan tindak lanjut masih dilakukan oleh pihak terkait.
“Setelah SPPG Cik Ditiro di-suspend, secara keseluruhan terdapat sekitar 17 satuan pendidikan dan 5 ILP yang sementara tidak mendapatkan distribusi MBG,” ujar Titik.
Kondisi tersebut terjadi setelah muncul keluhan dari sejumlah siswa di dua sekolah penerima MBG, yakni SLB Negeri 1 Kota Blitar dan SMP Al Muhafizhoh.
Sebelumnya, Ketua Satgas MBG Kota Blitar Tri Iman Prasetyono menyebut SPPG yang mendistribusikan makanan ke dua sekolah tersebut disuspend selama dua pekan. Kebijakan itu mulai diberlakukan sejak Kamis (17/9).
Meski keluhan mual dan muntah dialami sejumlah siswa, pemerintah belum menyimpulkan penyebab pasti kondisi tersebut.
Titik mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel menu MBG yang didistribusikan pada Rabu (16/9). Hasil pemeriksaan tersebut diharapkan dapat membantu memastikan penyebab munculnya keluhan pada siswa.
Baca Juga: Elim Tyu Samba Kembali Dipanggil Polrestabes Makassar, Masih Berstatus Saksi
Sementara itu, untuk kelompok penerima manfaat kategori B3 yang terdiri atas ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, hingga kini belum ada laporan munculnya gejala serupa.
Tri Iman juga menegaskan bahwa penyebab keluhan siswa belum dapat dipastikan. Menurutnya, setiap orang memiliki sensitivitas tubuh yang berbeda terhadap bahan makanan tertentu.
Selain proses pemeriksaan terhadap sampel makanan, evaluasi juga menjadi bagian dari tindak lanjut suspend SPPG Cik Ditiro.
Baca Juga: Sound Karnaval di Blitar Dibatasi hingga Pukul 23.00 WIB, Polisi Perketat Izin dan Ambang Kebisingan
Tri Iman mengatakan, satu SPPG dapat melayani hingga sekitar 2.000 penerima. Karena itu, proses penyediaan makanan perlu dilakukan dengan kehati-hatian.
Untuk sementara, distribusi MBG kepada 17 satuan pendidikan dan 5 ILP yang menjadi sasaran SPPG Cik Ditiro dihentikan.
Pemerintah masih menunggu proses evaluasi dan hasil pemeriksaan sebelum menentukan tindak lanjut berikutnya.
Baca Juga: 6 TV Samsung Dipamerkan, Harga Mulai Rp2,49 Juta hingga Rp8,8 Juta
Hingga hasil uji laboratorium keluar, belum ada kesimpulan mengenai penyebab keluhan mual dan muntah yang dialami siswa di dua sekolah tersebut. (bud/c1/ady)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari