Hasil Uji Laboratorium MBG Diduga Tercemar Bakteri, Dinkes Blitar Soroti Kepatuhan Penjamah Makanan

M. Luki Azhari • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 12:30 WIB
Plt Kepala Dinkes Kota Blitar Dissie Laksmonowati Arlini saat memberikan keterangan terkait hasil uji laboratorium sampel MBG yang ditemukan mengandung cemaran bakteri.
Plt Kepala Dinkes Kota Blitar Dissie Laksmonowati Arlini saat memberikan keterangan terkait hasil uji laboratorium sampel MBG yang ditemukan mengandung cemaran bakteri.

BLITAR KAWENTAR - Hasil uji laboratorium terhadap paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi siswa hingga memicu dugaan keracunan di Kota Blitar akhirnya terungkap. Sampel makanan yang diperiksa Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya ditemukan mengandung cemaran mikrobiologi berupa bakteri yang diduga berasal dari tubuh manusia.

Temuan tersebut berkaitan dengan insiden yang terjadi pada Rabu (16/9). Sebanyak 22 siswa dari SLB Negeri 1 Kota Blitar dan SMP Al Muhafidzoh mengalami gejala mual serta sakit perut setelah mengonsumsi paket MBG dari SPPG Cik Ditiro.

Dinkes Soroti Penggunaan APD

Baca Juga: Cegah Insiden Keracunan, Polisi Sidak SPPG di Kademangan dan Talun untuk Pastikan MBG Aman

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar, Dissie Laksmonowati Arlini, mengatakan adanya dugaan kontaminasi bakteri tersebut kemungkinan berkaitan dengan ketidakpatuhan penjamah makanan atau food handler dalam menggunakan alat pelindung diri (APD).

Menurut Dissie, cemaran mikrobiologi dapat muncul apabila kebersihan penjamah makanan tidak terjaga dengan baik. Salah satu kemungkinan yang menjadi perhatian adalah adanya penjamah makanan yang melepas APD ketika proses memasak berlangsung.

Selain itu, kebersihan lingkungan dapur juga menjadi faktor yang turut diperhatikan. Kondisi tersebut dinilai dapat membuka peluang mikroorganisme dari tubuh manusia berpindah ke makanan yang sedang diproses.

Baca Juga: 17 Sekolah dan 5 ILP di Kota Blitar Tak Terima MBG, SPPG Cik Ditiro Disuspend Usai Siswa Keluhkan Mu

Dinkes Kota Blitar memastikan hasil pemeriksaan memang menunjukkan adanya cemaran bakteri mikrobiologi. Namun, pihaknya tidak mengungkap secara spesifik jenis bakteri yang ditemukan dalam sampel makanan.

Dissie menjelaskan, jenis bakteri dapat berkaitan dengan berbagai kemungkinan sumber kontaminasi. Karena itu, Dinkes memilih tidak menyebutkan nama bakteri yang teridentifikasi dari hasil pemeriksaan tersebut.

Bukan Hasil Pemeriksaan Arsenik

Temuan bakteri tersebut sekaligus menjadi klarifikasi atas isu kandungan bahan kimia berbahaya berupa arsenik yang sebelumnya sempat mencuat setelah adanya indikasi awal dari Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Blitar.

Indikasi tersebut sebelumnya dikaitkan dengan salah satu menu MBG, yakni rolade telur. Paket makanan yang diterima siswa saat itu terdiri atas nasi putih, rolade telur, tumis kacang kapri, tahu kuning, serta potongan melon.

Namun, Dinkes Kota Blitar menegaskan bahwa pihaknya tidak melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap parameter arsenik. Pengujian lebih difokuskan pada pemeriksaan mikrobiologi berdasarkan rentang waktu munculnya gejala yang dialami para siswa.

Dengan demikian, hasil pemeriksaan yang disampaikan Dinkes merupakan temuan terkait cemaran mikrobiologi, bukan hasil pengujian terhadap kandungan arsenik.

Baca Juga: Izin Dapur MBG Jadi Atensi Utama, Pemkot Blitar Kawal Ketat 30 SPPG agar Sesuai Regulasi

SPPG Cik Ditiro Disanksi 20 Hari

Pasca kejadian tersebut, BGN telah memberikan sanksi penghentian sementara atau suspend terhadap operasional SPPG Cik Ditiro. Penghentian operasional diberlakukan selama 20 hari sejak Kamis (17/9).

Dinkes Kota Blitar juga memastikan pengawasan terhadap pengelola SPPG akan diperketat. Pembinaan akan dilakukan secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan kembali terhadap standar operasional sebelum kegiatan pengolahan makanan berjalan seperti semula.

Baca Juga: Dinkes Blitar Kirim Sampel Makanan MBG ke Laboratorium, Ada Nasi hingga Melon

Dissie menyebut langkah tersebut menjadi bagian dari evaluasi untuk memastikan seluruh proses pengelolaan makanan memenuhi standar yang ditetapkan.

Evaluasi tidak hanya menyasar proses memasak, tetapi juga mencakup tata cara distribusi makanan. Dinkes akan melakukan review terhadap pengelolaan makanan sebagai bagian dari upaya mencegah kejadian serupa kembali terjadi.

Sementara itu, 22 siswa yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi MBG sebelumnya telah mendapatkan penanganan medis. Seluruh korban menjalani rawat jalan dan diperbolehkan pulang tanpa harus menjalani perawatan inap di rumah sakit.

Editor : Regina Gavin Agata
MBG Blitar SPPG Cik Ditiro MBG diduga tercemar bakteri BGN dinkes kota blitar