Petani Muda Ini Dulu Buruh Pabrik, Kini Raup Rp 2 Juta Seminggu dari Kemangi

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 14:00 WIB
MENJADI PETANI MUDA – Azis Subasri berdiri di lahan pertanian yang dikelolanya di Desa Tawangrejo, Kecamatan Wonodadi. Berawal dari buruh pabrik, kini Azis menekuni pertanian dan mengembangkan tanaman kemangi.
MENJADI PETANI MUDA – Azis Subasri berdiri di lahan pertanian yang dikelolanya di Desa Tawangrejo, Kecamatan Wonodadi. Berawal dari buruh pabrik, kini Azis menekuni pertanian dan mengembangkan tanaman kemangi.

BLITAR KAWENTAR - Menjadi petani muda bukanlah cita-cita yang sejak awal ada dalam benak Azis Subasri. Pemuda asal Desa Tawangrejo, Kecamatan Wonodadi, tersebut sebelumnya hanya bekerja sebagai buruh pengupas kelapa di sebuah pabrik. Namun, perubahan teknologi membuatnya harus memikirkan kembali masa depan.

Kini, petani muda berusia 27 tahun itu justru mampu mengembangkan lahan pertanian dan meraih pendapatan dari tanaman kemangi. Dari lahan seluas 560 meter persegi, Azis bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 2 juta hanya dalam waktu satu minggu panen.

Perjalanan Azis menjadi petani muda bermula ketika pekerjaan lamanya mulai tergerus teknologi. Sebelum pabrik mendatangkan mesin pengupas otomatis, Azis terbiasa mengupas hingga 1.000 butir kelapa setiap hari. Pekerjaan tersebut dilakukan untuk mendapatkan penghasilan dari sistem borongan.

Baca Juga: Petani hingga Masyarakat Adat Masuk Kelompok Prioritas Reforma Agraria

Namun, kondisi berubah setelah mesin pengupas otomatis digunakan. Kebutuhan tenaga kerja manual berkurang sehingga pendapatan Azis ikut merosot. Dia hanya mampu mengupas sekitar 300 hingga 500 butir kelapa dengan upah sekitar Rp 85 ribu per hari.

Berawal dari Keraguan Mengolah Lahan

Situasi tersebut membuat Azis mulai berpikir mengenai pekerjaan yang dapat memberikan penghasilan sekaligus prospek untuk masa depan. Kesempatan datang dari calon mertuanya yang menawarkan lahan kosong di kawasan Padangan Balong untuk dikelola.

Baca Juga: Reforma Agraria Blitar Belum Tuntas, Petani dan Mahasiswa Desak Pemkab Buka Progres GTRA

Tawaran itu awalnya tidak langsung diterima. Azis mengaku belum memiliki pengalaman bertani. Bahkan, memegang cangkul pun belum pernah dilakukannya.

"Awalnya ragu dan takut letih dan panas. Saya ini modalnya nol putul, pegang cangkul saja belum pernah," ujar Azis.

Keraguan tersebut perlahan hilang setelah calon mertuanya memberikan dorongan. Satu kalimat yang disampaikan kepadanya menjadi pemicu untuk keluar dari zona nyaman.

"Masak kamu mau ikut kerja sama orang terus sampai tua?" demikian kalimat yang membuat Azis berpikir lebih jauh mengenai masa depannya.

Dengan bimbingan calon mertuanya, Azis kemudian belajar bertani dari nol. Mulai dari mencangkul dan mengolah tanah, memasang mulsa plastik, menanam bibit, hingga mempelajari pemupukan dilakukan secara bertahap.

Pilih Kemangi dan Mulai Kembangkan Pasar

Setelah memahami dasar-dasar pertanian, Azis memilih tanaman kemangi sebagai komoditas yang dikembangkan. Pilihan tersebut kemudian memberikan hasil yang membuatnya semakin yakin untuk menekuni dunia pertanian.

Baca Juga: Cara Menanam Bawang Merah 2 Bulan Panen, Petani Ungkap Kunci Perawatannya

Dari lahan seluas 560 meter persegi, hasil panen kemangi mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp 2 juta dalam satu minggu. Hasil tersebut menjadi capaian penting bagi Azis karena nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan penghasilan yang didapat ketika masih bekerja di pabrik kelapa.

Keberhasilan tersebut membuat Azis semakin serius mengembangkan pertanian. Dia melihat lahan pertanian tidak hanya sebagai tempat untuk bercocok tanam, tetapi juga sebagai peluang usaha yang dapat dikembangkan apabila dikelola secara tekun.

Bagi Azis, usia muda bukan alasan untuk menjauh dari sektor pertanian. Justru, anak muda dinilai memiliki kesempatan untuk melihat pertanian sebagai usaha yang dapat memberikan kemandirian ekonomi.

"Pertanian itu bukan soal pekerjaan kasar atau kotor, melainkan peluang usaha yang menjanjikan kemandirian. Anak muda tidak boleh takut memulai dari nol dan jangan malu turun ke sawah," pungkasnya.

Editor : Regina Gavin Agata
Azis Subasri tanaman kemangi pertanian petani muda Wonodadi