UM Terapkan Drying Cabinet di UMKM Sablon Blitar, Pengeringan Screen Kini Hanya 10 Menit

Yanu Aribowo • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 10:28 WIB
LEBIH CEPAT KERING: Teknologi tepat guna Drying Cabinet Screen Room sangat membantu UMKM SIMPLE Sablon di Desa Duren, Kecamatan Talun.
LEBIH CEPAT KERING: Teknologi tepat guna Drying Cabinet Screen Room sangat membantu UMKM SIMPLE Sablon di Desa Duren, Kecamatan Talun.

BLITAR KAWENTAR – Universitas Negeri Malang (UM) menerapkan teknologi Drying Cabinet Screen Room untuk meningkatkan efisiensi produksi UMKM SIMPLE Sablon di Desa Duren, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Inovasi ini mampu memangkas waktu pengeringan screen sablon dari sebelumnya dua hingga empat jam menjadi sekitar 10 menit dalam satu siklus pengeringan.

Teknologi tepat guna tersebut menjadi solusi bagi pelaku usaha sablon yang selama ini menghadapi kendala waktu dalam proses pengeringan screen. Dengan kapasitas hingga 10 screen sekaligus, alat ini diharapkan mampu mempercepat tahapan produksi, meningkatkan kualitas afdruk, serta membantu UMKM memenuhi pesanan pelanggan dengan lebih efisien.

Penerapan Drying Cabinet Screen Room dilakukan melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun 2026 yang dilaksanakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Vokasi UM. Program ini mengusung judul “Implementasi Drying Cabinet Screen Room sebagai Teknologi Tepat Guna untuk Peningkatan Kualitas Afdruk dan Efisiensi Waktu Produksi pada UMKM Jasa Sablon”.

Baca Juga: ADD 2027 Kabupaten Blitar Masih Dinamis, Kades Tuntut Pagu Rp 144 Miliar Dikembalikan

Sebelum menggunakan teknologi tersebut, SIMPLE Sablon masih mengandalkan metode pengeringan konvensional. Proses ini membutuhkan waktu relatif lama, yakni sekitar dua jam dan dalam kondisi tertentu dapat mencapai empat jam.

Lamanya proses pengeringan menjadi salah satu kendala yang memengaruhi kelancaran produksi. Screen yang belum siap digunakan dapat memperlambat tahapan afdruk dan berpotensi menimbulkan antrean pekerjaan. Selain itu, metode konvensional lebih sulit diprediksi karena dapat dipengaruhi kondisi lingkungan, seperti kelembapan dan debu.

Melalui penerapan Drying Cabinet Screen Room, waktu pengeringan kini dapat dipangkas menjadi sekitar 10 menit untuk satu siklus. Alat tersebut dirancang untuk menampung hingga 10 screen dalam satu kali proses, sehingga pengeringan dapat dilakukan secara bersamaan.

Baca Juga: Baru 22 Produk IKM di Kota Blitar Diurus Sertifikat Halal, Padahal Kewajiban Sudah Berlaku

Percepatan ini membuka peluang bagi SIMPLE Sablon untuk menyiapkan lebih banyak screen dalam waktu lebih singkat. Dengan demikian, proses afdruk dapat berjalan lebih lancar dan waktu tunggu dalam produksi berpotensi berkurang.

Drying Cabinet Screen Room dirancang menggunakan sistem pengering tertutup yang dilengkapi elemen pemanas, pengontrol suhu, rak bertingkat, serta sirkulasi udara internal.

Sistem tersebut memanfaatkan prinsip konveksi paksa untuk membantu mendistribusikan panas secara lebih merata di dalam kabinet. Dengan dukungan komponen tersebut, proses pengeringan dapat berlangsung dalam ruang yang lebih terkendali dibandingkan metode konvensional.

Kapasitas pengeringan hingga 10 screen sekaligus juga menjadi salah satu keunggulan alat. Teknologi ini diharapkan dapat mendukung kebutuhan produksi UMKM jasa sablon, terutama dalam mempercepat persiapan screen sebelum digunakan pada tahapan berikutnya.

Program pengabdian masyarakat ini tidak sebatas menyediakan teknologi bagi mitra. Tim pelaksana juga melakukan instalasi, uji fungsi, penyusunan Prosedur Operasional Standar (POS), pelatihan pengoperasian dan perawatan, serta pendampingan penerapan alat di lingkungan produksi.

Pendampingan tersebut bertujuan memastikan teknologi dapat digunakan sesuai prosedur dan dirawat secara tepat. Aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) turut menjadi perhatian dalam penerapan teknologi di tempat usaha.

Baca Juga: Razia Miras di Blitar Sita 259 Botol, Tempat Karaoke dan Hotel Disisir, Tes Urine Pengunjung Negatif

Ketua Tim Pengabdian, Dr. Windra Irdianto, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini mengintegrasikan penerapan teknologi tepat guna dengan penyusunan standar operasional dan penguatan K3.

“Kami berharap alat ini dapat meningkatkan efisiensi kerja, keselamatan operator, kapasitas layanan, dan profesionalitas usaha mitra,” ujarnya.

Tim pengabdian diketuai Windra Irdianto dengan anggota M. Ihwanudin dan Eddy Rudiyanto. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa, yakni Juwan Duanta Putra dan Mukhammad Abdurrohman Jayakarta.

Baca Juga: GMB Ancam Turun Jalan Lagi soal Limbah PT Greenfields di Blitar, Begini Respon Bupati

Mitra program, SIMPLE Sablon, merupakan usaha milik Samsi Handoko yang berlokasi di Jalan Riau, Desa Duren, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar.

Penerapan Drying Cabinet Screen Room diharapkan memberikan dampak langsung terhadap produktivitas usaha. Waktu pengeringan yang lebih singkat dapat membantu pelaku UMKM mengatur alur kerja, mempercepat persiapan produksi, dan meningkatkan kemampuan dalam merespons pesanan pelanggan.

Program ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Baca Juga: Percasi Kota Blitar Batal Bawa Sengketa ke BAKI Terkait Hibah KONI Kota Belum Cair, Ini Alasannya

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan UMKM tersebut menjadi salah satu upaya membawa hasil pengembangan teknologi agar dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat. Melalui pendampingan dan penerapan teknologi tepat guna, inovasi diharapkan tidak berhenti pada pengembangan alat, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas, kualitas produksi, dan keberlanjutan usaha. (*/c1/ynu)

Editor : Azahra Meilisani Salma
UM Drying Cabinet Screen Room UMKM sablon Blitar SIMPLE Sablon teknologi tepat guna