BLITAR - Siapa sangka klub sebesar Liverpool FC lahir dari sebuah rasa sakit hati dan dendam pribadi? Bagi para Kopites, sebutan fans setianya, slogan You’ll Never Walk Alone bukan sekadar lagu, melainkan identitas yang lahir dari perjalanan panjang penuh darah dan air mata. Memahami sejarah Liverpool FC berarti menyelami dinamika perseteruan satu kota yang mengubah peta sepak bola dunia selamanya.
Semua bermula pada tahun 1885 ketika seorang pengusaha lokal, John Houlding, membeli Stadion Anfield. Kala itu, Anfield adalah markas Everton FC. Namun, konflik internal mengenai biaya sewa yang mahal dan monopoli bisnis membuat direksi Everton gerah. Puncaknya pada 1892, Everton memutuskan angkat kaki ke Goodison Park, meninggalkan Houlding dengan stadion kosong tanpa tim. Tak mau rugi, Houlding akhirnya mendirikan klubnya sendiri pada 3 Juni 1892: Liverpool Football Club.
Era Kebangkitan: Dari Team of Mac Hingga Bill Shankly
Di awal pembentukannya, Liverpool sempat ditolak masuk ke Football League karena dianggap tidak bisa mewakili satu kota bersama Everton. Namun, prestasi di kompetisi lokal membuktikan kelas mereka. Di bawah manajer pertama, John McKenna, Liverpool mengandalkan mayoritas pemain asal Skotlandia yang dijuluki "Team of Mac". Hanya dalam waktu singkat, mereka berhasil menembus kasta tertinggi dan merengkuh gelar Liga pertama pada musim 1900-1901.
Kejayaan sejati dalam sejarah Liverpool FC baru benar-benar dimulai saat kedatangan Bill Shankly pada 1959. Shankly adalah sosok yang mengubah mentalitas klub dari tim divisi dua yang terseok-seok menjadi kekuatan yang ditakuti. Ia merenovasi sistem kepelatihan, menciptakan "Boot Room" yang legendaris, dan meletakkan filosofi sepak bola yang menjadi fondasi kesuksesan para penerusnya seperti Bob Paisley dan Joe Fagan.
Tragedi yang Mengubah Segalanya: Heysel dan Hillsborough
Namun, sejarah tak selamanya berisi trofi. Liverpool pernah melewati masa-masa paling kelam dalam sepak bola Inggris. Tragedi Heysel pada 1985 di Belgia mengakibatkan 39 nyawa melayang dan membuat klub-klub Inggris dibekukan dari kompetisi Eropa selama lima tahun. Luka ini semakin diperparah dengan Tragedi Hillsborough pada 1989 yang merenggut 97 nyawa suporter setianya akibat kegagalan prosedur keamanan stadion.
Rentetan tragedi ini sering dianggap sebagai awal dari "kutukan" puasa gelar liga selama 30 tahun. Meski sempat meraih trofi Liga Champions yang dramatis di Istanbul pada 2005, trofi Premier League seolah menjauh dari pelukan Anfield. Kejatuhan dan kegagalan demi kegagalan ini justru semakin memperkuat militansi para Kopites yang tetap setia bernyanyi di tribun Spion Kop, membuktikan bahwa identitas klub ini jauh lebih besar daripada sekadar deretan trofi di lemari pajangan.
Akhir Puasa Gelar dan Era Modern di Bawah Jurgen Klopp
Penantian panjang tiga dekade itu akhirnya tuntas di tangan Jurgen Klopp. Dengan gaya bermain Gegenpressing yang atraktif, Klopp membawa Liverpool kembali ke puncak dunia dengan menjuarai Liga Champions 2019 dan akhirnya memutus dahaga gelar Premier League pada musim 2019/2020. Transformasi ini membuktikan bahwa semangat John Houlding dan filosofi Bill Shankly masih mengalir deras di nadi setiap pemain yang mengenakan jersey merah.
Kini, di bawah arahan manajer baru seperti Arne Slot, Liverpool terus berusaha menjaga konsistensi di papan atas. Mempelajari sejarah Liverpool FC mengajarkan kita bahwa sebuah klub sepak bola bukan hanya tentang kemenangan, tapi tentang bagaimana sebuah komunitas bangkit dari pengkhianatan, melewati masa kelam tragedi, dan kembali berdiri tegak sebagai raja. Bagi Liverpool, masa lalu adalah guru, dan masa depan adalah panggung untuk terus membuktikan bahwa mereka memang tidak akan pernah berjalan sendirian. (*)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly