BLITAR - Menjalani ibadah puasa sebagai kelompok minoritas tidak mudah. Hal itu dirasakan Wika Triswati warga Kelurahan/ Kecamatan Nglegok yang menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) di Taiwan sejak 5 tahun lalu.
Sebagai pekerja pabrik dia harus mengantongi kurma dan air putih untuk membatalkan buka.
Wika menceritakan Ramadan di Taiwan luar biasa. Berbeda dengan di Indonesia, di negara tersebut jumlah muslim sangat sedikit.
Bahkan mendengar suara adzan saja hanya ketika weekend. Sebab, Sabtu dan Minggu menjadi hari libur kerja, termasuk bagi umat muslim.
“Saya harus lihat jam untuk melihat waktu sahur dan buka puasa. Selain itu, terbantu juga ada lembaga Islam yang menerbitkan jadwal salat selama Ramadan. Lembaganya itu Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Taiwan,” ujar Wika.
Dia mengaku sering berbuka pada malam hari karena harus lembur hingga pukul 21.00.
Sebab, jam istirahat sore tidak sampai waktu Magrib, yakni pukul 17.20 hingga 18.00 waktu Taiwan. Sebab Magrib di Taiwan rata-rata pukul 18.10.
Wika biasa mengantongi kurma dan air putih untuk membatalkan puasa. Sebab sering diminta untuk lembur hingga malam hari.
“Syukurnya pabrik memberi waktu 10 menit untuk ibadah salat. Bagiku pemerintah Taiwan masih toleransi kepada kaum muslim yang memang minoritas karena memberikan waktu untuk ibadah di tengah kerja,” ungkapnya.
Perempuan 26 tahun ini hanya merasakan ngabuburit dan menemui bagi-bagi takjil ketika weekend.
Banyak PMI yang melakukan bagi-bagi takjil di depan stasiun atau fasilitas umum lainnya.
Sedang untuk salat Tarawih, hampir sama dengan di Indonesia, yakni memakai 20 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir.
Namun tidak ada pengeras suara dengan lantuan pengajian sebagai tanda menjelang salat Tarawih.
Sehingga otomatis setelah berbuka, langsung menuju musala untuk melakukan salat sunah tersebut.
Wika setiap hari sahur pukul 04.30. Dia butuh waktu 30 menit untuk sahur, karena imsak di Taiwan pukul 05.00. Setelah itu, dia siap-siap untuk berangkat kerja.
“Sebagai kaum muslim lebih enak memasak sendiri, dengan membeli bahan-bahan di mini market.
Makanan restoran di Taiwan harus hati-hati karena banyak yang dicampur dengan daging babi dan alkohol, sehingga kurang direkomendasikan untuk orang Islam,” pungkasnya. (jar/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila