BLITAR - Burung hantu kini jadi idola Yuwan Irmanto. Karakteristik yang membuatnya tertarik adalah jiwa predator dalam sikap yang jinak. Yuwan berkeinginan breeding burung dares untuk membantu sektor pertanian.
Yuwan Irmanto sudah sekira satu dekade bersahabat dengan burung hantu alias dares. Warga Jalan Gunojoyo Barat, Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan Kota Blitar ini tertarik dengan karakteristik dares sejak masih duduk di bangku SMP. Seiring berjalannya waktu, dia memutuskan bergabung dengan komunitas Perkumpulan Dares Blitar (Perdata).
Kali pertama tertarik dengan dares yakni pada 2016 lalu. Menurutnya, burung yang masuk golongan hewan nokturnal ini punya bentuk fisik yang unik, lucu, serta jinak.
Di balik karakternya yang jinak, dares adalah pemburu mangsa hama pertanian. Saat malam tiba, tak jarang dares memantau mangsanya dari ketinggian, lalu menerkam tikus atau hewan kecil lainnya.
"Awal punya dulu itu saya beli di pasar hewan. Tapi saat itu entah karena sakit, akhirnya mati. Beli lagi lepas, lalu hilang juga pernah. Akhirnya ikut komunitas dan ada yang mengarahkan," ujarnya, Minggu (24/3).
Aktivitas Yuwan memang bertambah sejak beberapa tahun terakhir. Selain sibuk dengan rutinitas pekerjaannya, dia juga harus merawat burung hantu miliknya. Untungnya, kata dia, perawatan burung ini tidak terlalu rumit.
"Dibanding hewan peliharaan lainnya, burung hantu cukup mudah. Pakan sekali sehari, tidak minum, dan mandi seminggu sekali. Untuk makannya, saya kasih burung-burung kecil," ucapnya.
Kini pemuda 21 tahun ini telah memiliki sekitar tiga burung hantu. Dua di antaranya berjenis Tyto alba.
Burung jenis inilah yang langsung berkontribusi terhadap sektor pertanian. Burung tersebut memburu hama pertanian saat malam hari dan jadi solusi petani di sejumlah daerah.
Dia ingin suatu saat memiliki kesempatan membentuk pusat penangkaran atau beternak dares. Tujuannya untuk dibagikan kepada para petani di Bumi Bung Karno sebagai media pembasmi hama di sawah.
Baca Juga: Empat Kelurahan di Blitar Belum Punya Pustu, Dinkes Sebut Tahun Depan Tiap Kelurahan Harus Ada Satu
Tyto alba cukup dilepasliarkan di alam bebas dan bisa mendeteksi mangsa di persawahan. "Kalau rumah-rumahan yang di tengah sawah biasanya bukan untuk menetap, tapi untuk tempat singgah saja saat berburu," lanjutnya.
Namun, harapan membuat peternakan dares tidak semudah mengedipkan mata. Perlu modal besar untuk membuat pusat pembudidayaan itu.
Seperti perlunya ketersediaan lahan, biaya pangan, serta kandang yang ukurannya cukup besar. Cita-cita ini pula yang kini masih dirintis oleh Yuwan dan komunitasnya, Perdata.
"Betul, karena memang perlu modal besar, akhirnya ya harus sabar dulu. Kepenginnya kembangkan jenis Tyto alba, kalau sudah sukses pengin kasih ke petani," paparnya.
Dia meminta petani atau masyarakat tidak memburu burung tersebut. Sebab, ada jenis-jenis yang dilindungi negara lantaran terancam punah.
"Kalau saya pribadi, ini ada Tyto alba, itu yang sementara ini tidak dilindungi. Harapannya biar bisa lebih banyak populasinya, biar semakin bermanfaat," tandasnya.
Kini, dia terus mengembangkan usahanya membentuk budi daya dares. Meski sempat dianggap sebelah mata, dia yakin bahwa hasil ternaknya nanti dapat bermanfaat untuk petani. (*/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila